,

GORMIN (GO ReMember agaIN) Aplikasi Sensor Berbasis Interkoneksi GPS Untuk Mencegah Barang Tertinggal

Tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) dibawah bimbingan Yusuf Aziz Amrullah, Ph.D. berhasil menemukan solusi yang tepat untuk mencegah dan mencari barang yang tertinggal. Inovasi baru dari Tim UII ini dinamakan “GORMIN” yang diketuai oleh Yunira Alifah Dzakiyah, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro angkatan 2016.

Melibatkan mahasiswa dari program studi dan angkatan yang sama, yaitu Muhammad Fachrurazi dan mahasiswa Teknik Informatika Mirotus Solekhah angkatan 2016. Yunira mengatakan bahwa penelitian ini berawal dari permasalahan yang terjadi setiap tahun, yaitu tewasnya anak di dalam mobil akibat kelalaian orang tua. Permasalahan kelalaian kini tidak dapat dianggap sebagai hal yang sepele, terlebih ketika berdampak pada kerugian yang tak ternilai. Menurut Muhammad Fachrurazi, salah satu anggota tim ini mengatakan bahwa GORMIN dapat menjadi solusi alternatif untuk masyarakat, terutama orangtua dalam mencegah anak-anaknya luput dari pengawasan.

Mirotus Solekhah menambahkan, alat ini dirancang dengan mengintegrasikan perangkat sensor dengan aplikasi smartphone yang dapat melakukan penelusuran lanjutan dengan menggunakan maps akan menjadi solusi yang lebih berguna, karena aplikasi dapat menunjukkan lokasi objek yang tertinggal pada maps. Penelitian dan pembuatan alat ini telah dilakukan oleh Tim UII selama kurang lebih 3 bulan dan tentu tidak akan berjalan lancar tanpa peran dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia yang telah memberikan bantuan dana melalui program PKM-KC.

,

Bakti Sosial di Desa Widodomartan, Yogyakarta

Acara Bakti Sosial yang dilaksanakan oleh Teknik Informatika FTI UII berjalan lancar pada Senin (20/5) lalu. Bakti sosial kali ini diadakan di Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Menurut Bapak Susilo Widodo, selaku Kepala Sie Pelayanan di Desa Widodomartani, terdapat 120 warga kurang mampu yang menjadi sasaran bakti sosial dari total 19 padukuhan di desa tersebut. Pendataan warga kurang mampu tersebut dilakukan oleh pihak desa dibantu oleh kepala dukuh masing-masing. Setelah itu dilaporkan kepada pihak Jurusan Teknik Informatika UII. Setelah disetujui, pihak desa akan menindaklanjuti berupa kupon sembako yang dibagikan ke warga yang kurang mampu. Pendistribusian kupon tersebut juga dibantu oleh pihak masing-masing dusun agar berjalan lancar.

Kuliah Umum Rekayasa Perangkat Lunak

Tepat pada 16 April lalu, Jurusan Teknik Informatika UII telah mengadakan kuliah umum. Acara ini merupakan acara khusus pengganti pertemuan ketujuh bagi mahasiswa-mahasiswa semester 2 mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Hal ini ditujukan agar para mahasiswa dapat mempunyai skill mengembangkan perangkat lunak dari tahap merancang hingga mengelola proyek.

Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 200 mahasiswa semester 2 serta para dosen. Pada kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Teknologi Industri itu, pihak jurusan mengundang Widy Agung Priasmoro, S.Kom., M.T. yang merupakan seorang praktisi rekayasa perangkat lunak.

Di dunia industri, pak Widy sudah sangat berpengalaman menerima proyek berskala kecil hingga besar dari berbagai perusahaan nasional. Dalam sesi kuliah umum tersebut, Pak Widy membagikan ilmunya secara urut dan menarik. Kecuali menyampaikan berbagai pengetahuan baru dalam mengelola tim serta pekerjaan yang dibebankan pada masing-masing, Pak Widy juga berbagi pengalamannya dalam berkomunikasi menghadapi klien.

Jika dianalogikan dengan proses membangun sebuah bangunan, pengetahuan dan pengalaman yang diberikan oleh Pak Widy seperti melengkapi bagian-bagian dari sebuah dinding yang masih berlubang karena kekurangan batu bata. Pak Widy memberikan bekal kepada para mahasiswa untuk siap menghadapi dunia industri selepas kuliah nanti, dengan mengkolaborasikan berbagai pengetahuan yang telah didapatkan para mahasiswa di dalam kelas.

Para mahasiswa yang hadir tampak sangat antusias dengan kuliah umum yang memperluas pengetahuan yang telah mereka dapat dari sesi-sesi perkuliahan di dalam kelas. Di akhir kuliah umum tersebut, para mahasiswa mengajukan pertanyaan. Saking antusiasnya, moderator bahkan harus membatasi jumlah penanya karena keterbatasan waktu.

Workshop Laravel – “How to be a Web Developer in Industries”

Tepat pada tanggal 16 April lalu, salah satu UKM jurusan teknik informatika UII yaitu INVOSE (Informatics Development of Website) mengadakan sebuah acara workshop berjudul “How to be a Web Developer in Industries”, yang mana merupakan bentuk kolaborasi bersama salah satu industri terkait yaitu PT. JAVAN CIPTA SOLUSI.

Acara dibuka oleh Hari Setiaji S.Kom., M.Eng. selaku dosen pembimbing INVOSE, dengan bercerita bagaimana perbedaan lulusan-lulusan UII dibanding lulusan-lulusan kampus lain di perusahaan-perusahaan besar sana. Yang sebenarnya bahwa level mahasiswa UII dengan kampus lain tidaklah berbeda jauh atau bisa dibilang sama saja. Namun yang membedakan adalah mahasiswa UII level “ngoprek” / curiosity-­nya sangatlah kurang. Rasa penasaran yang tinggi merupakan salah satu hal terpenting bahkan ketika mahasiswa sudah lulus, agar di dunia yang serba baru ini anda akan dapat cepat beradaptasi. Maka dari itu beliau berpesan untuk selalu meningkatkan rasa ingin tahunya. Sehingga ketika ada hal baru, rasa untuk “ngoprek” hal tersebut ada, lalu dapat memukan benang merah antara teknologi tersebut dengan teknologi yang lain.

Setelah itu, pada sesi pertama diisi oleh Mas Diky dari Pt. Javan Cipta Solusi yang mana juga alumni jurusan teknik informatika angkatan 2014. Pada sesi ini dijelaskan mengenai apa itu PT. Javan Cipta Solusi, apa saja yang dikerjakan dan juga bagaimana sistem kerja disana. Sebab beliau mengatakan bahwa rata-rata mahasiswa-mahasiswa yang baru pertama kali bekerja pada softwarehouse pasti akan bingung bagaimana seharusnya dia bekerja disana, tugasnya apa, durasi pengerjaannya, hingga distribusinya kemana. Hal ini disampaikan agar menjadi gambaran para peserta workshop mengenai bagaimana sistem kerja di PT Javan Cipta Solusi.

Lalu dilanjut sesi berikutnya yaitu sesi materi dan workshop. Peserta diberi materi tentang pengenalan dan penggunaan GIT, dan juga mengenali framework LARAVEL. Setelah semua materi telah dijelaskan lalu masuk ke sesi workshop dimana para peserta workshop diajari menggunakan Laravel untuk menciptakan website. Selama workshop berlangsung peserta dibimbing oleh orang-orang dari PT. Javan Cipta Solusi dalam penggunaan framework Laravel, sebab belum semua mahasiswa peserta workshop familiar terhadap teknologi tersebut.

Hingga akhirnya tepat jam 3 sore menandakan acara sudah selesai, acara ditutup kembali oleh Pak hari dengan 1 pesan yang disampaikan, bahwa UKM itu tentang mahasiswanya, idenya mahasiswa, aktifnya dari mahasiswa, dan rohnyapun berasal dari mahasiswa. INVOSE adalah UKM yang dibentuk dari kesadaran mahasiswa-mahasiswanya sendiri ketika mereka memiliki curiosity yang sama sehingga bisa “ngullik” lebih dalam bersama-sama. Maka dari itu butuh peran penting mahasiswa dalam menghidupkan sebuah UKM agar ilmunya lebih berkembang lagi.

Juga disebutkan dalam wawancara bersama Pak Bayu, salah satu founder PT Javan Cipta Solusi yang datang, bahwa gap antara akademisi dengan industri cukuplah besar, makanya sering kali para lulusan yang baru pertama kali bekerja akan kaget dengan apa kebutuhan industri yang harus ia punya. Dalam mengantisipasi hal tersebut, beliau menceritakan pengalamannya bahwa sejak tingkat 3 di kuliah sudah mulai melakukan proyek-proyek professional, sebab dari situlah ilmu-ilmu yang tidak bisa didapat dari asal belajar bisa didapatkan dan dapat menjadi dasar ketika masuk dunia industri.

,

Liputan Exchange Program “Sakura Science Plan 2019”

Tepat pada tanggal 24 Februari – 3 Maret 2019, Jurusan Informatika mengirimkan 2 mahasiswa terpilih untuk mengikuti exchange program “Sakura Science Plan 2019” di Jepang dengan Hokkaido Information University (HIU) sebagai host university-nya. Program ini merupakan bentuk kerja sama kedua kalinya antara UII dan HIU yang disponsori penuh oleh Japan Science & Technology (JST) setelah yang pertama dilaksanakan pada tahun 2017

Program Sakura Science dibuat dengan tujuan agar para peserta dapat mengenal bagaimana kemajuan sains dan teknologi di negara jepang melalui kegiatan-kegiatan bersama para pelaku akademisi di Host University Jepang dan institusi-institusi penelitian, dengan harapan partisipan pada program ini dapat menjadi “Future Science Leaders” di Asia dengan koneksi yang semakin meluas.

Di tahun 2019 ini, Teknik Informatika mengirimkan 2 perwakilan mahasiswanya yaitu Niky Ayu Lestari (2016) dan Yudhistira Adinugraha Hutabarat (2017) yang terpilih setelah melalui proses seleksi berkas maupun wawancara. Pada tanggal 24 Februari mereka berangkat bersama Ketua Jurusan Informatika, Hendrik, S.T., M.Eng., dan juga Ketua Program Studi S1 Jurusan Informatika, Dr. Raden Teduh Dirgahayu, S.T., M.Sc.

Program yang berlangsung selama 1 minggu ini, mengangkat tema “Space Utilization & It’s Communication Technology II”. Sesuai Tema tersebut, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukanpun berhubungan dengan Space Science dari sisi Teknologi Komunikasi yang digunakan. Di Informatika UII sendiri tema mengenai hal tersebut masih sangat jarang disinggung, bahkan di Indonesia sekalipun. Di sisi lain,  HIU sebagai tuan rumah sudah lama mendalami teknologi Informasi dan Komunikasi juga Teknologi mengenai Satelit.

Selama Program berlangsung bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya dari negara lain, yaitu Rajamangala University of Technology Thanyaburi (Thailand), University College Sedaya International (Malaysia), dan Nanjing University (China), Seluruh delegasi menjalani rangkaian acara ditemani oleh Mr. Keita Odajima dari International Exchange and International Students Support Division HIU, bersama dengan staff dan mahasiswa HIU lainnya.


“Pengalaman yang kami dapatkan di Sakura Science Plan ini benar-benar seru dan berharga. Selain kami bisa merasakan lembutnya salju dan bertemu teman-teman dari negara lain, kami juga mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan langsung dari pakarnya, bahkan banyak pengetahuan-pengetahuan baru dan terkini yang tengah dikembangkan disana. Kami tidak hanya belajar di kelas, kami diajak berpindah dari satu kota ke kota lain di Jepang, mengunjungi pusat riset luar angkasa JAXA, NICT, dan melihat bintang di malam hari dengan teropong raksasa yang menjadi salah satu teropong terbesar di Asia. Kami juga dikenalkan permainan curling yang berseluncur di atas es dan tentu saja mencicipi berbagai makanan Jepang, semuanya gratis. Semoga semakin banyak yang sadar keren dan luar biasanya program ini. Persiapkan diri mulai sekarang, siapa tahu tahun depan giliran kamu.” (Niky)

Di Hari pertama program, acara dilaksanakan di JAXA Tsukuba Space Center dengan kegiatan facility tour untuk melihat bagaimana isi dari agensi jepang yang berfokus pada pengembangan serta penggunaan Aerospace. Juga melakukan Space Dorm Tour, tur yang dipandu oleh staff dari Space Engineering Development co.,Ltd untuk mengenalkan hal-hal yang sudah diciptakan oleh JAXA seperti macam-macam satelit, Mesin dalam roket, hingga model baju astronot.

Di hari Kedua, seluruh delegasi mengikuti rangkaian kegiatan di NICT HQ (National Institute of Information and Communication Technology) berupa kelas mengenai pengenalan teknologi yang menggunakan satelit ciptaan jepang, Himawari, untuk mengetahui pergerakan Taifun. Selain itu dilakukan juga tur hasil-hasil riset NICT HQ seperti teknologi penentu waktu standar jepang (JST), pengolahan citra untuk mengolah peta suatu lokasi, aplikasi teknologi dari satelit Himawari, dan masih banyak lagi.

Lalu acara di hari-hari berikutnya dilanjutkan di Hokkaido Information University untuk menjalani berbagai kelas dan workshop mengenai teknologi space science. Seluruh kegiatan tersebut diisi oleh berbagai pengajar yang ahli dibidangnya mulai dari kelas mengenai perkembangan Space Science di Jepang, hingga penggunaan data-data yang telah diambil oleh satelit himawari. Seluruh rangkaian kegiatan di kelas berlangsung selama 2 hari dan dipandu oleh Prof. Watanabe sebagai promotor dari seluruh kegiatan Sakura Science pada waktu itu.

Di akhir kegiatan pembelajaran pada program ini, seluruh delegasi diajak mengunjungi Nayoro Observatory untuk melakukan berbagai aktivitas pembelajaran dengan fasilitas yang ada disana, seperti melihat berbagai macam teleskop dengan berbagai ukuran, screening film mengenai berbagai planet, hingga melakukan pengamatan bintang di malam hari.

“Banyak ilmu serta wawasan baru yang didapat selama menjalani program Sakura Science Plan ini, entah itu dari kegiatan-kegiatan yang dirancang seperti melihat betapa bagusnya institusi-institusi riset mereka hingga teknologi yang telah diciptakan, lalu mengenal bagaimana perbedaan kultur dari teman-teman delegasi negara–negara lainnya, hingga melihat kondisi bagaimana negara jepang itu sendiri, seperti sistem transportasinya, fasilitas publik, hingga sikap-sikap yang dimiliki oleh orang-orang jepang disana. Namun secara keseluruhan program ini berhasil menumbuhkan dorongan semangat belajar sebagai upaya untuk membuat kemajuan di Indonesia seperti halnya kemajuan sains dan teknologi yang ada di jepang” (Yudhis)

,

Semangat Produktivitas dalam Laboratorium Baru

Jurusan Teknik Informatika (TF) Universitas Islam Indonesia (UII) merenovasi dua buah ruang laboratorium di gedung Wahid Hasyim yang difungsikan sebagai gedung laboratorium Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII. Laboratorium tersebut diresmikan penggunaannya pada Selasa (4/3) lalu usai rapat mingguan dosen Informatika dengan mengundang para asisten dosen serta staff jurusan dari mahasiswa.

“Ruangan ini akan menjadi ruangan multifungsi yang kreatif, sehingga harapannya ruangan ini bisa digunakan untuk aktifitas perkuliahan, pembelajaran, utamanya teman-teman dari UKM, untuk dapat mengembangkan ide-idenya, keilmuannya, serta skillnya,” ujar Hendrik, S.T., M.Eng., selaku Ketua Jurusan TF UII ketika diwawancarai pada acara tumpengan dalam rangka peresmian laboratorium baru tersebut.

Dirinya juga menyampaikan bahwa renovasi tersebut bukanlah yang pertama dan terakhir, sebab akan ada beberapa ruangan lagi di bawah naungan TF UII yang akan direnovasi untuk menciptakan suasana kerja yang baru.

Ditemui pada kesempatan yang sama, Ridho Rahmadi, S.Kom., M.Sc. selaku kepala laboratorium memaparkan bahwa konsep yang digunakan dalam renovasi dua buah ruangan tersebut adalah konsep flexible sitting, sehingga meja dan kursi dapat diatur untuk berbagai skenario. Telah diuji coba, ruangan tersebut cukup untuk menampung sebanyak 40-an mahasiswa dalam skenario kelas dan 3 grup dalam skenario group meeting. Ruangan tersebut juga bisa difungsikan dengan konsep open space, yaitu dengan mengosongkan ruangan dari kursi serta meja.

“Tujuannya adalah untuk mengakomodari berbagai kepentingan, jadi bisa untuk kelas ataupun meeting,” ujar Ridho.

Ruangan lab tersebut dilengkapi dengan laptop untuk setiap kursi yang bisa digunakan ketika kegiatan kuliah berlangsung, serta sebuah smartboard yang memudahkan penyampaian materi kepada mahasiswa.

Ridho menambahkan, fasilitas yang tersedia di TF UII saat ini sudah sangat baik sekali, dirinya berharap bahwa dengan perkembangan tersebut, para mahasiswa juga dapat mengimbangi dengan prestasi serta karya-karya yang bermanfaat.

 

Temu Wali Mahasiswa 2018

 

Sabtu (23/2) lalu para wali mahasiswa angkatan 2018 dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) menghadiri acara temu wali mahasiswa yang diselenggarakan di Auditorium Kahar Muzakir, Kampus Terpadu UII. Wali mahasiswa dari dalam dan luar Jogja tampak menghadiri dan mengikuti rangkaian acara tersebut.

Acara tersebut merupakan inisiasi dari fakultas untuk mengenalkan sistem akademik yang dijalani oleh para mahasiswa kepada para orang tua.

Pada sesi pertama acara yang dimulai pukul 8 pagi hingga menjelang waktu dzuhur tersebut, para orang tua mendapat bimbingan untuk dapat memantau aktivitas akademik anak-anaknya dengan akses sebagai orang tua pada sistem akademik UII (Unisys). Dengan akses tersebut, para orang tua dapat melihat nilai dan kehadiran mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan. Dengan pengetahuan tersebut, diharapkan orang tua turut berpartisipasi untuk mendorong para mahasiswa agar aktif serta bertanggung jawab dalam menjalani perkuliahan.

Setelah jeda shalat dan makan siang, acara dilanjutkan dengan pengenalan profil jurusan. Para wali dibagi menjadi 5 kelompok sesuai dengan jurusan yang ditempuh oleh masing-masing mahasiswa untuk mengikuti pengarahan di 5 tempat yang berbeda.

Para wali dari mahasiswa Program Sarjana Teknik Informatika mengikuti pengarahan di Auditorium Kahar Muzakir. Acara tersebut dipandu oleh Sekretaris Program Studi Teknik Informatika – Program Sarjana, Bapak Dhomas Hatta Fudholi, Ph.D., yang juga merupakan dosen aktif di Teknik Informatika UII.

Pada sesi pengenalan jurusan tersebut, para orang tua mendapat penjelasan lebih lanjut mengenai visi dan misi dari jurusan, serta upaya yang dilakukan untuk mencapainya. Kecuali itu, dikenalkan juga Kurikulum 2016  Teknik Informatika yang saat ini dijalani oleh para mahasiswa.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab untuk para wali mengenai kegiatan akademik di lingkungan Teknik Informatika UII.

,

Sharing Pengalaman Program Joint Degree UII & NXU China

Pendaftaran Program Joint Degree UII & NXU China yang akan dimulai September 2019 telah dibuka. Tahun 2018 lalu, Informatika UII telah mengirimkan 4 mahasiswa untuk mengikuti Program Joint Degree ini. Keempatnya adalah mahasiswa S1 Angkatan 2016, yaitu: Agung Ramadhan Putra, Rizal Hamdan, Nabhan Faisal Bariz, dan Sabika Amalina.

Berikut adalah cuplikan wawancara dengan keempat mahasiswa tersebut:

1. Bisa tolong dijelaskan Mas/Mbak, program ini seperti apa?

Agung

Program Double Degree atau Program Gelar Ganda ini merupakan kerjasama antara kampus Universitas Islam Indonesia (UII) dan Nanjing Xiaozhuang University (NXU).
Program Double Degree ini 2+2 yang dimaksud adalah jika dalam pendidikan sarjana kita menempuh 4 tahun kuliah, dalam program ini kita melaksanakan pendidikan 2 tahun pertama di kampus Universitas Islam Indonesia dan 2 tahun berikutnya di kampus Nanjing Xiaozhuang University.

Rizal

Jadi double degree ini kan programnya atas dasar kerja sama Informatika UII sama NXU China, program ini istilahnya aku bakalan dapat gelar ganda dari UII satu dari NXU satu. Bentuk programnya sendiri aku diberi kesempatan 2 tahun kuliah di NXU dari semester 5 sampai semester 8 nanti.. Jadi semester 1-4-nya aku kuliah di UII, kurang lebih seperti itu.

Nabhan

Sebenernya double degree ini adalah kegiatan antar perguruan tinggi baik dalam negeri ataupun melalui kerjasama antara perguruan tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri. Sedangkan untuk program double degree di UII sendiri penyelenggaraannya melalui kampus dalam dan luar negeri yaitu NXU China. Jadi, 2 kampus tersebut secara bersama saling mengakui lulusannya.

2. Suka & duka yang dirasakan dalam menjalani program ini?

Agung

Suka dan duka, mungkin ada beberapa orang yang punya impian untuk belajar di luar negeri, apalagi dengan beasiswa dan belajarnya di negara-negara maju yang sangat kita butuhkan sebagai mahasiswa IT. Jadi saya pribadi sangat senang atas kesempatan yang diberikan untuk melanjutkan studi di luar negeri, di China. Bisa mendapat pengetahuan tentang teknologi-teknologi di sini dan belajar budaya dari negara lain, bisa merasakan secara langsung perbedaan negara Indonesia dengan negara China, selain itu bisa merasakan 4 musim yang tidak ada di Indonesia.
Untuk duka, karena kita muslim, di China itu muslim menjadi minoritas, kesulitan untuk beribadah dan makan makanan halal sedikit menjadi kendala, kadang khawatir kalau beli makanan/bahan makanan di supermarket, perlu dilihat dulu ada kandungan tidak halalnya atau tidak. Duka yang lain juga karena di sini tidak ada siapa-siapa selain teman-teman yang dari Indonesia, jadi kita harus berani keluar dari zona nyaman dan mencari teman baru.

Kalau pembelajarannya sejauh ini tidak ada masalah, jadi tidak ada duka. Suka-nya karena bisa melatih bahasa Inggris, hehe.
Dukanya juga aku ga bisa selalu open sosmed. Butuh akses pakai VPN, jadi ribet. Karena kita masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan Google, di China Google itu di-block. Jadi repot harus (pakai) VPN untuk akses. Sama halnya dengan sosial media seperti Facebook, Whatsapp, dan lain-lain. Harus akses produk dalam negeri, yaitu Baidu.

Rizal

Kalau suka-nya sih mungkin lebih ke feeling gimana rasanya kuliah di luar negeri aja sih… Terus kagum melihat bagaimana China memanfaatkan IT di kehidupan masyarakat mereka dan hampir semua golongan masyarakat menerima itu, baik tua nenek-nenek maupun yang muda.. Jadi kadang juga mikir, gimana ya bisa membuat Indonesia bisa gini dalam pemanfaatan IT-nya itu.

Rizal Hamdan

Kalau duka sih… Ya mungkin karena orang China-nya ga banyak pandai English jadi agak susah berkomunikasi sama orang lokal yaa… Jadi memang mau ga mau push diri sendiri untuk bisa Mandarin. Jadi kalau misalnya mau masuk klub (UKM) apa gitu.. Ya harus pandai-pandai dikit lah bahasa Mandarin.
Juga, di sana itu jarang banget ada discussion group di kelas jadi memang hampir setiap saat mendengarkan penjelasan dosen.. Kemudian terkait project semester juga mengerjakannya individu dan ga enaknya lagi suka dikabarinnya di ujung2 semester… ini bagian ga enaknya.
Ga tertekan sih, tapi ngerasa kurang seru aja kalau kurang group discussion. Jadi ujung-ujungnya diskusinya ya di dorm sama teman-teman sekamar aja. Untungnya juga teman sekamar suka diskusi juga orang-orangnya.
Kalau masalah project yang mepet-mepet banget itu ya satu-satunya mengatasinya ya dikerjain toh.. Pandai-pandai bagi waktu walau akhirnya akunya juga kewalahan siih..

Bika

Sukanya banyak pengalaman baru, belajar bahasa baru dan lingkungan baru, bisa lihat suatu sistem pendidikan yang baru juga. Belajar etos kerja dari warga Tiongkok. Dan ditambah lagi bisa sekaligus traveling dan melihat dunia Allah dari sisi yang berbeda.

Dukanya keterbatasan dalam berbahasa karena warga Tiongkok begitu menghargai bahasa ibunya jadi kita diwajibkan untuk bisa Mandarin, sedikit yang dapat berbahasa Inggris. Banyak situs yang diblokir termasuk Google dan harus pakai VPN. Semua insyaAllah bisa dilalui dan anggap sebagai challenges.

Nabhan

Di sana itu kita mungkin bakal kaget dengan sistemnya. Bukan dari segi budaya aja, tapi menyeluruh ke semua aspek mulai dari pengajaran, pendidikan, teknologi dan lain-lain… Pertama kali datang ke sana itu senang banget karena kita dapat pengalaman baru berinteraksi dengan masyarakat global. Terus banyak banget peluang bisnis yang bisa diterapkan di Indonesia. Melihat masyarakat dengan teknologi yang berkembang pesat itu mendorong kita untuk terus berkreasi. Untuk dukanya, secara pribadi itu mungkin karena pengaruh sistem belajar dan lingkungan tidak beragama, jadi efeknya kita lebih sering jenuh dan gampang stress.
Merasa tertekan sih pasti dan kadang kita ngerasa mengeluh juga. Untuk mengatasinya sebenernya mudah, tapi kadang kita tuh sulit menjalankan. Sebenarnya cukup bersyukur aja karena di luar sana masih banyak orang yang ingin di posisi kita saat ini, sedangkan kita yang sudah di posisi tersebut malah ga bersyukur. Terus kembali mengingat apa tujuan utama dalam hidup, karena bagi saya menuntut ilmu itu bukan untuk menjadi orang yang pintar, tetapi untuk bisa mengamalkan ilmu yang didapatkan. Semua orang itu pasti ingin sukses dengan segala idealismenya, tapi kita juga ga boleh lupa idealisme Qur’an dan Hadits. Jadi intinya kalau jenuh ya kembali ke Allah terus zikir biar dimudahkan dalam segala urusan menuntut ilmu.

Untuk perkuliahannya sendiri kalau di sana itu kita lebih belajar core pemrograman… Contoh untuk bahasa Java, kita di sana lebih banyak pengaplikasian library bahasanya. Jadi kodingan kita akan lebih pendek dan efektif… Di sana juga kita belajar bagaimana kodingan itu dibaca, disimpan, dan dijalankan di hardware, seperti heap, stack dan lain-lain yang mengolah kodingan kita… Dengan pembelajaran seperti itu, kita tau gimana aplikasi besar bisa berjalan di spesifikasi komputer yang paling rendah

3. Ada cerita pengalaman menarik/berkesan selama di China?

Agung

Pengalaman unik/menarik yang tidak terlupakan itu merasakan musim gugur dan musim dingin, merasakan salju, hahaha

Agung merasakan salju di NXU China

Rizal

Oh iyaaa…. aku pernah ikut klub IoT kan.. nah itu anak-anaknya pada masih ngumpul mengerjakan project sampai malam.. dan kampus memfasilitasi.. Dikasih ruang khusus juga untuk masing-masing klub gitu.. dan dosen pembimbingnya juga ada nemenin sampai malam.. Bahkan waktu itu aku udah pamit dari klubnya jam 10 malam itu anak-anaknya sama dosennya belum ada niatan balik… Kalau di UII sih aku belum pernah ngerasain ikut UKM apa gitu seperti PSC atau Gapoera yang kegiatannya sampai malam banget di lab dan ga tau juga dikasih atau tidak sama UII memakai lab gitu.

Bika

Banyak kegiatan kampus yang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara mahasiswa dan dosen. Mengikuti organisasi eksternal kampus seperti PPI Tiongkok untuk memperluas relasi dan memperbanyak pengalaman.

Nabhan

Kalau pengalaman paling seru sih bareng komunitas photography di sana. Karena kebetulan hobi saya photography jadi suka upload foto di media sosial kampus tentang photography… Nah, kebetulan dari situ dapat kenalan terus diajak kerja bareng jadi photographer di acara-acara.

Nabhan (paling kiri)

4. Pesan untuk mahasiswa mengenai program ini?

Agung

Saya mau memberikan pesan untuk anak-anak Informatika mengenai program ini, yaitu kalau kalian ingin melihat negara lain itu seperti apa, ikut program ini. Kalian bisa mengasah kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi, banyak yang didapat dengan belajar di luar negeri. Jangan takut, jangan menyerah sebelum mencoba, pasti bisa, pasti ada jalan, pasti dimudahkan Allah jika itu ikhlas karena Allah

Rizal

Pesannya sih intinya untuk teman-teman jangan memandang program double degree ini cuma sekedar keren deh kuliah di luar negeri. Tapi harus memandang kalau ikut program ini terbuka kesempatan kita untuk mencari inspirasi-inspirasi baru yang didapat dengan melihat kehidupan orang di luar negeri dan bisa jadi juga inspirasi-inspirasi itu bisa kita kembangkan dan terapkan di Indonesia. Kesempatan kita tambah relasi juga semakin besar, lalu kesempatan untuk eksplorasi ilmu juga makin bsar.. Banyak deh intinya.. Bukan hanya sekedar keren kuliah di luar negeri.

Bika

“fall seven times stand up eight”

Nabhan

Buat teman-teman Informatika, cobalah aktif dalam membuat perubahan dan jadilah bagian dari perubahan tersebut… Belajar di luar negeri itu bukan gengsi yang menjadi tinggi karena bisa kuliah di luar negeri, tapi membuka wawasan untuk mengetahui bagaimana negara seperti China itu bisa berkembang. Dengan begitu, kita bisa mengetahui apa yang kurang dari Indonesia dan bagaimana cara menanggulangi kekurangan tersebut.


Tertarik untuk ikut Program Joint Degree yang dimulai tengah tahun 2019 ini? Silakan baca panduannya di artikel ini.

[Dhis/FR]

,

Sharing Session: Doctoral Education System in The Netherlands

Sharing session yang telah dilakukan pada Kamis 7 Februari 2019 lalu di Ruang Audiovisual 1.10 Gedung K.H. Mas Mansyur FTI UII mengangkat judul “Doctoral Education System in The Netherlands”. Seperti judulnya, acara ini banyak membicarakan hal-hal mengenai pendidikan S3. Mulai dari yang secara umum mengenai studi S3, secara khusus S3 di Belanda, hingga secara khususnya lagi S3 di Universitas pembicara, Delft University of Technology.

Prof. Dr. Ir. Marijn Janssen, Full-time Professor in “ICT and Governance”, and Chair of the Information & Communication Technology Research Group of the Technology, Policy and Management Faculty of Delft University of Technology

Prof. Dr. Ir. Marijn Janssen, yang merupakan profesor pada bidang “ICT and Governance”, banyak membicarakan mengenai prosedur untuk berkuliah di sana, mulai dari bagaimana mengontak dosen pembimbing di sana, prosedurnya, apa saja yang harus dilakukan, bagaimana cara membuat proposal, dan lain-lain. Atau bisa dibilang, proses dari awal hingga menjadi mahasiswa di Delft University of Technology.

Pada acara ini juga diceritakan bagaimana bagusnya sistem pendidikan di Belanda dibandingkan dengan yang lain, hingga bagaimana manajemen universitas di sana. Kelas yang akan diambil merupakan kelas internasional atau dengan kata lain bahasa pengantarnya merupakan bahasa inggris. Mengenai biaya, pendidikan di sana termasuk mahal sehingga beliau sangat menyarankan untuk mengincar beasiswa-beasiswa, yang mana juga dalam sesi tersebut dijelaskan juga mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa.

Bapak Teduh selaku perwakilan pengelola Jurusan Informatika UII menyerahkan kenang-kenangan kepada Prof. Marijn.

Acara berlangsung selama satu jam. Prof. Dr. Ir. Marijn Janssen memberikan saran kepada yang ingin melanjutkan S3 di universitas sana, yang paling pertama dan harus ditekankan adalah membuat proposal sebaik-baiknya, sebab hal tersebutlah yang menjadi iklan untuk mencari dosen pembimbing dan juga beasiswa untuk pendidikan di sana.

[Yudha/Dhis]

,

Informatics Expo 2018

Salah satu kegiatan yang menutup rangkaian aktivitas akademik Jurusan Teknik Informatika (TF) Universitas Islam Indonesia (UII) semester ganjil 2018/2019 adalah penyelenggaraan acara Informatics Expo di Auditorium Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Rabu (19/12).

Expo tersebut merupakan suatu ajang pameran proyek mahasiswa yang dikembangkan selama satu semester dalam lima mata kuliah yang berbeda. Masing-masing mata kuliah mata kuliah tersebut adalah Pemikiran Desain oleh mahasiswa angkatan 2018,  Pengembangan Aplikasi Berbasis Web serta Sistem Jaringan dan Komputer oleh mahasiswa angkatan 2017, dan Pengembangan Aplikasi Informatika Medis serta Pengembangan Aplikasi Bergerak oleh mahasiswa angkatan 2016.

Mahasiswa angkatan 2018 dengan mata kuliah Pemikiran Desain memamerkan purwarupa dari konsep aplikasi yang mereka kembangkan dengan berbagai macam tema yang diambil dari Sustainable Develompent Goals (SDG) rumusan PBB. Meski baru memamerkan konsep dan purwarupa, para mahasiswa yang baru pertama kali mengikuti Informatics Expo itu tampak tidak kalah antusias dari peserta-peserta lain yang sudah mengikuti acara yang sama sebanyak dua hingga tiga kali.

Sementara itu, mahasiswa angkatan 2017 membangun aplikasi berbasis website yang diimplementasikan pada jaringan yang dibuat pada proyek tersebut juga. Dan mahasiswa angkatan 2016, membuat aplikasi medis berbasis android.

 

Pameran ini melibatkan lebih dari 120 proyek, ratusan mahasiswa, serta menghadirkan ratusan pengunjung dari mahasiswa berbagai jurusan, dan para dosen yang tampak hadir di area pameran.

Selain pameran proyek para mahasiswa, Informatics Expo juga diisi dengan penawaran judul Tugas Akhir (TA) dari klaster Informatika Medis, dan Tech Talk dari klaster Jaringan dan Keamanan Komputer.

Pameran yang diselenggarakan sekali dalam satu tahun tersebut, kecuali dapat melatih para mahasiswa untuk dapat mempresentasikan hasil karyanya kepada konsumen, juga membuka ruang diskusi antar mahasiswa. Diharapkan, dengan acara semacam ini, pintu-pintu kreativitas dan semangat kolaborasi antar mahasiswa Informatika dapat tumbuh dan terbuka lebar.

Seluruh proyek yang dipamerkan di Informatics Expo dapat dilihat melalui situs http://informatics-expo.id/