Ramadan Sale

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. [1]

Siapa yang akan langsung tertarik begitu mendengar kata sale? Saya…

Sebagian besar dari kita pasti tertarik begitu mendengar kata obral, “Mumpung harga turun, kita beli”. Pastinya kita tidak mau rugi dan harus memanfaatkan momen itu semaksimal mungkin. Kata orang: “Seize the moment!”

Ternyata, Islam juga punya momen tersebut. Tidak tanggung-tanggung durasinya. Bukan hanya satu hari, di tanggal cantik saja, atau di jam tertentu, tapi satu bulan. Ya, satu bulan penuh obral! Selain itu, obral ini tidak hanya berlaku untuk 100 pembeli pertama saja, tapi tidak terbatas. Obral berlaku untuk berapa pun orang yang tertarik. Bahkan, jika seluruh orang di dunia join, mereka semua bisa mendapatkan obral tersebut.

Obral ampunan di satu bulan penuh, bulan Ramadan, merupakan bentuk sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala memberi kesempatan kepada kita untuk membersihkan dosa-dosa kita.

Tentu rahmat Allah subhanahu wa ta’ala tersebut harus kita jemput, tidak diam saja apalagi berbuat yang Allah subhanahu wa ta’ala tidak sukai. Bentuk usaha yang dapat kita lakukan dalam menjemputnya adalah berpuasa, membaca Al-Qur’an, qiyamul lail, bersedekah, dan iktikaf.

Puasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” [2].

Selama berpuasa, kita dilatih untuk mengawasi diri kita sendiri. Makanan atau minuman yang biasanya halal kita konsumsi, kita hindari baik ada orang maupun tidak karena kita melakukannya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagai bentuk apresiasi usaha kita, Allah langsunglah yang akan membalasnya. Belum lagi jika kita tambah dengan menghindari hal-hal yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala (seperti perkataan yang buruk, perkataan sia-sia, gibah, dan maksiat). Semoga dicurahkan rahmat yang lebih atas usaha kita menghindarinya.

Membaca Al-Qur’an

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.” [3]

Kalau mahasiswa berusaha aktif di kelas, dengan harapan usahanya menjadi perantara dia mendapat nilai maksimal dan mencuri perhatian dosennya, “Oh, anak yang aktif ini, saya beri nilai A karena dia terlihat sungguh-sungguh berusaha dalam belajar”. Nah, puasa dan membaca Al-Qur’an juga bisa menjadi perantara kita. Bukan cuma untuk nilai dan mencuri perhatian makhluk yang lemah, tapi membaca Al-Qur’an menjadi perantara untuk mendapat rahmat Rabb semesta alam pemilik dunia seisinya. 

Qiyamul lail

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” [4].

Qiyam Ramadan atau salat malam di bulan Ramadan di sini adalah salat tarawih [5]. Di luar bulan Ramadan, salat malam sangat diutamakan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah salat fardu, terlebih lagi di bulan Ramadan. Selain itu, salat tarawih sangat dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

Siapa yang salat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” [6]

Bersedekah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” [7]

Dari hadis tersebut diketahui bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Namun, di bulan Ramadan beliau lebih semangat lagi dalam bersedekah bagai angin yang bertiup. Artinya, bulan Ramadan harus kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menjemput rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dengan bersedekah tanpa banyak berpikir. Begitu melihat ada kesempatan, langsung kita ambil, cepat dan ringan seperti angin. Selain itu, bersedekah dengan yang baik seperti angin bertiup yang menyejukkan. Bersedekah pun sesuai kemampuan kita. Jika kita hanya memiliki satu kurma, kita bisa membagi kurma tesebut dengan orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.” [8]

Terlebih lagi, jika kita bersedekah dengan memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa, pahala puasa kita menjadi berlipat-lipat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikit pun mengurangi pahalanya.” [9]

Selain itu, sedekah juga dapat membantu kita mendapat ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Sesungguhnya sedekah yang tersembunyi, (dapat) meredam murka Allah Ta’ala” [10]

Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Sedekah menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api.” [11]

Iktikaf 

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beriktikaf setelah beliau wafat.” [12]

Iktikaf atau menetap di masjid pada bulan Ramadan terutama sepuluh malam terakhir sangat ditekankan. Jika di hari-hari lain kita disibukkan dengan urusan dunia, pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan kita dianjurkan memfokuskan diri hanya untuk beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala, hanya sepuluh hari dari 365 hari dalam setahun. Dalam sepuluh hari tersebut kita beribadah sambil berharap mendapat keberkahan dengan memperoleh Lailatul Qadr.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” [13]

Lailatul Qadr, malam yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Malam yang jika amal kita diterima saat itu, seakan kita melakukan amalan tersebut lebih dari 80 tahun (1000 bulan), yang umur kita belum tentu mencapainya. Malam di mana Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan ketetapan-Nya dalam satu tahun, yang harus kita manfaatkan agar kita dikaruniai takdir yang baik dan pengampunan dosa serta mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur-an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Al-Qadr/97: 1-5]

Pada malam tersebut kita dapat memperbanyak zikir, salat, membaca selawat, salat berjamaah di masjid, membaca Al-Qur’an, menghafalnya, mempelajarinya, mentadaburinya, mengajarkannya, serta memperbanyak doa. Doa yang diajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperbanyak di selama bulan Ramadan adalah doa mohon ampunan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadr, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” [14]

Semoga kita dimudahkan untuk melakukan amalan-amalan tersebut agar tidak menjadi orang yang merugi di bulan penuh obral ampunan dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Merugilah orang yang disebutkan namaku (nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di hadapannya, tetapi ia tidak mau berselawat kepadaku. Merugilah orang yang masuk Ramadan, kemudian Ramadan itu berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni. Dan merugilah seorang yang mendapatkan kedua orang tuanya di waktu tua (lanjut usia), tetapi keduanya tidak dapat menyebabkannya masuk Surga.” [15]

Kita maksimalkan usaha meraih ampunan di hari-hari di bulan Ramadan yang masih bisa kita temui agar kita masuk dalam orang yang beruntung, mendapat ampunan, dan bersih dari dosa di hari yang fitri.

Ramadan Mubarak, 1445 H
Arrie Kurniawardhani

Pustaka

[1] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760
[2] H.R. Ahmad, Shahih
[3] HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429
[4] HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759
[5] Syarh Muslim, 3/101. Lihat Al Jaami’ li Ahkamish Sholah, 3/63 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630
[6] HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi.
[7] HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307
[8] HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim no. 1016
[9] HR. At Tirmidzi no 807, “Hasan shahih”[10] HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532]
[11] HR. Ahmad (V/248), at-Tirmidzi (no. 2616). Lihat Irwaa-ul Ghaliil(II/138).
[12] Shahiih al-Bukhari (III/42). HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172
[13] Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 987). Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/259, no. 2020). Sunan at-Tirmidzi (II/144, no. 789)
[14] HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850.
[15] Shahiih Sunan at-Tirmidzi III/177