Pernahkah kita melihat tulisan di dinding sebuah kantor bahwa ruang ini dipasang CCTV? Tentu saja sering kita saksikan. CCTV memiliki fungsi utama sebagai alat melihat dan mengawasi. Mengawasi keamanan dari pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan. Juga melihat kinerja karyawan di lapangan. Orang yang akan melakukan kejahatan akan berpikir lebih keras agar supaya perbuatannya tidak tertangkap oleh CCTV. Demikian pula karyawan yang akan melakukan kecurangan, tentu berpikir keras agar terhindar dari pengawasan CCTV. Sebaliknya, karyawan yang rajin dan memiliki kinerja baik akan diuntungkan oleh kehadiran CCTV karena melalui rekaman itu akan mudah terdeteksi siapa yang berkinerja baik dan kurang. Alat ini mampu melihat setiap orang yang tertangkap kamera secara kasat mata.

Read more

Islam tidak hanya mengajarkan loyalitas kepada agama, namun juga kepada tanah air tempat kelahiran. Seperti yang dicontohkan Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam dan para sahabat. Pembahasan inilah yang diangkat pada Kajian Islam Informatika edisi bulan Juli kemarin yang dibawakan oleh Ustaz Abdullah Sunono, dengan tema “Islam dan Ke-Indonesiaan”.

Tanah Tumpah Darah

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli.

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ

Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. (Ali Al-Jurjani, al-Ta’rifat, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, halaman 327)

Cinta Rasulullah Terhadap Tanah Airnya

“Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu.” (HR Ibnu Hibban).

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam, walaupun terusir dari Makkah, tetaplah beliau mencintai negeri kelahirannya tersebut. Walaupun yang disebut sebagai kota nabi adalah Madinah, sebagai tempat tinggal nabi, namun Makkah selalu punya tempat tersendiri di hati Rasulullah.

Islam Mengajarkan Berdoa Untuk Negeri

Islam banyak mengajarkan kecintaan dan doa untuk negeri tanah air. Seperti Nabi Ibrahim dan Rasulullah Muhammad yang mencontohkannya dalam Alquran dan Hadist.
Dalam Surah Albaqarah ayat 126, Nabi Ibrahim alaihissalam memanjatkan doa untuk keselamatan negeri Makkah:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,”

Rasulullah berdoa kepada Allah agar menjadikannya mencintai Madinah:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi.” (Mutafaq’ Alaih)

Membela Negeri

Islam memerintahkan kita untuk senantiasa membela negeri tanah air, utamanya jika musuh menyerang negeri kita.

  1. Hukumnya Fardhu ‘ain untuk mempertahankan negeri
  2. Istri tidak perlu izin kepada suami untuk membela negeri
  3. Anak tidak perlu izin kepada orang tua untuk membela negeri
  4. Tidak boleh mundur kecuali bergabung dengan pasukan atau merupakan strategi perang

Islam Melarang Melakukan Pemberontakan

Jumhur Ulama mengatakan bahwa tindakan pemberontakan hukumnya haram dan sanksinya adalah hukuman mati.. Tindakan makar dapat dikatakan Bughot (pemberontakan) jika telah memenuhi tiga rukun antara lain:

Pertama, tindakannya dapat menimbulkan pemberontakan kepada pemimpin yang sah. Biasanya para pemberontak tidak mau mematuhi kewajiban dan ingin menentangnya.
Kedua, tindakannya dilakukan dengan tindakan kekerasan yang didukung dengan senjata.
Ketiga, tindakannya termasuk perbuatan tindak pidana, seperti membuat kekacauan dengan maksud menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pemimpin Adalah Cerminan Rakyat

Pemimpin dan rakyat bagaikan cermin yang saling berhadapan. Pemimpin adalah representasi dari rakyatnya, rakyat adalah wajah dari pemimpin. Jika rakyat rusak, maka demikianlah wajah pemimpinnya. Seperti kata Utsman bin Affan radiyallahu anhu, “Seperti apa kalian, kalian akan dipimpin orang seperti itu.”

Ada sebuah doa yang dianjurkan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita baca di setiap pagi. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa ini setelah selesai menunaikan salat subuh. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau meriwayatkan bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pagi hari beliau membaca,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

Read more

Kita sering mendengar ungkapan “berilmu sebelum beramal”, yang maksudnya sebelum melakukan sesuatu, kita harus paham tentang sesuatu yang akan kita perbuat. Lebih lagi, jika kita ingin meraih kesuksesan dunia dan akhirat, tentu kita perlu berilmu terlebih dahulu, bukan? Dalam Pengajian Karyawan Fakultas Teknologi Industri bulan Maret kemarin, Ustaz Kholid Haryono mengangkat pembahasan “Ilmu Fondasi Sukses Dunia Akhirat”.

 

Masalah Kontemporer Setelah Berakhirnya Wahyu

Setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab -radiyallahu anhuma- mengunjungi Ummu Aiman dan mendapatinya sedang menangis. Saat ditanyai, Ummu Aiman -radiyallahu anha- berkata, ”Aku menangis bukan karena tak tahu bahwa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah, tapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terhenti”

Terhentinya wahyu ini yang membuat para sahabat juga ikut khawatir, bagaimana ayat-ayat yang terbatas dapat menyelesaikan masalah-masalah baru di setiap zaman yang tidak terbatas. Padahal dalam Surah An Nahl ayat 89, Allah azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk.”

Serta pada Surah Anbiya ayat 107,

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Kedua ayat ini dapat menepis anggapan sekelompok orang zaman sekarang yang menganggap Alquran dan hadis  sudah tidak relevan lagi. Padahal, Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai petunjuk bagi seluruh alam pada setiap zamannya, baik hari ini maupun di masa depan.

 

Bagaimana Ulama Membahas Masalah Kontemporer

Dalam menghadapi urgensi permasalahan kontemporer, para ulama menempuh beberapa tahap sebelum mengambil tarjih (kesimpulan) atas persoalan itu.

1. Memahami konteks
Tentu saja permasalahan yang ada di zaman sekarang juga perlu dipahami konteksnya sesuai cara kerjanya masing-masing. Contohnya dalam model-model bisnis baru yang tidak ada di zaman Rasulullah.

2. Mencari Ushul atau dalil asal
Setelah memahami konteks, para ulama mencari apakah ada dalil yang memiliki kedekatan dengan persoalan yang sedang dibahas.

3. Mencari pendapat ulama terdahulu
Dalil yang didapatkan juga perlu dilihat melalui pemahaman ulama terdahulu seperti keempat imam mazhab.

4. Mengambil kesimpulan atau tarjih
Setelah ketiga langkah, kemudian ulama mengambil tarjih atau kesimpulan. Pada tahap ini, seringkali terjadi khilaf atau beda pendapat. Namun karena telah melalui ketiga langkah sebelumnya, pendapat-pendapat tersebut bersifat furuiyah atau cabang, sehingga perlu dimaklumi.

Kias Kisah Elon Musk dan Cara Belajar Ulama

Kisah Elon Musk, seorang pengusaha dan inventor yang di zaman ini mendapat kesuksesan yang besar berawal dari giatnya ia menuntut ilmu. Lantas bagaimana Elon Musk bisa belajar begitu giat dan menjadi inventor handal? Yang pertama, ia fokus dengan ilmu dan permasalahan asal atau ibaratnya, pohon. Kemudian ia baru fokus kepada ilmu-ilmu dan masalah-masalah pada cabang dan rantingnya.

Cara Elon Musk ini juga dapat dikiaskan dengan cara menuntut ilmu para ulama. Para ulama terdahulu fokus pada ilmu ushul, baru setelah menguasainya mulai membahas ilmu-ilmu cabang. Kata kuncinya adalah kembali pada ilmu dasarnya.

Menghafal

Ulama terdahulu, contohnya Imam Syafi’i mulai menuntut ilmu dengan menghafal ilmu-ilmu dasar. Para ulama juga menyarankan untuk memulai dengan menghafal, karena tidak ada seorang pun yang mendapatkan pemahaman tanpa kehendak Allah.

Ustaz Kholid Haryono mecontohkan dengan salah satu programnya di masjid tempat tinggalnya di mana beliau mengajak jamaah untuk menghafalkan Alquran satu ayat satu hari. Setelah menghafal, barulah jamaah dapat memahami sedikit demi sedikit maksud ayat tersebut. Contohnya saat mendengar ceramah atau kajian yang menyebutkan salah satu ayat yang mereka hafal. Karena telah familiar dengan ayat tersebut, maksud penceramah jadi lebih mudah tersampaikan.

 

Pentingnya Menuntut Ilmu

Pada Surah At-Taubah ayat 122, Allah azza wa jalla berfirman,

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.

Ayat ini membuktikan bahwa menuntut ilmu sangatlah penting. Padahal, ikut ke medan perang membela agamanya juga tidak kalah pentingnya bagi seorang muslim.

Semoga kajian ini dapat menambahkan semangat kita belajar, menuntut ilmu di jalan Allah, baik ilmu agama maupun ilmu dunia yang bermanfaat bagi orang banyak.

Kajian Islam Informatika edisi Mei menangkat persoalan yang sedang menjadi fenomena saat ini, yaitu  E-Money dan Cryptocurrency dalam pandangan Islam. Pro-kontra terus terjadi mengenai boleh atau tidaknya keduanya digunakan menurut hukum Islam. Atas urgensi tersebut, berikut kami sajikan rangkuman dari kajian yang dibawakan oleh Ustaz Nur Kholis tersebut.

E-Money dan Cryptocurrency

Mata uang elektronik (e-money) dan mata uang kripto (cryptocurrency) adalah dua hal yang makin marak digunakan belakangan ini. Perkembangan dunia di sekitar kita yang makin go-digital mendorong kehadiran kedua hal yang beberapa dekade sebelumnya tidak ada ini. Kamu termasuk pengguna e-money dan cryptocurrency?

Untuk menyikapi kehadiran dua ‘uang baru’ ini, ada baiknya kita juga melihat melalui perspektif syariah. Tentu perdebatan sering terjadi jika membahas masalah ini. Namun pada akhirnya, Islam selalu punya jawaban, bukan?

 

E-Money menurut fatwa DSN MUI dan perspektif keuangan syariah

Menurut fatwa DSN MUI, uang elektronik adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur berikut:

  1. diterbitkan atas dasar jumlah nominal uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit;
  2. jumlah nominal uang disimpan secara elektronik dalam suatu media yang teregistrasi;
  3. jumlah nominal uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan; dan
  4. digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagan yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut.

Uang elektronik pada dasarnya sama seperti uang biasa, memiliki fungsi dan nilai yang sama, namun dalam bentuk yang berbeda. E-money ini bergantung pada substansi dan barang yang ditransaksikan. Jadi bisa disimpulkan, bermuamalah dengan uang elektronik adalah mubah, sah, dan halal, selama memenuhi prinsip-prinsip syariah muamalah.

Sekilas Tentang Cryptocurrency

Mata uang kripto adalah mata uang digital yang tidak tersentralisasi oleh bank, dan dibuat menggunakan teknologi enkripsi komputer yang terekam dalam platform Blockchain. Transaksi mata uang kripto dilakukan tanpa perantara, artinya pembayaran digital langsung dari pengirim ke penerima. 

Salah satu uang kripto yang paling dikenal adalah Bitcoin yang juga dikenal sebagai cryptocurrency pertama. Bitcoin ini dibuat oleh seorang pemrogram dengan pseudonim Satoshi Nakamoto. Seiring berjalannya waktu, banyak bermunculan mata uang kripto yang baru. Berapa banyak? Ratusan!

Fenomena dan Pro-Kontra Cryptocurrency di Indonesia 

  • Di awal 2021, Bitcoin jadi salah satu di antara banyak aset kripto yang nilainya naik berkali-kali lipat. Kenaikan yang begitu cepat ternyata juga diikuti penurunan tajam yang terjadi bulan Mei kemarin. Fluktuasi yang tidak stabil ini membuat perdebatan tentang aset kripto jadi kian panas.
  • Di Indonesia sendiri, perdagangan mata uang kripto dilegalkan dalam Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka. Meski begitu, regulasi yang masih baru ini tetap bisa menimbulkan risiko bagi nasabah mata uang kripto.
  • Cryptocurrency sebagai alat pembayaran masih jadi perdebatan di Indonesia dan negara-negara lain. Salah satunya adalah belum terpenuhinya unsur dan kriteria Bitcoin dan mata uang digital lainnya sebagai mata uang yang berlaku. Bahkan Bank Indonesia melarang penggunaan mata uang kripto sebagai alat pembayaran dan hanya mengakui Rupiah.

 

Cryptocurrency menurut DSN-MUI

DSN-MUI belum/tidak merilis fatwa terkait hukum fikih transaksi dengan Bitcoin. Namun bisa ditinjau dengan melihat syarat-syarat suatu benda dapat dikatakan sebagai uang menurut Al-Ghazali:

  1. uang tersebut dicetak dan diedarkan pemerintah,
  2. pemerintah menyatakan bahwa uang tersebut merupakan alat pembayaran yang resmi di suatu wilayah, dan
  3. pemerintah memiliki cadangan emas dan perak sebagai tolak ukur dari uang yang beredar.

Persoalan mata uang kripto ini juga mulai sering dibahas oleh ulama-ulama islam karena tentu, perspektif islam sangat dibutuhkan melihat fenomena yang terjadi sekarang.

 

Menyikapi E-Money dan Cryptocurrency

  • DSN-MUI telah merilis fatwa mengenai mengenai penggunaan uang elektronik. Namun, tetap perlu berhati-hati dalam menggunakannya dengan mengikuti batasan syariah dalam bermuamalah dan memperhatikan akad transaksi yang terjadi.
  • Masih minimnya regulasi cryptocurrency berpotensi menimbulkan penyalahgunaan. Untuk menghindari mudarat, ada baiknya menunggu regulasi resmi, terutama fatwa ulama terkait kegiatan muamalah tersebut.
  • Perlu diperhatikan, bahwa pada dasarnya dalam segala kondisi, perlunya menerapkan kaidah “Menolak kerusakan lebih utama daripada menarik kemaslahatan”.

Kajian Islam Informatika edisi bulan Maret 2021 dilaksanakan dengan mengangkat tema yang menarik, Islam dan Disabilitas, dan dibawakan oleh Ustaz Dr. Yudi Prayudi, M.Kom.  Kajian rutin bulanan ini juga dihadiri perwakilan adik-adik penghafal Alquran dari Madrasah Tuli Darul Ashom.

Tema Islam dan Disabilitas diangkat guna membahas kehadiran penyandang disabilitas atau orang-orang dengan kemampuan fisik berbeda dalam masyarakat sedari dulu, dan bagaimana posisi mereka dipandang dalam Islam.

Disabilitas dalam Alquran dan Hadis

لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu…” (An Nur: 61)

Dalam potongan Surat An Nur ayat 61 di atas, ditegaskan bagaimana Islam menganggap sama dan setara orang-orang yang dengan keterbatasan fisik dengan orang-orang lainnya. Islam mengecam sikap diskriminatif terhadap penyandang disabilitas. Lebih lagi, sikap diskriminatif termasuk kesombongan dan akhlak buruk.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut.” (Abu Daud)

Keterbatasan fisik merupakan salah satu ujian yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, dan sesuai hadis di atas, dengan ujian inilah, derajat kemuliaan yang tidak bisa dicapai hanya dengan amal akan diberikan.

Tuli, Bisu, Buta

Istilah tuli, bisu, buta juga digunakan sebagai tamsil (umpama) dalam beberapa ayat Alquran.

صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ

“Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.” (Al Baqarah: 18)

Dalam ayat di atas, tuli, bisu, dan buta tidaklah membicarakan kondisi fisik tertentu, melainkan sebagai perumpamaan (tamsil). Dalam tafsir, orang munafik tidak hanya seperti orang yang kehilangan cahaya terang, namun juga seperti telah kehilangan indra-indra pokok. Mereka dikatakan tuli karena tidak mendengarkan kebenaran, bisu karena menolak mengucap kebenaran, dan buta karena menolak melihat kebenaran.

Kaidah Fikih Disabilitas

Syekh Ibrahim al-Baijuri dari Al Azhar berkata dalam Hasyiyat al-Baijuri ala Jauharat at-Tahuid,

“Sebagian para imam mazhab Syafi’iyah berkata: ‘Bila Allah menciptakan seorang manusia tunanetra sekaligus tunarungu, maka gugurlah kewajiban berpikir tentang Tuhan dan segala tuntutan hukum baginya.’ Itu adalah pendapat yang sahih, seperti dalam penjelasan penulis.”

Pendapat ini disandarkan kepada firman Allah:

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (Al Isra: 15)

Ustaz Yudi Prayudi menambahkan perlunya kajian-kajian fikih yang membahas disabilitas mengingat urgensi yang ada dalam masyarakat.

Madrasah Tuli Darul Ashom

Alfatihah bahasa isyarat

Santri tuli mencontohkan Alfatihah dalam bahasa isyarat.

Setelah penyampaian materi, adik-adik penghafal Quran beserta pimpinan pengasuh Madrasah Tuli Darul Ashom ikut memberi penjelasan kegiatan menghafal Alquran di pesantren mereka.

Ustaz Abu Kafi menjelaskan, salah satu kesulitan dalam menghapal Alquran bagi santri tuli adalah harus mengingat huruf per huruf dari ayat yang dibaca. Sebelum mulai menghapal, para santri diajari 26 huruf hijaiyah dalam bahasa isyarat. Beliau menambahkan, rata-rata santri dapat menghapal satu ayat per harinya. Sebagai tahap awal, santri akan menghapal surat Alfatihah selama satu minggu.

Selain menghapal Alquran, adik-adik dari pesantren Darul Ashom juga diajari hal-hal lain seperti salat. Dalam salat, penyandang tuli juga membaca bacaan salat di dalam hati tanpa isyarat fisik.

huruf-huruf hijaiyah dalam bahasa isyarat

Peran Informatika

Keterbatasan yang dialami Teman Tuli ini adalah tantangan bagi teman-teman Informatika untuk berkarya dan menggunakan kemampuan mereka dalam memperbaiki kondisi ini. Beberapa dari banyak karya teknologi yang pernah dihasilkan adalah aplikasi penerjemah SIBI (sistem bahasa isyarat Indonesia) yang dibuat oleh Dr Erdefi Rakun dari Filkom UI, atau aplikasi Quran Isyarat dari tim pengembang UMMI. Tentu, masih banyak hal yang dibutuhkan Teman Tuli yang diharapkan bisa diselesaikan dengan teknologi dan menjadi tantangan teknologi yang perlu diselesaikan.

 

 

Lebah merupakan salah satu makhluk yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Bahkan salah satu surat di dalam Alquran bernama Surat An Nahl yang berarti lebah. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin lebah (lebah madu) merupakan sesuatu yang tidak signifikan di pandangan kita, kita cenderung mengabaikannya. Namun sebagai seorang muslim, kita diminta untuk memiliki cara berpikir yang berbeda, salah satunya adalah dengan belajar, refleksi, dan mengambil hikmah dari hal-hal di sekitar kita, termasuk mengambil pelajaran dari lebah.

Read more

Fenomena makanan yang terbuang percuma telah menjadi isu global. Menurut UN Food and Agriculture Organizations (FAO), 1.3 miliar ton makanan terbuang percuma di seluruh dunia tiap tahunnya. Sampah makanan yang membusuk akan menghasilkan gas metan yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya pemanasan global. Emisi yang dihasilkan sampah makanan ini dapat melonjak dari 0.5 Giga Ton setara karbon dioksida, menjadi 1,9 – 2.5 GT per tahun pada pertengahan abad ini (Guardian, 2016).

Read more

Baru-baru ini saya menonton sebuah video di Facebook tentang Abu Dhabi International Book Fair 2018. Dalam video tersebut, sang presenter mengutip sebuah studi yang dilakukan oleh Arab Knowledge Foundation yang menyatakan bahwa anak-anak di negara-negara Barat membaca selama rata-rata 200 jam per tahun. Sementara itu, anak-anak di dunia Arab membaca hanya 6 menit/tahun. Mendengar informasi ini saya sangat terkejut, sama terkejutnya dengan orang-orang (mayoritas orang Barat) yang diwawancarai oleh sang presenter dalam video tersebut ketika mendengar informasi itu.

Read more

Kehidupan di dunia terkadang membuat kita merasa penat dan lelah. Bersabarlah, karena hidup di dunia ini hanya sementara. Kita sebagai seorang mukmin sudah pasti akan mendapati cobaan dan musibah dalam kehidupan. Rintangan kehidupan akan selalu datang silih berganti tiada henti. Tidak mengapa, engkau tidak sendiri, karena sejatinya manusia hidup di dunia ini tidak terlepas dari adanya rintangan kehidupan.

Read more