Assalamualaikum Sobat Informatika!
Seperti sektor-sektor lainnya, sektor pembangunan juga terdampak oleh pandemi terutama bagi para tukang yang kesulitan mencari pekerjaan. Bukan hanya tukang, kita pun sebagai konsumen juga jadi sulit cari jasa tukang yang berkualitas. Dari keresahan ini, kelompok Ryzen dari mata kuliah Pemikiran Desain menawarkan sebuah solusi berupa rancangan aplikasi yang diberi nama Tukangku. Pertukangan Go Digital!

Tukangku ini harapannya menjadi platform layaknya marketplace untuk mencari informasi dan jasa terkait pertukangan. Dengan target pengguna berupa masyarakat yang membutuhkan jasa pekerja bangunan untuk renovasi rumah dan sebagainya, sampai para tukang dan mandor yang ingin memasarkan jasanya.

Sebagai contoh, kalau kamu ingin melakukan renovasi rumah tapi terkendala kurangnya jaringan informasi pekerja tukang, kamu bisa memanfaatkan fitur yang ada di Tukangku untuk mencari pekerja.

Pada rancangan aplikasi ini juga tersedia banyak fitur menarik lainnya, seperti konsultasi dengan mandor, jasa arsitek, hingga fitur inspirasi desain yang bisa digunakan untuk mencari desain-desain bangunan impian kamu. Jangan khawatir, Tukangku juga menerapkan sistem rating sehingga kamu dapat mengetahui jejak pekerjaan dan kualitas dari jasa yang kamu inginkan.

Dengan tampilan antarmuka yang menarik, kelompok Tukangku yang beranggotakan Gilang Aries Prasetyo, Alber Derry Asher, Jhanif Indra Saputra, dan Ramadhan Perwira Jati ini berharap desain aplikasi ini dapat mudah dimengerti dan diimplementasikan menjadi sebuah aplikasi layak pakai.

Wah, asli keren nih! Gak kalah dengan sektor-sektor lainnya, sektor pembangunan juga harus terus maju dengan melakukan upaya digitalisasi. Sulit cari jasa tukang? Tukangku bisa jadi solusinya~

Tukangku

Karya ini bisa dilihat melalui web Informatics Expo.
(https://informatics-expo.id/karya/520)

Assalamualaikum Sobat Informatika!
Anak kos mana sih yang gak butuh laundry? Selain membantu kita para mahasiswa, usaha-usaha laundry juga sangat berpengaruh dalam roda perekonomian masyarakat. Nah, untuk membantu usaha laundry skala kecil hingga besar yang ada, Aulia Maulana Rizqi dan Tezar Irawan yang tergabung dalam kelompok C.5 dari mata kuliah Pengembangan Aplikasi Berbasis Web membuat sebuah aplikasi yang bisa membantu para pemilik laundry untuk menjalankan bisnisnya bernama LaundryDong.

Sesuai namanya, aplikasi berbasis web ini menyasar para pemilik laundry yang mengalami kendala dalam menjalankan bisnisnya. Laundry Dong menyediakan fitur-fitur andalan seperti memasarkan produk jasa, mengatur transaksi, manajemen pegawai, hingga visualisasi laporan keuangan. Fitur yang disediakan ini selaras dengan kebutuhan ibu-ibu dan bapak-bapak laundry yang kesulitan melakukan pencatatan bisnis mereka. Yang awalnya harus dilakukan secara manual, sekarang bisa dilakukan dengan beberapa klik sehingga beban kerja mereka pun berkurang.

Aplikasi Laundry Dong ini dibangun dengan menggunakan teknologi seperti XAMPP sebagai penyedia paket PHP, Apache, dan MySQL, Sublime dan Atom sebagai text editor dan GitHub sebagai Version Control System.

Menurut C.5 sendiri, aplikasi ini masih memiliki beberapa kekurangan. Salah satu yang utama adalah hanya bisa digunakan untuk satu laundry saja sehingga setiap pemilik laundry harus menginstal sendiri aplikasi masing-masing. Harapannya, Laundry Dong bisa digunakan oleh banyak orang sekaligus tanpa perlu repot-repot menginstal sendiri.

Kreatif, ya! Karya-karya seperti inilah yang kita butuhkan untuk membantu usaha-usaha masyarakat, terutama bapak dan ibu laundry yang sangat berjasa bagi hidup mahasiswa. Semangat ya untuk C.5 dan ditunggu perilisan aplikasinya.

Karya ini bisa dilihat di website Informatics Expo
(informatics-expo.id/karya/406)

pengembangan aplikasi berbasis web

Semula dikhawatirkan terkena Drop Out (DO), tapi alhamdulillah mahasiswa ini akhirnya lulus dengan IPK 3,00

Performa kuliah masa lalu bisa menjadi bahan prediksi kelulusan, tetapi terkadang hasil akhirnya pun masih misteri.

Sebagai seorang dosen wali (atau dosen PA/Pembimbing Akademik), banyak suka duka yang pernah saya alami. Di suatu masa, saya pernah mendapat amanah sebagai dosen wali. Ada seorang anak wali (sebut saja Alif) yang punya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) cukup, tetapi sayang, performanya menurun di tahun ke-3, bahkan Indeks Prestasi Semester (IPS) nya berkali-kali menembus nasakom (nasib satu koma).

Karena IPK makin jeblok, pemantauan rutin pun berubah menjadi monitoring khusus. Saya panggil Alif secara khusus untuk membicarakan kesulitannya, saya bantu buatkan rencana pengambilan matakuliah dan target-targetnya agar tidak terkena Drop Out (DO), bahkan saya sering cek kehadirannya di sistem presensi mata kuliah. Saya juga aktif memantau kemajuan kuliah si Alif ini kepada dua teman sekosnya yang juga merupakan mahasiswa bimbingan Tugas Akhir saya.

Ikhtiar-ikhtiar ini terus berlangsung selama beberapa purnama, bahkan hingga beberapa semester. Hingga pada suatu titik, saya pun merasa putus asa dan lelah, karena IP 0 (nol) bulat pun pernah diperoleh Alif. Akhirnya, saya pun menelpon keluarganya untuk “mengembalikan” amanah mengurus Alif ini kepada keluarganya. Saya juga sampaikan maaf bahwa saya sudah tidak mampu mengurus Alif lagi di kampus. Saya hanya bisa mendoakan Alif lulus, meski di atas kertas, hal itu sungguh sulit karena banyaknya matakuliah yang harus diulang, terbatasnya jatah jumlah matakuliah yang bisa diulang per semester, dan syarat-syarat lainnya. Read more

membedakan jahe kunyit dan lengkuasAssalamualaikum Sobat Informatika!
Kalian masih ada gak nih yang bingung membedakan jahe kunyit dan lengkuas? Tenang, kalian tidak sendiri. Untungnya pada Informatics Expo 2020 kemarin, tim Mbuh dari mata kuliah Deep Learning membuat sebuah solusi berupa aplikasi yang bisa membedakan ketiga bumbu dapur yang memang mirip-mirip itu!

Idenya sendiri menurut tim yang beranggotakan Cut Husnul Fitri, Auliya Khanza Qorita dan Atika Tsamara ini berasal dari keresahan pribadi mereka yang juga sulit membedakan ketiga jenis rempah-rempah tersebut. Karena itu, mereka mulai mengembangkan sebuah aplikasi yang dinamai Herbs Image Classification sebagai solusinya.

Cara penggunaannya sangatlah sederhana, cukup masukkan foto salah satu dari jahe, kunyit dan lengkuas, kemudian sistem akan memproses citra dari foto tersebut. Setelah diproses, sistem akan langsung menampilkan hasil identifikasi. Dengan menggunakan pemodelan Convolutional Neural Network dan arsitektur Residual Network atau Resnet18, tingkat akurasi model citra multi-kelas yang digunakan bisa mencapai angka 98 persen!

Sayangnya nih, aplikasi karya tim Mbuh ini belum terpublikasi di internet sehingga belum bisa digunakan banyak orang. Tetap dukung ketiga perempuan ini deh agar lebih semangat mengembangkan karyanya biar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Kalau bisa sih, sampai ada tambahan rempah-rempah lainnya.

Keren ya, berawal dari keresahan malah jadi karya yang membawa manfaat bagi kita yang juga masih sulit membedakan jahe kunyit, dan lengkuas. Kalian juga bisa, kok!

herbs image classification

Karya ini bisa dilihat di website Informatics Expo (informatics-expo.id/karya/488)

Tim Mbuh Deep Learning

Tim Mbuh

 

Awal 2020 lalu, kita dikejutkan dengan berita kebocoran data 91 juta pengguna Tokopedia. Informasi yang bocor bervariasi, mulai dari nama hingga kata sandi si pengguna. Data yang bocor ini kemudian dijual di forum-forum peretas. Ngeri, ya?

Kali ini, kita kembali dikejutkan dengan dugaan penjualan data pengguna aplikasi Muslim Pro ke pihak militer Amerika Serikat. Kabar ini dikonfirmasi oleh pihak militer Amerika Serikat namun dibantah oleh Muslim Pro. Lalu, apa pengaruh bocornya data-data ini ke kita, si pengguna aplikasi?

Kalau kamu sudah membayangkan rekeningmu akan dibobol dan jatuh miskin secara tiba-tiba, kamu sedikit lebay. Efeknya mungkin tak akan seburuk itu, tergantung data apa saja yang bocor. Dalam kasus ini, data yang diduga dijual pihak Muslim Pro adalah lokasi dan kebiasaan pengguna saat menggunakan aplikasi.

Data Is The New Oil

Kamu pasti pernah mendengar ungkapan “Data is the new oil”, bukan? Ungkapan ini sedikit mengada-ada, namun semakin terbukti kebenarannya. Di era ekonomi digital, data bisa disebut sebagai tulang punggung kelancaran sebuah bisnis. Semakin jeli kamu membaca dan menggunakan data, akan semakin baik pula bisnis yang kamu jalankan. Oleh karenanya, pengelolaan data sangat diutamakan oleh perusahaan-perusahaan masa kini.

Mari kita perjelas. Pernahkah kamu membicarakan sesuatu yang kamu inginkan, atau barang yang ingin kamu beli, dan tiba-tiba kamu menemukan iklan barang itu di media sosial kamu? Ini disebut dengan personalized ads, di mana iklan-iklan yang ditampilkan akan disesuaikan dengan perilaku kamu dalam menggunakan gawai dan aplikasi-aplikasinya.

Kalau masih bingung, coba tanya Google atau Facebook, deh! Merekalah pengguna strategi iklan ini. Lalu, apa hubungannya dengan penjualan data oleh Muslim Pro? Setidaknya, ini membuktikan bahwa data, dalam bentuk apa pun, sangatlah penting. Militer AS mengatakan data yang mereka beli digunakan untuk operasi militer di luar negeri. Kabar ini bisa benar bisa juga salah. Namun tetaplah berhati-hati dalam menggunakan gawai.

Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba agar privasimu selama menggunakan gawai tetap terjaga dan terhindar dari kebocoran data:
1. Perhatikan izin aplikasi yang kamu unduh. Misalnya, tak logis jika aplikasi
pencatat keuangan untuk meminta izin akses lokasimu.
2. Hanya gunakan aplikasi yang terdaftar di Play Store atau App Store.
3. Hanya menggunakan aplikasi dari pengembang terpercaya.
4. Selalu mengganti kata sandi akun.
5. Selalu gunakan versi terbaru aplikasi

Artikel ini merupakan Pemenang Kompetisi Menulis Artikel Web Informatika UII 2020 - Periode 4

Akhir-akhir ini salah satu game online, Among Us, sedang ramai dibicarakan warganet. Permainan yang masuk di kategori “bluffing game” ini berhasil diminati oleh banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa. Meskipun game jenis ini sebenarnya sudah ada sejak lama (Werewolf, Saboteur, dll.), Among Us berhasil dikemas dengan baik sehingga mendapatkan popularitas yang tinggi. Bumbu “online game” dan desain antarmuka yang unik dan menarik menjadi satu dari sekian banyak nilai plus keseruan game ini.

Nah, sebagai penggiat IT yang suka main game, kita seharusnya mendorong diri kita untuk lebih dari sekadar pemain game. Karena sebenarnya ada banyak elemen menarik pada game yang bisa menjadi bahan diskusi atau bahkan sampai skripsi: Read more

Artikel ini merupakan Pemenang Kompetisi Menulis Artikel Web Informatika UII 2020 - Periode 3

Informasi biasanya hanya terkesan sebagai kumpulan huruf dan angka (sangat membosankan). Bayangkan jika informasi itu berubah menjadi sebuah suara dengan perpaduan warna dan gerakan. Akankah hal tersebut menjadi lebih menarik untuk diamati? Apalagi ditambah dengan kemampuan user interface semacam AI sederhana. “Halo selamat pagi sayang :3” Jadi tambah semangat menjalani pagi.

Tentu saja sejak perkembangan era 4.0 ini, fleksibilitas dan kemudahan lebih diutamakan, bahkan untuk sekadar membaca. Maka dari itu, bagaimana cara mengubah data atau informasi menjadi lebih menarik untuk dilihat tanpa menghilangkan muatan informasi di dalamnya dan tentu saja efisien? Pernahkan kamu merangkum daftar keuangan kuartal pertama, kedua, ketiga, keempat.. Tidak paham?

Saya berikan contoh bagi orang awam, manakah yang lebih kamu sukai: membaca daftar keuangan per bulan saat tengah malam atau mendengarkannya selagi menikmati senja dengan secangkir kopi T*rabik*. Baik, tadi itu bercanda. Namun kau paham pointnya, kan? Saya jelaskan menurut keuntungannya saja. Beragam hal positif bisa kita dapatkan hanya dengan mengubah bentuk informasi. 

Keuntungan dari pengaplikasian informasi berbasis gambar animasi:

  1. Lebih menarik perhatian
    Dengan penggunaan animasi, kita dapat menarik minat dari kalangan milenial. Kamu tahu iklan po*ari sw*et yang terbaru? Ya semacam itulah.
  2. Dapat meningkatkan profit
    Lanjut dari poin pertama, dengan banyaknya perhatian yang kita dapat, berkemungkinan mendatangkan profit yang meningkat pula.
  3. Kreativitas tanpa batas
    Perubahan ini akan menjadi media bagi para penggerak ekonomi di bidang kreativitas untuk mengenalkan talentanya.
  4. Dapat menciptakan penghubung antara ahli informatika dengan animator/ ilustrator
    Kerja sama saling menguntungkan pihak satu sama lain dengan berupaya menambah networking yang luas ke perantara selanjutnya.

Namun, bak air bersih, pasti ada saja pengotornya… Pemikiran seperti mahal lah, ribet lah, dll. pasti akan ada. Hal tersebut tidak akan berubah sebelum kita sendiri yang mengubahnya. Jadi, mengapa tidak berjalan sendiri dengan keyakinan di mana tapak ku tapak mu juga.


Penulis: Kesatria Koecheng. September 2020.

Artikel ini merupakan Pemenang Kompetisi Menulis Artikel Web Informatika UII 2020 - Periode 2

Halo Sobat Informatika, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang keamanan data.
Menurut kalian, penting tidak mengamankan data pribadi kita di dunia maya?

Kalau bagi saya, privasi adalah segalanya. Ini penting banget, karena data kita adalah sebuah privasi yang harus kita jaga, termasuk menjaga data pribadi dari pacar kita. Mungkin Sobat informatika yang sedang memiliki pasangan saling bertukar password akun media sosial pasangannya. Wah itu bahaya loh sobat! Tahu tidak kenapa bahaya buat sobat? Kalau menurut saya, misal kita sudah tidak bersamanya, bisa saja akun kita disalahgunakan untuk hal yang tidak baik. Atau bisa saja handphone pasangan kita dipinjam temannya dan temannya iseng dengan akun kita tersebut. Sangat merugikan kita banget, kan, Sobat?

Ada banyak hal yang bisa mengakibatkan data kita bocor di dunia maya, Sobat. Contoh lainnya bisa terjadi karena kita mengakses sebuah website dan kita mengklik dengan sembarangan. Maka, bisa saja peretas (hacker) diam-diam memasang virus trojan yang bisa mengambil data penting kita tanpa sepengetahuan kita. Wah, saya sih tidak ingin itu terjadi pada saya dan kalian. Maka dari itu, sangat penting bagi kita paham dan peduli dengan keamanan data yang kita miliki. Yuk Sobat Informatika tercinta, simak tips-tips menjaga keamanan data pribadi dari kejahatan dunia maya. Read more

Artikel ini merupakan Pemenang Kompetisi Menulis Artikel Web Informatika UII 2020 - Periode 1

Mbuh Pie Carane” adalah kiasan singkat dari beberapa orang sebagai pengembang aplikasi, sekalipun ada tolak ukur yang harus dilihat (waktu, biaya, dan jumlah SDM). Pengembang aplikasipun tidak dilahirkan dengan pemahaman “jika mau punya anak 9 dalam 9 bulan maka nikahlah dengan 9 wanita” (semoga kalian paham dengan dunia pengembangan aplikasi pada konteks pemahaman seperti ini).

Jadi bagaimana kalau kiasan bertemu dengan pemahaman yang barusan kita bahas?

Solusinya adalah paralelkan pengembangan aplikasi yang akan dilakukan.

Contoh sederhananya, si klien minta dibuatkan aplikasi dengan waktu singkat dan spesifikasi hasil
sebagai berikut:

  • Mobile Apps (Android dan iOS)
  • Front End (Halaman yang dikunjungi oleh pengguna)
  • Back End (Halaman admin dan API)

Maka, sebagai developer, yang dapat dilakukan si Project Manager adalah memparalelkan tugas tim,
singkatnya sebagai berikut:

  1. Project Manager men-deliver kebutuhan klien kepada System Analyst.
  2. System Analyst mendesain flow, desain user experience dan kebutuhan lainnya, selanjutnya
    mengirim ke klien atas persetujuan Project Manager.
  3. Sesi paralel 1:
    1. Selagi menunggu hasil review dari klien, System Analyst dapat membuat Mockup API.
    2. Desainer user interface dapat memulai desain menggunakan user experience yang telah
      dibuat.
  4. Jika klien tidak setuju atau ada revisi, kembali ke poin 2. Jika setuju, lanjut poin 5.
  5. Sesi paralel 2:
    1. Mockup API diserahkan ke Mobile Apps, Front End sebagai standar end point, request dan response API (hanya membuat Engine cara mengonsumsi API dan membuat interface dengan standar desain berdasarkan user experience). Khusus Backend membuat API dan halaman admin menggunakan standar Mockup API.
    2. Desain user interface diserahkan ke klien atas persetujuan Project Manager. Ini pasti memakan waktu. Selagi menunggu, poin 5.1 dapat diselesaikan.
  6. Sesi parelel 3:
    1. Proses review ke klien telah selesai. Selanjutnya, Mobile Apps, Front End, dan Back End mengikuti perubahan desain user interface dengan asset yang telah dibuat oleh user interface.
    2. Tester menguji setiap end point API yang telah dibuat oleh Back End. Jika ada kesalahan, diperbaiki di tahap ini segera sebagai prioritas tinggi.
    3. Back end membuat halaman admin.
  7. Mobile Apps, Front End mengonsumsi API dari Backend.
  8. Tester menguji semua aplikasi.
  9. Poin selanjutnya adalah revisi, user accepted test dan sampai pengembangan aplikasi selesai.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memparalelkan pengembangan aplikasi, yang terpenting peran aktif seluruh anggota tim, dan cara leader memaksimalkan tim tanpa harus membuat tim menjadi terasa sangat berat dan terasa kaku.

Penulis: Cahyo DR (Alumni Magister Informatika UII)
Agustus, 2020