The Illusion of Deletion in the Digital Environment

In everyday digital life, users routinely delete messages, clear browsing histories, and remove files with a sense of finality. The act of pressing the “delete” button often creates a psychological assurance that the data has been permanently erased. This perception is reinforced by common assumptions: that deletion equates to destruction, that clearing history renders activity untraceable, and that selecting “delete for everyone” guarantees permanent removal. However, these assumptions reflect a misunderstanding of how digital systems function.

Deletion, in most technical contexts, does not immediately eliminate data. Instead, it typically alters the system’s reference to that data. What disappears from the user interface may continue to exist at a structural level within storage systems or network environments. The distinction between removing visibility and removing existence is fundamental to understanding digital persistence.

What Actually Happens When Data is Deleted

From a technical standpoint, many operating systems and applications do not instantly erase the underlying data when a user deletes a file or message. Rather, the system marks the storage space occupied by that data as available for overwriting. Until new data replaces it, the original information may remain recoverable through specialized methods. Read more

Network Forensics as a Critical Component of Cyber Defense

Network security plays a fundamental role in protecting digital infrastructures. Firewalls, intrusion detection systems, authentication mechanisms, and encryption protocols are designed to prevent unauthorized access and safeguard sensitive information. However, preventive measures alone are insufficient. When a breach occurs and the protective “fence” is compromised, organizations require mechanisms not only to contain the damage but also to determine responsibility, scope, and impact. In this context, network forensics emerges as a critical complement to network security.

Concept and Scope of Network Forensics

Network forensics refers to the application of scientific and systematic techniques to collect, preserve, examine, and analyze digital information derived from network activity. Unlike traditional digital forensics, which often focuses on data stored on physical devices, network forensics emphasizes live network sessions, traffic flows, and communication records.

Its primary objective is to reconstruct events that occurred within a network environment. This includes analyzing packet captures, log files, traffic metadata, and session histories to establish a coherent account of suspicious or malicious activity. The process begins when there is an awareness of a potential incident, commonly referred to in legal terminology as notitia criminis, the recognition that a possible offense has taken place.

Why Accounts Become Compromised Read more

oleh: Hanson Prihantoro Putro
[email protected]

Di balik layar laptop mahasiswa Informatika, baris-baris kode seperti Python: print(“Hello World!”) menjadi pemandangan sehari-hari. Program dijalankan, teks muncul di layar, dan semuanya terasa instan. Namun, tahukah kamu, apa yang sebenarnya terjadi setelah tombol Run ditekan? Bagaimana komputer bisa mengerti perintah sederhana itu dan mengubahnya menjadi aksi nyata di console atau IDE? Apa yang bekerja di balik dunia ghaibnya, dunia di belakang layar yang tidak bisa kita lihat tersebut?

Sebagian besar dari kita mahasiswa belajar bahasa pemrograman seperti Python, C++, Java, PHP, JavaScript atau yang lain. Namun, mungkin kita tidak pernah benar-benar menyentuh bagaimana kode diproses sebelum dijalankan. Kita mungkin tahu bahwa C++ harus dikompilasi, sedangkan Python bisa langsung diinterpretasi dan dijalankan. Tapi apakah Python benar-benar bebas dari proses kompilasi? Apa peran interpreter? Dan ke mana arahnya setelah kita menulis satu baris perintah? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin luput dalam kelas-kelas perkuliahan, terutama karena mata kuliah spesifik tentang teknik kompilasi seperti ini mulai jarang diberikan.

Di tulisan ini, kita akan menyusuri jejak eksekusi dari sebaris kode Python hingga teks muncul di layar. Kita akan bertemu istilah seperti token, bytecode, hingga virtual machine. Memahami proses ini bukan semata untuk menjadi compiler engineer, melainkan bekal penting bagi siapa saja yang ingin menulis kode dengan lebih dalam dan bertanggung jawab. Read more

Pada hari Selasa, 1 Juli 2025, Jurusan Informatika FTI UII menyelenggarakan seminar bertema “How to Become an SAP Consultant: Your Path to a Rewarding Career in Enterprise Software” di Auditorium FTI UII. Seminar ini menghadirkan Mas Aris Muda, S.Kom., seorang SAP ABAP Consultant yang juga merupakan alumni Informatika UII angkatan 2005.

 

Seminar ini diusung oleh Dr. Nur Wijayaning R., dan dibuka dengan sambutan oleh Bapak Dhomas Hatta Fudholi, Ph.D., selaku Ketua Program Studi Informatika Program Sarjana. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya seminar ini, serta mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan momen ini sebagai ajang belajar dari alumni yang telah terjun langsung ke industri enterprise. Beliau juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap sistem yang terintegrasi dalam sebuah perusahaan.

 

Apa Itu SAP dan Kenapa Penting di Dunia Kerja?

Mas Aris membuka sesi pemaparannya dengan memperkenalkan perjalanan kariernya di dunia SAP sejak tahun 2010, bekerja di berbagai perusahaan seperti ABYOR International, NTT Data Business Solutions Indonesia, dan kini di Accenture.

Beliau kemudian menjelaskan pengertian Enterprise Resource Planning (ERP) sebagai sistem perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola dan menyatukan berbagai proses penting dalam sebuah perusahaan. Proses tersebut meliputi manajemen keuangan, sumber daya manusia, pengelolaan proyek, serta kegiatan manufaktur. Menurut Mas Aris, ERP berperan penting dalam mengurangi pekerjaan manual, meningkatkan efisiensi kerja, serta memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data yang lebih akurat.

Salah satu sistem ERP paling banyak digunakan di dunia industri saat ini adalah SAP. Sudah ribuan perusahaan skala besar hingga multinasional menggunakan SAP untuk membantu mereka menjalankan operasional harian. Karena itu, kebutuhan akan tenaga ahli SAP, seperti consultant dan developer, terus meningkat, menjadikan bidang ini sebagai salah satu jalur karier yang menjanjikan di dunia kerja modern.

Read more

Saat kita menggunakan aplikasi seperti TikTok, Netflix, dan YouTube, konten di beranda biasanya relevan dengan preferensi kita. Semakin banyak tontonan kita, platform akan menyesuaikan rekomendasinya dengan lebih akurat. Seakan platform tersebut dapat membaca pikiran, fenomena ini sebenarnya merupakan hasil implementasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence—AI) yang semakin canggih dalam sistem rekomendasi digital.

Kecerdasan buatan adalah kemampuan komputer untuk meniru fungsi kognitif manusia seperti belajar dan memecahkan masalah sehari-hari. Pada intinya, AI adalah sistem yang dibuat untuk berpikir seperti manusia, tetapi dengan kemampuan memproses data dalam jumlah besar dengan cepat. Penerapan kecerdasan buatan dalam sistem rekomendasi digital merupakan salah satu contoh perkembangan teknologi yang mampu memengaruhi aktivitas masyarakat modern.

Teknologi ini telah mengubah cara media dan platform hiburan berinteraksi dengan penggunanya untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal dan menarik. Perkembangan ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna platform, tetapi juga membentuk pola konsumsi konten digital di seluruh dunia. Sistem rekomendasi berbasis AI kini menjadi penghubung penting antara pengguna dan jutaan konten yang tersedia di internet. Lalu, bagaimana sistem rekomendasi bekerja? Read more

Akhir-akhir ini, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia seni visual. Berbagai filter berbasis AI seperti Filter Ghibli dan AI Portrait sempat viral di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Hanya dengan satu klik, sebuah foto biasa dapat diubah menjadi ilustrasi bergaya Studio Ghibli atau lukisan klasik yang menawan. Fenomena ini menarik perhatian banyak orang dan mendorong munculnya semakin banyak aplikasi berbasis AI yang mengubah cara kita berinteraksi dengan seni visual. Di balik kecanggihan tersebut, timbul pertanyaan besar: bagaimana nasib seniman di tengah tren ini?

Proses AI dalam Menciptakan Karya Seni

Secara teknis, AI menciptakan karya seni melalui proses pembelajaran menggunakan machine learning dan deep learning. Sistem ini dilatih menggunakan jutaan gambar buatan manusia sehingga mampu mengenali pola, gaya, dan komposisi tertentu. Menurut Antonia Cacic dalam artikelnya The Role of Artificial Intelligence in Art (2025), ketergantungan AI pada data tanpa izin bisa merusak konsep orisinalitas dan keaslian dalam seni. Karya yang dihasilkan AI sering kali meniru gaya atau unsur tertentu tanpa sepengetahuan penciptanya. Ia juga menjelaskan bahwa hasil buatan AI tidak memiliki “aura” atau kehadiran unik seperti karya seni manusia karena tidak ada sentuhan pribadi di balik proses kreatifnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan etis: apakah pantas karya manusia digunakan untuk melatih mesin tanpa persetujuan pemiliknya?

Dampak AI terhadap Seniman di Dunia Maya

Read more

Aplikasi mobile kini menjadi bagian penting dalam kehidupan dan mendukung berbagai aktivitas kita, seperti berbelanja, berkomunikasi, hingga saat kita membutuhkan hiburan. Menurut laporan Datareportal (2024), lebih dari 5,5 miliar orang di dunia menggunakan ponsel, yang sebagian besar waktunya dihabiskan dalam aplikasi. Dalam pembuatan aplikasi mobile, terdapat dua pendekatan utama, yaitu native (satu platform) dan cross-platform (banyak platform). Native biasanya menggunakan bahasa Java atau Kotlin untuk Android, sedangkan untuk iOS digunakan Swift. Sementara itu, cross-platform menggunakan framework React Native dengan bahasa JavaScript dan Flutter dengan bahasa Dart.

Salah satu framework cross-platform yang menjadi perhatian besar adalah Flutter. Diperkenalkan oleh Google pada tahun 2017, Flutter menawarkan keunggulan berupa pengembangan interface yang cepat dan performa yang bisa dibilang hampir setara dengan aplikasi native. Seperti yang dibilang oleh Tim Sneath, Product Manager Flutter di Google,

“Flutter allows developers to build beautiful, natively compiled applications for mobile, web, and desktop from a single codebase.”

Karena hal itu, Flutter kini menjadi pilihan populer bagi banyak developer dalam membuat aplikasi mobile.

Apa itu Framework dan Mengapa Menggunakannya?

Read more

Teknologi informasi terus mengalami perkembangan yang sangat cepat, membawa dampak besar dalam aspek kehidupan manusia. Dari yang awalnya membutuhkan keahlian teknis tinggi, kini banyak produk digital yang memungkinkan akses lebih sederhana bagi masyarakat umum. Salah satu inovasi paling menarik dan inklusif yang muncul belakangan ini adalah platform no-code. Teknologi ini memungkinkan siapa pun, baik dari latar belakang IT maupun non-IT, untuk menciptakan aplikasi digital tanpa perlu menulis satu baris kode pun. Hal ini membuka jalan baru bagi individu yang ingin berkontribusi dalam dunia digital.

No-code platform bekerja dengan prinsip antarmuka visual yang intuitif, di mana pengguna cukup melakukan drag and drop elemen-elemen yang dibutuhkan dalam aplikasi. Platform seperti Bubble, Glide, dan Adalo telah menjadi pionir dalam pendekatan ini. Glide, misalnya, memungkinkan pengguna membuat aplikasi mobile berbasis spreadsheet hanya dalam hitungan menit. Sementara itu, Bubble menawarkan pengalaman membangun aplikasi web yang lebih kompleks tanpa coding tradisional. Dengan sistem seperti ini, pengguna tidak perlu memahami struktur bahasa pemrograman seperti JavaScript atau Python karena semua proses teknis sudah disederhanakan. Inilah yang menjadikan no-code sebagai solusi ramah pemula dan sangat relevan untuk mendukung kreativitas digital di berbagai kalangan. Read more

Kemajuan terbaru dalam pembuatan gambar atau image generation cukup luar biasa. OpenAI, sebuah perusahaan pionir kecerdasan buatan atau artificial intelligence, pertama kali memperkenalkan DALL-E pada tahun 2021 sebagai model yang mampu menghasilkan gambar dari deskripsi teks yang diberikan pengguna. DALL-E dapat menghasilkan berbagai gambar, termasuk hal-hal yang ada atau konsep yang belum pernah terlihat sebelumnya, melalui pembelajaran mendalam (deep learning) dan jaringan saraf (neural network).

Setelah kesuksesan DALL-E, OpenAI kemudian mengembangkan DALL-E 2. Model ini mengungguli model sebelumnya dalam pemahaman deskripsi teks dan memiliki kualitas gambar yang lebih baik. DALL-E 2 bertujuan untuk menciptakan foto yang lebih realistis dengan resolusi lebih tinggi. Sistem ini juga memungkinkan pengguna mengganti area gambar tertentu dengan arahan teks, sehingga pengguna dapat mengubah area tersebut sesuai keinginan.

Pada tahun 2023, OpenAI sekali lagi membuat gebrakan melalui DALL-E 3 yang meningkatkan kapasitas pembuatan gambar mereka. Model ini dibangun di atas GPT-4 dan telah dilatih sebelumnya untuk memahami skenario yang lebih kompleks, serta memberikan hasil yang lebih sesuai dengan harapan pengguna. DALL-E 3 dapat menghasilkan gambar realistis dan artistik, seperti lukisan manusiawi, grafik, dan detail visual lainnya. Read more

Keberhasilan Tiongkok dalam merilis jaringan 10 Gbps pada April 2025 merupakan sejarah baru dalam era digital. Jaringan ini memanfaatkan teknologi 50G Passive Optical Network (PON) generasi terbaru. Teknologi tersebut memungkinkan kecepatan unduh hingga 9.834 Mbps, unggah sekitar 10.008 Mbps, dan latensi rendah 3 milidetik.

Jaringan dengan kecepatan 10 Gbps berarti mampu mentransfer data 10 miliar bit per detik. Dengan kecepatan ini, pengunduhan file besar, streaming video beresolusi tinggi, serta penggunaan aplikasi berat bisa diakses dengan mudah dan cepat. Sementara itu, latensi rendah berhubungan dengan waktu jeda minimal antara pengiriman dan penerimaan data.

Jeda waktu tersebut sangat penting dalam aplikasi real-time, seperti streaming video dan game online. Peningkatan tersebut dapat mendukung berbagai aplikasi canggih seperti streaming video 8K, virtual  augmented reality, cloud computing, serta pengembangan smart cities. Perkembangan jaringan ini merupakan langkah besar dalam mendukung kemajuan teknologi di berbagai sektor (Nainggolan, 2025).

Pemanfaatan Jaringan 10G

Manfaat penggunaan jaringan 10G dalam berbagai sektor: Read more