Mengapa Kita Tidak Perlu Mengucapkan “Terima Kasih” dan “Tolong” kepada AI?
Manusia memiliki kebiasaan bersikap sopan kepada sesama. Tak heran jika hal ini juga diterapkan saat mereka berinteraksi dengan teknologi seperti AI. Banyak pengguna menggunakan ungkapan seperti “tolong” dan “terima kasih” untuk menunjukkan kesopanan. Namun, ternyata kebiasaan sederhana ini dapat menghabiskan biaya operasional hingga jutaan dolar.
Hal ini diungkapkan oleh CEO OpenAI, Sam Altman, pada media sosial X miliknya. Ia menyampaikan bahwa ungkapan kesopanan yang diketikkan oleh user OpenAI menghabiskan puluhan juta dolar untuk biaya listrik perusahaan. Hal ini membuktikan, meskipun terlihat sepele, setiap kata yang dimasukkan oleh pengguna memiliki dampak nyata terhadap sumber daya komputasi yang digunakan AI.
Menariknya, meskipun kata “terima kasih” dan “tolong” merupakan bentuk kesopanan, AI akan tetap memprosesnya sebagai bagian dari teks. Setiap kata dalam teks yang dimasukkan oleh pengguna akan diubah oleh sistem menjadi sebuah token atau satuan kata atau karakter yang akan dibaca dan dianalisis dengan AI. Pada ChatGPT-3.5, biayanya sekitar 0,002 dolar per 1000 token. Sementara itu, pada ChatGPT-4, biayanya sekitar 0,012 dolar per 1000 token prompt dan 0,024 dolar per 1000 token penyelesaian. Pemrosesan setiap token memerlukan daya komputasi dan listrik, yang jika dikalikan dengan jutaan prompt atau permintaan setiap hari, dapat menghasilkan biaya operasional yang sangat besar.
Sebagai contoh, masukan sederhana seperti, “Tolong berikan saya ide pembahasan untuk sebuah artikel bertema teknologi. Terima kasih” bisa menghasilkan sekitar 12-15 token. Token-token yang diterima akan diproses oleh sistem yang memerlukan biaya untuk setiap langkah pemrosesannya. Apabila jutaan pengguna memakai pola kalimat yang sama dalam setiap permintaannya, jumlah token yang harus diproses akan meningkat dan secara garis lurus akan berdampak pada konsumsi energi dan biaya yang sangat tinggi.
Berbeda dengan komunikasi antarmanusia yang memerlukan sopan santun guna membangun hubungan sosial dan rasa saling menghargai, komunikasi dengan AI sekadar bertujuan memberikan instruksi untuk mencapai hasil tertentu. Karena AI tidak memiliki kesadaran dan emosi, penggunaan bahasa sopan tidak memengaruhi kinerja maupun respon yang dihasilkan. Oleh karena itu, agar komunikasi dengan AI menjadi lebih efektif, cukup gunakan perintah yang jelas, singkat, dan langsung. Dengan begitu, proses kerja menjadi lebih efisien dan hemat sumber daya.
Sikap sopan saat berkomunikasi dengan AI sesungguhnya muncul karena kebiasaan manusia dalam berkomunikasi. Namun, karena AI tidak memiliki kesadaran atau emosi, bentuk kesopanan yang digunakan pengguna tidak berpengaruh pada respon yang dihasilkan. Sebaliknya, setiap kata tambahan seperti “tolong” dan “terima kasih” justru menambah beban komputasi dan biaya operasional yang besar karena AI memproses setiap masukan sebagai token. Penggunaan bahasa yang ringkas dan tepat membantu perusahaan teknologi untuk menghemat energi, mengurangi biaya, dan mengoptimalkan kinerja sistem. Selain itu, kita juga dapat berkontribusi pada pengurangan konsumsi energi global.
References
- Astrid, P. (2023, Juni 30). Artificial Intelligence (AI): Mengungkap Fakta di Balik AI dan Strategi Menghadapinya. REFO. Diakses pada 4 Mei 2025, dari https://www.refoindonesia.com/en/artificial-intelligence-ai-mengungkap-fakta-di-balik-ai-dan-strategi-menghadapinya-2/
- Dewi, I. R. (2025, April 25). Jangan Bilang ‘Tolong’ dan ‘Terima Kasih’ ke ChatGPT, Ini Alasannya. CNBC Indonesia. Diakses pada 1 Mei 2025, dari https://www.cnbcindonesia.com/tech/20250425070049-37-628605/jangan-bilang-tolong-dan-terima-kasih-ke-chatgpt-ini-alasannya
- Gubanova, O. (2025, April 1). How Much Does ChatGPT Interation Cost and Pay Off. Ptolemay. Diakses pada 1 Mei 2025, dari https://www.ptolemay.com/post/how-much-does-chatgpt-integration-cost-and-pay-off#how-much-does-it-cost-to-integrate-chatgpt-in-an-app-
- Ini Alasan Kata Tolong dan Terimakasih Bisa Bikin OpenAI ‘Tekor’ – Teknologi. (2025, April 28). Bloomberg Technoz. Diakses pada 1 Mei 2025, dari https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/69608/ini-alasan-kata-tolong-dan-terimakasih-bisa-bikin-openai-tekor#
- Maulida, L. (2025, April 22). Jangan Bilang “Tolong” dan “Terima Kasih” ke ChatGPT Halaman all – Kompas.com. Tekno Kompas. Diakses pada 1 Mei 2025, dari https://tekno.kompas.com/read/2025/04/22/07020087/jangan-bilang-tolong-dan-terima-kasih-ke-chatgpt?page=all
Penulis (Mahasiswa S-1 Informatika UII):
- Anindya Putri Aisyah
- Andini Putri Ramadhani
- M Bima Ramadhan

DALL-E

