Di era teknologi yang semakin berkembang pesat, aktivitas penggunaan perangkat digital telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja. Kemudahan akses terhadap internet dan perangkat pintar menyebabkan interaksi digital terjadi hampir sepanjang waktu, baik untuk hiburan, komunikasi, maupun pembelajaran. Sebagian besar remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar dengan kecenderungan melakukan berbagai aktivitas secara bersamaan, seperti menjelajahi media sosial, mengecek pesan instan, menonton video pendek, atau bermain gim.

Multitasking Digital dan Munculnya Brain Rot

Pola penggunaan perangkat digital secara multitasking menjadi salah satu sumber utama rangsangan berlebihan yang berpotensi memicu kondisi brain rot. Istilah ini merujuk pada penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang bersifat cepat, dangkal, dan tidak memberi ruang bagi proses berpikir mendalam. Akibatnya, individu yang terbiasa dengan pola ini cenderung mengalami penurunan fokus, kesulitan mempertahankan motivasi dalam kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi, serta peningkatan gejala gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, stres, dan kelelahan mental.

Peran Algoritma dan Konsumsi Konten Instan

Brain rot bukan sekadar istilah populer di media sosial, tetapi gambaran nyata dari kemunduran fungsi kognitif akibat paparan intensif terhadap konten digital yang cepat dan dangkal. Platform seperti TikTok, melalui algoritma For You yang dirancang untuk menyajikan konten secara berkelanjutan dan sangat terpersonalisasi, mendorong kebiasaan konsumsi yang impulsif dan berulang. Pola ini melatih otak untuk mencari rangsangan instan, memperpendek rentang perhatian, dan mengganggu kemampuan otak untuk fokus pada satu hal dalam waktu lama. Akibatnya, generasi muda kini banyak yang mengeluhkan gejala seperti kesulitan berkonsentrasi, brain fog (pikiran yang kabur), hingga daya ingat yang melemah.

Dampak pada Fungsi Kognitif dan Kemampuan Berpikir Kritis

Read more

Manusia memiliki kebiasaan bersikap sopan kepada sesama. Tak heran jika hal ini juga diterapkan saat mereka berinteraksi dengan teknologi seperti AI. Banyak pengguna menggunakan ungkapan seperti “tolong” dan “terima kasih” untuk menunjukkan kesopanan. Namun, ternyata kebiasaan sederhana ini dapat menghabiskan biaya operasional hingga jutaan dolar.

Hal ini diungkapkan oleh CEO OpenAI, Sam Altman, pada media sosial X miliknya. Ia menyampaikan bahwa ungkapan kesopanan yang diketikkan oleh user OpenAI menghabiskan puluhan juta dolar untuk biaya listrik perusahaan. Hal ini membuktikan, meskipun terlihat sepele, setiap kata yang dimasukkan oleh pengguna memiliki dampak nyata terhadap sumber daya komputasi yang digunakan AI.

Menariknya, meskipun kata “terima kasih” dan “tolong” merupakan bentuk kesopanan, AI akan tetap memprosesnya sebagai bagian dari teks. Setiap kata dalam teks yang dimasukkan oleh pengguna akan diubah oleh sistem menjadi sebuah token atau satuan kata atau karakter yang akan dibaca dan dianalisis dengan AI. Pada ChatGPT-3.5, biayanya sekitar 0,002 dolar per 1000 token. Sementara itu, pada ChatGPT-4, biayanya sekitar 0,012 dolar per 1000 token prompt dan 0,024 dolar per 1000 token penyelesaian. Pemrosesan setiap token memerlukan daya komputasi dan listrik, yang jika dikalikan dengan jutaan prompt atau permintaan setiap hari, dapat menghasilkan biaya operasional yang sangat besar.  Read more

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana cara seorang petani mengawasi ladangnya tanpa harus terjun di lapangan secara langsung? Bagaimana jika hasil panen mereka dapat disertifikasikan secara digital, aman, dan tidak mungkin dipalsukan? Di era sekarang, dunia pertanian tidak hanya sekadar bertani secara konvensional. Lalu, bagaimana sebuah teknologi seperti Edge Computing dan Non-Fungible Token (NFT) berbasis blockchain dapat membantu di bidang pertanian agar pengelolaannya lebih efisien, transparan, dan modern? Jadi, apa itu teknologi Edge Computing dan NFT?

Apa Itu Edge Computing?

Edge Computing merupakan teknologi yang memungkinkan pemrosesan data dilakukan secara langsung di lokasi sumbernya, tanpa harus mengirim semua data ke server atau cloud. Pemrosesan data berbasis Edge Computing dapat meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem secara signifikan, yang konsepnya juga dapat diterapkan pada pertanian modern (Widyatmoko et al., 2023).

Dalam konteks pertanian, teknologi ini dapat digunakan pada perangkat sensor tanah, alat ukur kelembapan, atau bahkan kamera pemantau yang dapat dipantau dari luar area lapangan. Dengan adanya Edge Computing, para petani dapat membuat keputusan dengan tepat berdasarkan data yang sudah diolah secara langsung di tempat, misalnya untuk mengatur penyiraman secara otomatis pada tingkat kelembapan tertentu.

Pemrosesan data berbasis Edge Computing dapat meningkatkan efisiensi dalam dunia pertanian. Teknologi ini juga mempunyai keandalan yang cukup signifikan, yang konsepnya dapat diimplementasikan dalam pertanian.

Apa Itu NFT Berbasis Blockchain?

Read more

Algoritma judi online adalah sistem terprogram yang mengatur hasil permainan di platform perjudian digital dan bertujuan memastikan keuntungan jangka panjang bagi penyedia pelayanan. Inti dari mekanisme ini adalah penggunaan Random Number Generator (RNG), yaitu mekanisme yang menghasilkan angka-angka acak untuk menentukan hasil setiap permainan seperti slot, roulette, atau dadu. RNG dirancang agar setiap hasil putaran tidak dapat diprediksi dan tidak bergantung pada hasil sebelumnya sehingga tercipta sebuah ilusi peluang menang yang sama bagi setiap pemain. Selain itu, RNG juga berhubungan erat dengan yang namanya House Edge (rata-rata keuntungan yang didapatkan penyedia permainan dari jumlah taruhan yang dipasang oleh pemain).  

Pengertian RNG pada Judi Online  

RNG menjadi bagian penting dari sebuah permainan judi online. Bak sebagai tulang punggung, RNG membantu situs judi online menghasilkan algoritma keacakan angka pada sistem tanpa sebuah pola. Keacakan sistem angka ini tidak dapat diprediksi sehingga setiap putaran permainan dapat menghasilkan ilusi seakan-akan semua pemain dapat memenangkan permainan judi online. RNG dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu Pseudo-Random Number Generator (PRNG) dan True Random Number Generator (TRNG). PRNG dapat menghasilkan angka acak dengan nilai awal atau seed value, tetapi PRNG tidak sepenuhnya merupakan sistem angka acak karena harus menggunakan nilai awal dan rumus matematika (SDLC Corp, 2022). TRNG dapat menjadi solusi berikutnya karena ini menggunakan nilai fisik alami seperti nilai kebisingan atau noise pada rangkaian listrik. Namun, dalam kasus judi online, sangat jarang TRNG digunakan karena membutuhkan perangkat keras khusus untuk menjalankannya. PRNG sering digunakan oleh situs-situs judi online karena seed value-nya dapat diatur sehingga dapat membuat kemungkinan bandar judi online menang lebih besar.

House Edge, Serigala yang Menyamar Jadi Domba 

Read more

Dunia pemrograman dan ajaran Islam ternyata memiliki titik temu yang menarik untuk dibahas. Salah satu nilai utama yang terlihat jelas dalam keduanya adalah kesabaran. Seorang programmer sering kali harus menghadapi berbagai tantangan yang menuntut ketahanan mental tinggi, selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya bersabar. Ketika berhadapan dengan error yang membingungkan, algoritma yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau tekanan deadline yang semakin dekat, kesabaran menjadi kunci penting yang memberikan kekuatan dan ketenangan.

Rasulullah saw. pernah bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, seluruh urusannya selalu membawa kebaikan. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.”

Pesan ini menggambarkan pentingnya sikap sabar dalam menghadapi berbagai situasi. Dalam dunia pemrograman, kesabaran menjadi kualitas penting, terutama ketika seorang programmer harus berhadapan dengan masalah teknis seperti error yang membingungkan, debugging yang melelahkan, atau tekanan waktu yang ketat. Ketahanan mental dalam situasi-situasi ini mencerminkan semangat sabar yang diajarkan dalam Islam. Read more

Sudah pernah merasa menonton programming tutorial berjam-jam, tapi saat praktik malah bingung dan tidak tahu harus mulai dari mana? Terus merasa tidak ada perkembangan walau sudah belajar lama? Kondisi ini biasanya dikenal sebagai istilah tutorial hell.

Jadi, tutorial hell adalah kondisi ketika seseorang terus-menerus mengikuti tutorial tanpa benar-benar memahami cara membangun sesuatu secara mandiri. Keadaan ini seperti siklus yang tidak berujung; jika tidak segera diputus, akan semakin terjebak.

Penyebab terjebak di tutorial hell

Salah satu penyebab umum mengapa seseorang enggan memulai proyek sendiri adalah adanya rasa takut gagal. Orang tersebut mungkin merasa belum cukup mahir sehingga terus mencari dan mengikuti tutorial dengan harapan akan muncul rasa “siap” suatu saat nanti. Sayangnya, rasa “siap” itu tidak akan pernah datang jika tidak pernah mencoba. Read more

Pernahkah kamu menyaksikan idolamu melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan? Hal tersebut pasti membuatmu terkejut. Namun, apakah kamu tahu bahwa hal tersebut bisa saja merupakan sebuah perbuatan palsu yang sengaja diciptakan oleh seseorang?

Apa itu Manipulasi AI dan Deepfake?

Di era teknologi yang berkembang pesat saat ini, banyak sekali pihak-pihak yang memanfaatkan teknologi terkini, salah satunya adalah teknologi manipulasi kecerdasan buatan (AI). Menurut KBBI, manipulasi merupakan upaya yang dilakukan oleh suatu pihak untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pandangan orang lain tanpa disadari oleh orang tersebut. Sesuai namanya, manipulasi AI berarti suatu hal yang memanfaatkan teknologi AI untuk memanipulasi pihak tertentu.

Salah satu teknologi dari manipulasi AI ini adalah deepfake yang dapat digunakan untuk membuat foto, video, atau bahkan suara palsu yang tampak nyata dengan sumber aslinya (Vida, 2024). Teknologi ini awalnya banyak digunakan untuk hiburan di media sosial, seperti membuat suara nyanyian kita terdengar lebih bagus atau digunakan untuk meme (gambar lucu). Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi ini disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka memanfaatkan cepatnya penyebaran informasi di media sosial untuk menjadikan tokoh-tokoh terkenal atau bahkan teman dekatnya menjadi korban dari manipulasi AI.

Penyalahgunaan dan Bahaya Deepfake

Read more

Dunia telah membuktikan perkembangan teknologi komputasi yang luar biasa cepat dalam beberapa dasawarsa terakhir. Komputer yang awalnya berukuran sangat besar kini bertransformasi menjadi sebuah perangkat yang lebih praktis dan minimalis. Namun, komputasi klasik mulai menampakkan keterbatasan ketika masalah yang dihadapi manusia semakin kompleks. Di situlah komputasi kuantum lahir sebagai solusi yang menjanjikan untuk mengubah kapasitas pemrosesan data.

Konsep Dasar Komputasi Kuantum

Komputasi kuantum adalah cabang dari ilmu komputer yang menggunakan prinsip-prinsip mekanika kuantum untuk melakukan perhitungan. Tidak seperti komputer klasik yang menerapkan bit (0 atau 1), komputer kuantum menggunakan qubit (quantum bit) yang secara bersamaan bisa berada dalam superposisi dari 0 dan 1. Kini perkembangan komputer kuantum telah mencapai 7 qubit, tetapi penelitian dan analisis menunjukkan bahwa teknologi komputer kuantum dapat menjangkau 100 qubit dalam beberapa
tahun yang akan datang (Saputra, 2009, 15). Dalam dunia komputasi, peningkatan ini merupakan lompatan revolusioner karena dapat memecahkan masalah kompleks yang tidak dapat diatasi dengan komputer klasik.

Mengapa Komputasi Kuantum Revolusioner?

Read more

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa TikTok telah menjadi fenomena global dengan pertumbuhan pengguna yang sangat pesat di dunia, terutama di Indonesia. Aplikasi ini berhasil menarik perhatian jutaan orang, terutama kalangan muda, melalui fitur-fitur menarik yang memungkinkan pengguna untuk berbagi video kreatif dalam waktu singkat.

Di balik kepopulerannya, algoritma TikTok memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman pengguna dengan menyajikan konten yang dipersonalisasi berdasarkan perilaku dan interaksi mereka. Namun, meski banyak menyuguhkan hiburan, muncul kekhawatiran mengenai dampak algoritma ini terhadap pola pikir, konsentrasi, dan kualitas berpikir masyarakat, terutama generasi muda yang masih dalam tahap pembentukan pola pikir.

Cara Kerja Algoritma TikTok: Membentuk Pengalaman Pengguna yang Dipersonalisasi

Algoritma TikTok menganalisis berbagai interaksi pengguna, seperti durasi tontonan, likes, komentar, dan preferensi konten, untuk menyusun pola perilaku yang memungkinkan penyajian video yang semakin relevan dengan minat pengguna.

Salah satu fitur utama yang mendukung hal ini adalah infinite scroll, yaitu mekanisme di mana pengguna dapat terus menggulir dan menonton video tanpa batas waktu. Fitur ini dirancang untuk memanfaatkan sistem penghargaan di otak, di mana setiap video yang menarik dapat memicu pelepasan dopamin, menciptakan sensasi kesenangan yang mendorong pengguna untuk terus menonton tanpa henti (Moreira, 2023).

Selain itu, content looping memungkinkan video diputar ulang secara otomatis, memperkuat keterlibatan pengguna dengan konten tertentu. Read more

Oleh: Ahmad Fathan Hidayatullah, S.T., M.Cs., Ph.D.

AI Mengubah Lanskap Pendidikan

Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia secara signifikan. Teknologi ini menghadirkan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi dalam banyak aktivitas. Beragam AI tools hadir, seperti ChatGPT dari OpenAI, Copilot dari Microsoft Bing, Gemini (sebelumnya Google Bard), dan Claude dari Anthropic.

ChatGPT, sebagai salah satu platform AI paling populer, telah menjadi alat bantu yang sangat fleksibel dalam pendidikan. Dengan kemampuan memahami konteks, menjawab pertanyaan, dan menyusun teks secara koheren, ChatGPT mampu mendampingi pendidik dalam menyiapkan materi pelajaran, mengembangkan soal, serta memberikan umpan balik atas tugas. Bagi siswa, ChatGPT juga menjadi asisten belajar yang mampu menjelaskan topik pelajaran, memecah konsep sulit menjadi lebih sederhana, bahkan membantu menyusun draf tugas dengan cepat dan terstruktur.

AI Sebagai Mitra Pendidik dan Peserta Didik

Dalam konteks pendidikan, AI menawarkan beragam kemudahan yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas proses belajar mengajar. Bagi pendidik seperti guru dan dosen, AI dapat membantu dalam merancang materi pembelajaran yang lebih terstruktur, membuat soal evaluasi berdasarkan level kognitif tertentu (misalnya taksonomi Bloom), hingga mengoreksi tugas secara otomatis dengan analisis berbasis rubrik. AI juga mampu memberikan saran penyempurnaan materi atau metode penyampaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, terutama dalam pembelajaran daring dan adaptif.

Adapun bagi peserta didik, keberadaan tools AI dapat berperan sebagai mitra belajar yang tanggap dan fleksibel. AI mampu merespons pertanyaan, menyederhanakan informasi kompleks, serta memvisualisasikan ide dalam bentuk teks, diagram, atau kode. Hal ini sangat membantu siswa dalam memahami konsep abstrak atau teknis dengan lebih cepat dan mendalam. Selain itu, AI juga dapat digunakan sebagai alat bantu brainstorming dalam membangun ide kreatif. Misalnya, saat siswa diminta untuk menulis esai, membuat proyek inovatif, atau menyusun skrip presentasi, AI dapat memunculkan berbagai sudut pandang, contoh kasus, bahkan mengusulkan struktur penulisan yang logis. Kemampuan ini sangat bermanfaat dalam mendorong kreativitas siswa dan menghindari kebuntuan ide (writer’s block).

Sentuhan Pendidik Tidak Akan Tergantikan

Read more