Berdoa merupakan salah satu ibadah kita kepada Allah Ta’ala yang amat penting dalam kehidupan manusia. Memanjatkan doa kepada Allah adalah bentuk ibadah yang agung yang mendekatkan hamba dengan Rabb-nya. Doa tidak boleh ditujukan kepada makhluk dan selain-Nya, seperti malaikat, jin, orang mati, dan sebagainya. Sudah selayaknya kita sebagai hamba untuk senantiasa memanjatkan doa kita hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 2969)

Sikap seorang hamba untuk senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala dan menghindarkan diri dari meminta-minta kepada manusia adalah bentuk kesempurnaan tauhid (Al Wafi’ fii Syarhil Arba’in An-Nawawiyah, Dr. Musthafa Dieb Al Bugha & Muhyiddin Mistu). Dengan berdoa kepada Allah, berarti seorang hamba telah mengetahui dan meyakini sifat rububiyah dan uluhiyah bagi-Nya.

Pada hakikatnya, semua urusan kita berada di tangan Allah dan kita adalah hamba yang sangat lemah. Kita akan selalu membutuhkan pertolongan dari-Nya untuk menghadapi permasalahan hidup, mulai dari masalah kecil sampai dengan masalah yang besar. Hendaknya kita sebagai seorang muslim hanya mengadukan semua urusah kepada-Nya. Selain itu, doa juga merupakan salah satu obat yang bisa memberikan manfaat dan mencegah keburukan yang akan menimpa kita (Ad Daa’ wa ad Dawaa’, Ibnul Qayyim).

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

“Sesungguhnya doa itu bermanfaat (memberi kebaikan) untuk yang sudah turun (terjadi) dan yang belum terjadi. Karena itu, perbanyaklah berdoa, wahai hamba Allah.” (HR. Tirmidzi No. 3548)

Di dalam Alquran, ada banyak ayat mengenai perintah untuk berdoa kepada Allah Ta’ala. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang bersikap sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(QS. Ghafir: 60)

Makna “menyembah-Ku” dalam ayat tersebut adalah berdoa kepada Allah (Tafsir Ibnu Katsir). Berdasarkan ayat tersebut Allah menyebut bahwa orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya termasuk sebagai orang-orang yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan marah kepadanya.” (HR. Ibnu Majah, no. 3827, at Tirmidzi no. 3373, Ahmad no. 9719)

Oleh karenanya, Allah sangat suka kepada hamba-Nya yang senantiasa berdoa kepada-Nya. Tidak hanya sampai di situ, Allah juga menjanjikan atas pengabulan doa dari siapa saja yang memohon kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Ayat di atas menjelaskan mengenai kedekatan Allah dengan para hamba dan janji-Nya atas pengabulan doa bagi siapa saja yang berdoa kepada-Nya. Apabila kita perhatikan, ayat tersebut terletak di antara ayat-ayat mengenai puasa. Hal ini menunjukkan pentingnya berdoa ketika berpuasa dan pengaruh yang ada padanya (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar).

Oleh karena itu, di bulan Ramadan yang mulia ini, hendaknya kita memanfaatkan waktu kita untuk memperbanyak doa kepada Allah. Kita mengadukan segala masalah dan hajat kita kepada-Nya terutama di waktu-waktu yang mustajab. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa di dalam berdoa hendaknya kita berupaya mencari waktu-waktu atau keadaan yang mulia (Ihya Ulumiddin, Imam Al Ghazali).

Secara umum, setiap hari Allah Ta’ala memberikan kita waktu dan kondisi di mana berdoa pada kesempatan tersebut akan lebih dikabulkan. Adapun di bulan Ramadan, Allah memberikan tambahan waktu khusus dikabulkannya doa. Ibnul Qayyim dalam Ad Daa’ wa Ad Dawaa’ menyebutkan bahwa doa akan terkabul apabila dilakukan dengan hadirnya hati, konsentrasi, merendah dan khusyu di hadapan Allah, serta bertepatan dengan waktu-waktu mustajab.

 

Berikut ini adalah kami menyebutkan beberapa waktu dan kondisi di mana doa akan lebih mustajab.

1. Sepertiga malam terakhir (waktu sahur)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Pada setiap malam, Allah Ta’ala turun ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman:’ Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan aku ampuni.” (HR. Bukhari 1145 dan Muslim 758)

2. Ketika azan dikumandangkan dan turun hujan

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)

3. Di antara azan dan iqamat

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqomah, maka berdoalah (di waktu tersebut).” (HR. Ahmad)

4. Ketika sujud dalam salat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاء.

Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim)

5. Di akhir salat atau setelah zikir dalam salat wajib

قيل يا رسولَ اللهِ! أيُّ الدعاءِ أسمَعُ؟ قال جوفُ الليلِ الآخرِ ودبرُ الصلواتِ المكتوباتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling didengar?” Beliau menjawab, “Di akhir malam dan di akhir salat wajib.” (HR. Tirmidzi No. 3499 dan An-Nasa’i No. 9936)

6. Di hari Jumat setelah asar

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah asar.” (HR. Abu Daud, no. 1048; An-Nasa’i, no. 1390)

7. Ketika berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad)

8. Ketika berbuka puasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika dia berbuka, doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752)

 

Ditulis pada Jumat, 23 April 2021/11 Ramadhan 1441 H


Penulis: Ahmad Fathan Hidayatullah