Klik yang Berkah: Menavigasi Iman di Era Algoritma
Dahulu, memelihara keimanan berkaitan erat dengan pengendalian perilaku di ranah publik atau pembatasan lisan saat berinteraksi. Namun, kini medan perjuangan iman telah beralih ke dalam genggaman. Di balik keheningan kamar, ibu jari kita mampu membangun timbunan pahala atau justru menggali jurang dosa hanya melalui satu sentuhan layar.
Fenomena Pergeseran Komunikasi
Transformasi cara manusia berkomunikasi dari lisan (tatap muka) ke digital (tulisan/ketikan) kini menjadi kebutuhan primer, tetapi sering kali mengabaikan adab. Pergeseran cara bertukar kabar dari bersua langsung ke ranah digital, lewat perantara layar, telah memengaruhi struktur sosial masyarakat. Dulu, etiket pergaulan dipandu oleh kaidah interaksi tatap muka yang dilandasi kepedulian. Namun, kini percakapan terbatas pada tulisan dan tampilan layar yang minim rasa keakraban. Ketiadaan pandangan langsung terhadap lawan bicara kerap membuat seseorang abai terhadap kewajiban untuk bersikap santun. Kilatnya pengiriman pesan sering kali mengalahkan pertimbangan akal sehat dan nurani.
Realita Informatika (Algoritma dan Viralitas)
Kita harus menyadari bahwa media sosial bukanlah ruang yang netral. Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian kita (engagement), bukan untuk memastikan kebenaran. Sistem ini cenderung mempromosikan konten yang memicu emosi kuat, seperti kemarahan, kebencian, atau kontroversi, karena hal itulah yang membuat orang terus mengklik. Tanpa sadar, kita sering terjebak dalam filter bubble, sebuah ruang gema yang hanya memperkuat bias kita sendiri dan membuat kita sulit menerima kebenaran dari pihak lain.
Perspektif Dakwah (Konsep Hifzhul Lisan di Dunia Maya)
Dalam Islam, menjaga lisan adalah pilar keselamatan. Di era digital, perintah ini harus direinterpretasi pula menjadi “Hifzul Banan” (menjaga jempol/ketikan).
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).
Setiap karakter yang kita unggah, setiap komentar pedas yang kita kirim, dan setiap share yang kita lakukan memiliki bobot pertanggungjawaban yang sama seperti ucapan lisan. Di hadapan Tuhan, status Facebook atau cuitan di X (Twitter) adalah saksi yang tidak bisa dihapus.
Literasi Digital sebagai Perwujudan Tabayyun
Bagi kita sebagai seorang muslim serta sebagai mahasiswa Informatika, literasi digital bukan hanya sekadar jago menulis coding atau cara kerja suatu aplikasi, tetapi juga cara kita menjaga iman kita dalam menggunakan jempol sebagai perwujudan dari sifat Tabayyun.
Di tengah penyebaran hoaks yang merajalela, menyebarkan informasi yang dapat menyesatkan banyak orang merupakan dosa. Dengan Tabayyun, kita dapat menahan jempol untuk membagikannya atau menerimanya secara mentah-mentah dengan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Dengan begitu, kita dapat menaati perintah Allah sesuai dengan Surah Al-Hujurat ayat 6 yang berisi:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Jejak Digital sebagai Amal Jariyah
Jejak digital tidak akan pernah hilang, selama kita hidup. Apa pun yang kita cuit di X (Twitter), entah itu mengetik sesuatu yang buruk maupun yang baik, menulis ujaran kebencian di Instagram, atau mendoakan hal-hal yang baik di kolom komentar Youtube, semua hal tersebut akan kita pertanggungjawabkan kelak.
Kita bisa saja melupakannya setelah bertahun-tahun, bahkan bisa saja kita telah wafat. Namun, komentar-komentar akan terus ada di sana, menjadi saksi yang tidak akan pernah bisa dihapus, dan kelak akan menyebabkan kita mendapatkan dosa jariyah atau amal jariyah. Oleh sebab itu, kita diharuskan untuk selalu menulis sesuatu yang baik dan dapat menjadi amal jariyah bagi kita.
Referensi
- Dwi Taufan Hidayat. (2025, Mei 16). Mau mencari pahala atau dosa jariyah di media sosial? https://www.jakartamu.com/mau-mencari-pahala-atau-dosa-jariyah-di-media-sosial-16789
- Muhammad Faisal Reza, Novianto Ade Wahyudi, Muhammad Jembar Risky, Abul Mafaakhir. (2025). Etika Digital dalam Perspektif Pendidikan Islam: Kajian Konseptual Tentang Adab Berinteraksi di Dunia Maya. https://kasyafa.hellowpustaka.id/index.php/i/article/download/126/61
- Almuzhidul Mujhid. (2025, November 3). Bagaimana algoritma membentuk opini publik? https://socs.binus.ac.id/2025/11/03/bagaimana-algoritma-membentuk-opini-publik/
- Achmad Ruslan Afendi. (2026, Maret 9). Etika digital dalam cahaya Ramadhan: Melawan hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi. https://www.uinsi.ac.id/2026/03/09/etika-digital-dalam-cahaya-ramadhan-melawan-hoaks-ujaran-kebencian-dan-polarisasi/
- KPI UMY. (2026, Februari 10). Tahukah kamu? Prinsip tabayyun adalah dasar literasi media Islami. https://kpi.umy.ac.id/tahukah-kamu-prinsip-tabayyun-adalah-dasar-literasi-media-islami/
- BAZNAS. (2026, April 6). Bahaya dosa jariyah di media sosial, waspada jejak digital yang mengalirkan dosa tanpa henti. https://baznas.go.id/artikel-show/Bahaya-Dosa-Jariyah-di-Media-Sosial,-Waspada-Jejak-Digital-yang-Mengalirkan-Dosa-Tanpa-Henti/2327
Penulis (Mahasiswa S-1 Informatika UII):
- Muhammad Hafizh Hakim
- Janu Farras Saguna
- Hilmy Andrian Saputra



