Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentu terdapat berbagai macam permasalahan. Permasalahan tersebut muncul pada setiap aspek kehidupan manusia. Lama-kelamaan, masalah-masalah ini akan menumpuk dan menjadi beban pikiran seseorang. Beban-beban tersebut nantinya akan menjadi cikal bakal timbulnya masalah kesehatan mental atau jiwa seseorang.

Orang yang memiliki masalah kesehatan mental biasanya sering berhalusinasi, tidak bisa mengontrol diri baik dari segi emosi maupun perbuatan, dan lain sebagainya. Jika terjadi secara berkelanjutan, kondisi tersebut dapat mengakibatkan masalah kesehatan mental yang serius, baik secara fisik maupun psikis. Seseorang yang telah terkena masalah kesehatan mental dapat disembuhkan melalui cara medis ataupun nonmedis. Salah satunya adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam perspektif agama Islam, menjaga kesehatan mental merupakan sebuah kewajiban dan keharusan yang wajib dilakukan oleh setiap individu. Hal ini karena kesehatan mental yang baik dapat membantu seseorang dalam melaksanakan ibadah dengan baik dan membangun hubungan yang selaras dengan sesama. Ajaran agama Islam telah banyak memberikan panduan kepada manusia dalam menghadapi  dan mengatasi tantangan. Dengan menghayati dan mengikuti ajaran Islam, seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup di dunia dan akhirat.

Sebelum masuk ke penjelasan tentang cara menjaga kesehatan mental, ada baiknya kita kenali terlebih dahulu ciri-ciri gangguan mental dan mental yang sehat. Setelah mengetahui ciri-ciri dari gangguan mental, seseorang dapat sesegera mungkin mencegahnya.

Ciri-Ciri Mental Sehat

Read more

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah, sebagai hamba Allah yang selalu dalam lindungan-Nya, kita harus senantiasa memperbanyak ibadah dan mengingat Allah dalam setiap waktu. Salah satu ibadah yang memiliki keutamaan paling besar di antara ibadah-ibadah lainnya adalah salat, terutama salat lima waktu atau salat fardhu. Salat fardhu merupakan ibadah wajib yang dilaksanakan oleh umat muslim setiap harinya.

Apa Itu Salat Bardain?

Dalam Islam, ada dua salat fardhu yang memiliki keutamaan yang luar biasa, yaitu salat Bardain atau salat Subuh dan Ashar. Kedua salat tersebut memiliki keutamaan lebih besar dibanding salat wajib lainya. Salat Subuh merupakan salat dua rakaat yang dilaksanakan saat munculnya cahaya kemerah-merahanan dari ufuk timur sampai sebelum matahari terbit di ufuk timur. Jumlah salat Subuh adalah dua rakaat yang diakhiri dengan satu salam. Sementara itu, salat Ashar merupakan salat empat rakaat yang dilaksanakan saat sore hari menjelang terbenamnya matahari di ufuk barat.

Bagi sebagian orang, mengerjakan salat Subuh mungkin merupakan hal yang berat. Seperti contoh, para mahasiswa yang terkadang bingung menata jadwal tidur sehingga tidak jarang ada yang tidur terlalu larut. Bergadang dan bangun siang ini membuat mereka menyepelekan salat yang juga merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam, yaitu salat Subuh. Waktu salat Subuh yang begitu pagi terkadang memberatkan seseorang untuk bangun dari nyenyaknya tidur dan mengambil wudhu untuk melaksanakan salat Subuh.

Salat Ashar memiliki keutamaan yang tidak kalah dengan salat Subuh. Namun, pada beberapa kasus, sering kali sebagian dari umat Islam itu sendiri menyepelekan salat Ashar karena beberapa alasan. Kesibukan dari aktivitas sehari-hari membuat mereka sulit mengatur waktu untuk melaksanakan salat Ashar.

Berdasarkan penjelasan di atas, tanpa kita sadari, banyak hal yang sering kali membuat sebagian muslim meninggalkan salat Subuh dan Ashar ataupun melaksanakannya tetapi tidak tepat waktu. Artikel ini bertujuan memaparkan beberapa keutamaan dari salat Subuh dan salat Ashar yang diriwayatkan pada beberapa hadis. Read more

Puasa pada bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Islam di seluruh dunia. Kita dianjurkan berpuasa karena puasa dapat melatih kesabaran dan membersihkan diri dari dosa, yang mana terkadang kita sebagai mahasiswa sering menyepelekan puasa ini.

Dalam hadits Qudsi, Allah Swt. berfirman:

“Setiap amalan anak Adam adalah miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah kawan, setelah mendengar hadis di atas, semoga kita bisa semakin termotivasi untuk melakukan ibadah puasa, ya.

Allah Swt berfirman pada surah Al Baqarah ayat 183 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. (Berpuasa) agar kamu bertakwa.”

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata,

“Rasulullah saw. bersabda: ‘Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semakin tambah semangat ‘kan untuk menjalani puasa Ramadan? Nah kawan, setelah kita tahu nih pentingnya menjalani puasa Ramadan, pada tahu tidak apa saja yang dapat menyebabkan pahala puasa kita berkurang? Berikut merupakan beberapa perkara yang dapat mengurangi pahala puasa: Read more

Penulis: Farras Rana Pradhana

Dalam rangka menyambut 1 Muharram 1445 H atau tahun baru Islam yang jatuh pada tanggal 19 Juli 2023, kita sebagai umat muslim seharusnya dapat menunjukkan rasa antusias yang lebih besar dibandingkan menyambut tahun baru Masehi. Bulan Muharram merupakan bulan pembuka dalam penanggalan tahun Islam (Hijriyyah). Sejarah 1 Muharram adalah tanda peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. 

Bulan Muharam, Bulan Mulia

Islam memiliki 12 bulan dalam satu tahun dan empat bulan di antaranya adalah bulan yang paling dimuliakan oleh Allah Swt. atau yang kerap disebut sebagai bulan haram. Hal itu tercantum dalam Surat At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ – ٣٦

Artinya: Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. (QS. At-Taubah [36]: 9).

Adapun empat bulan haram (mulia) tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh at-Thabrani dalam tafsirnya, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Muharram adalah bulan yang dimuliakan bahkan sebelum datangnya Islam. Lafaz Muharram memiliki arti ‘dilarang’. Maksudnya adalah sebelum ajaran Islam datang, pada bulan ini terdapat larangan untuk melakukan perbuatan dzalim baik untuk diri sendiri maupun orang lain, seperti peperangan. 

Pahala yang Berlipat Ganda

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa amalan ibadah selama bulan haram, pahalanya akan dilipatgandakan. Hal ini berlaku untuk amalan buruk di empat bulan haram tersebut juga akan dilipatgandakan. Hal tersebut dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir yang menjelaskan, “Allah Swt. mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa di samping melipatgandakan perbuatan baik.” Oleh karena itu, sebagai umat muslim kita harus menyambut 1 Muharram dengan penuh sukacita. Read more

Oleh: Novi Setiani

“Kamu harus punya self-love, belajar mencintai dan menerima dirimu sendiri.”

Self-love dulu ah… Setelah selesai submit tugas, aku mau jalan-jalan.”

Mungkin kita pernah mendengar kalimat-kalimat di atas, atau mungkin kita sendiri yang mengucapkannya. Dari segi arti bahasa, self-love dapat diartikan sebagai perilaku mencintai, menerima, dan menghormati diri sendiri. Perilaku ini tercermin dari beberapa hal, antara lain tidak berlarut-larut dengan rasa kecewa ketika mengalami kegagalan atau penolakan, percaya dengan kemampuan diri sendiri, memiliki pikiran positif terhadap diri sendiri, serta menerima segala kelebihan dan kekurangan diri. Namun, sering juga self-love dimaknai sebagai memanjakan diri sendiri dengan berbagai aktivitas yang disukai setelah berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas yang menumpuk.

Bagaimana sebenarnya memaknai self-love dari sudut pandang seorang muslim?

Read more

Oleh: Ahmad Luthfi

Bismillahirrohmanirrohim.

Dalam kesempatan menulis singkat di pojok dakwah informatika kali ini, izinkan al-faqir untuk menyampaikan satu tema terkait peran sains forensik digital dalam meniti kebenaran dan keadilan dalam perspektif islam. 

Pendahuluan

Dalam ajaran Islam, pentingnya menegakkan keadilan menjadi tugas utama bagi semua orang tanpa terkecuali. Salah satu ayat Al-Qur’an tentang keadilan terdapat pada Surah An-Nisa (4) ayat 135. Ayat tentang keadilan ini sering kali kita jumpai di berbagai tempat, bahkan terpasang di dinding jalan masuk perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Harvard, USA, sebagai salah satu ekspresi dan frase artikulasi terbesar tentang keadilan dalam sejarah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

Artinya: 

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” [QS. An-Nisa [4]: 135].

Ilmu forensik, juga dikenal sebagai sains forensik, adalah sebuah bidang ilmu yang mempelajari teknik dan metodologi untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memeriksa berbagai bahan bukti yang terkait dengan penyelidikan kejahatan [1, 2]. Dengan menggunakan sains forensik, hasil investigasi yang ketat dan objektif dapat membantu mengidentifikasi pelaku, menghubungkan berbagai kejahatan, atau mengungkap pola kejahatan khusus [2]. Melalui pendekatan yang didasarkan pada metode ilmiah dan standar yang terdefinisi, sains forensik memberikan kontribusi terhadap keamanan masyarakat dan perlindungan individu-individu yang diduga terlibat dalam kasus kejahatan dengan prinsip-prinsip keadilan [3-5].

Sains Forensik dalam Peradaban Islam

Read more

Oleh: Aridhanyati Arifin, S.T., M.Cs.

Itulah pertanyaan yang kerap dilontarkan di awal pertemuan mata kuliah Bahasa Arab. Sejak tahun 2016, Program Studi Informatika – Program Sarjana FTI UII mulai memberlakukan mata kuliah Bahasa Arab dalam kurikulumnya. Persepsi yang jamak dimiliki masyarakat, bahasa Arab hanya dipelajari di jurusan-jurusan yang berkaitan dengan ilmu agama Islam, di pondok-pondok pesantren, atau di lembaga-lembaga bahasa asing. Umumnya, tujuan belajar pun disesuaikan dengan kepentingan masing-masing, apakah kepentingan akademik atau kepentingan karier. Maka, wajar jika pertanyaan ini muncul. Padahal, belajar bahasa Arab memiliki urgensi yang sangat penting diketahui semua umat Islam apapun bidang ilmu/kariernya. 

Urgensi belajar bahasa Arab adalah sebagai berikut:

1. Belajar bahasa Arab merupakan suatu kewajiban.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Syafii (w. 204 H) sbb:

Wajib bagi setiap muslim belajar bahasa Arab sesuai dengan kesanggupannya agar benar dalam bersyahadat lâilaha illallâh dan muhammadun abduh wa rasûluh, membaca Kitabullah, melafazhkan dzikir yang diwajibkan atasnya seperti takbir, tasbih, tasyahhud, dan lain-lain. Jika dia berkenan mendalami bahasa yang dijadikan Allah sebagai bahasa penutup para nabi-Nya dan bahasa kitab terakhir yang diturunkan-Nya ini, maka itu lebih baik baginya.”

Syaikhul Islam (w. 728 H) juga berkata:

Bahasa Arab itu bagian dari agama. Mempelajarinya adalah sangat diwajibkan karena memahami al-Kitab dan as-Sunnah adalah wajib, dan keduanya tidak bisa dipahami kecuali dengan bahasa Arab. Kewajiban yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib. Kemudian, di antara bahasa Arab itu ada yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu kifayah” (Iqtidha Shirathal Mustaqim: 207).

2. Bahasa Arab adalah bahasa Islam.

Al-Qur’an dan Hadits datang dalam bahasa Arab. Allah Swt. berfirman, Read more

Oleh Ari Sujarwo

Islam, Landasan Inti

Islam dikenal sebagai agama yang tidak hanya mencakup ritus hubungan makhluk dengan khaliknya, tetapi juga menawarkan lengkapnya pembahasan hingga ke tataran peradaban. Islam yang lengkap dan sempurna menjadi faktor penting dalam menuju kepada gagahnya peradaban yang jika dihitung, kiranya sudah lebih dari 1444 tahun usia peradaban ini. Tentu dinamika selalu ada. Di bilangan usia yang tidak singkat itu, beragam cerita dilalui, manis getirnya hidup menjadi kisah yang tidak terpisahkan dari berkembangnya Islam. 

Ruang lingkup pembahasan mengenai Islam bisa didekati dengan 5W+1H, why-what-which-when-who dan how, yang terwakilkan kepada aqidah, syariah, dan dakwah. Pertanyaan why menjawab perkara aqidah, mengenai alasan manusia dihidupkan di muka bumi. Kemudian what dan which mewakili syariah, yaitu tentang apa saja yang manusia perlu taati, bersama dengan when yang menerangkan kapan saja ketaatan kepada Allah SWT harus diwujudkan, serta who yang memberikan petunjuk mengenai aktor yang dikenai hukum. Terakhir, how mengenai bagaimana dakwah menjadi cara bagaimana manusia memahami Islam.

Pertanyaan why berkait dengan aqidah Islam, yaitu ikatan berbasis kesadaran manusia sebagai makhluk atas hubungannya dengan Allah Swt. sebagai khalik. Berbekal kesadaran ini, muncul alasan kuat yang menjadi dasar akan perlunya manusia untuk taat kepada Allah sejak para sahabat yang mendampingi Rasulullah, para tabiin, tabiit tabiin, hingga manusia yang hidup di hari ini. Dalam masa awal dakwah, Rasul saw. bersama para sahabat nabi yang mulia memperbaiki aqidah manusia agar menundukkan dirinya kepada Islam. Sahabat nabi adalah manusia yang mengenal, melihat langsung, dan berjuang bersama nabi saw. dan meninggal dalam keadaan beragama Islam. Para sahabat nabi memiliki peran besar dalam menorehkan sejarah yang membentuk peradaban Islam hingga hari ini. Tentu dengan perjuangan yang tidak ringan di tahap-tahap awal turunnya Islam. Peran-peran sahabat ini menarik untuk diulas lebih lanjut untuk memahami bagaimana kita semestinya bersikap terhadap keberadaan Islam sebagai petunjuk di kehidupan kita. 

Menuju Kemajuan Islam

Ramadan, Turunnya Wahyu Pertama

Nabi saw. diangkat sebagai utusan Allah Swt. pada usia Beliau yang ke-40, yaitu pada 611 tahun masehi. Ini ditandai dengan diturunkannya wahyu pertama kali melalui malaikat Jibril di Gua Hira. Sejak saat itu, berangsur ayat-ayat Al Quran turun berkaitan dengan kejadian-kejadian yang berlangsung. Meski, Al Quran sendiri menurut beberapa literatur, sebagai perkataan atau firman Allah turun ke langit dunia dalam satu kesatuan penuh yang juga turun di bulan Ramadan.

Nabi saw. menyampaikan risalah-risalah yang turun kepada umat manusia, terutama kepada para sahabat dalam sebuah kerangka yang para ulama menyebutnya tatsqif, yaitu proses penyampaian pengetahuan yang berdasar akidah Islam atau tsaqofah Islamiyah. Tatsqif merupakan tahapan pertama dalam fase dakwah Rasulullah saw. Ayat-ayat Al Qur’an pada awalnya disampaikan secara tertutup, salah satunya di rumah sahabat Arqam, hingga Allah Swt. perintahkan untuk dakwah secara terbuka. Pada situasi ini, Rasulullah mulai masuk ke fase dakwah yang kedua, yaitu tafa’ul maal ummah, atau menginteraksikan Islam kepada umat. 

Pertentangan Qurays di Makkah

Read more

Penulis: Dhoni Mukhlisin

Setelah menjalani puasa dan ujian di bulan Ramadan yang penuh keberkahan, umat Islam diharapkan mampu mempertahankan dan meneruskan amalan-amalan selama bulan Ramadan. Idulfitri menjadi pertanda bahwa bulan Ramadan berlalu. Kini, umat Islam dihadapkan dengan bulan Syawal yang memiliki keutamaan tersendiri. Syawal bermakna sebagai bulan peningkatan ibadah atau bulan akselerasi amal. Lalu, ibadah apa saja yang dapat kita amalkan di bulan Syawal ini?

Berpuasa

Bulan Syawal adalah bulan yang tepat bagi umat Islam untuk kembali merasakan nikmatnya ibadah puasa. Rasulullah menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan puasa selama enam hari di bulan Syawal. Banyak pahala yang akan didapat bila kita menjalankan ibadah puasa ini, bahkan setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw. dalam salah satu hadis, yang artinya: “Barangsiapa puasa Ramadan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh. (HR Muslim).

Puasa Syawal bisa menjadi pertanda diterimanya puasa di bulan Ramadhan. Artinya, orang yang mengerjakan puasa enam hari di bulan Syawal menunjukkan bahwa puasanya selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif mengatakan: “Tanda-tanda diterimanya ketaatan adalah dengan konsisten terus beribadah setelahnya. Dan tanda-tanda ditolaknya ketaatan adalah dengan melakukan kemaksiatan setelahnya. Betapa mulianya suatu ibadah yang dilakukan setelah ibadah yang lain, dan betapa jeleknya sebuah keburukan yang dilakukan setelah ibadah.” Selain itu, puasa Syawal bisa menjadi penutup kekurangan-kekurangan yang bisa menghilangkan kesempurnaan puasa selama bulan Ramadan. Read more

Penulis: Ahmad Fathan Hidyatullah

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam, salah seorang nabi dan rasul yang dikisahkan di banyak tempat dalam Al-Qur’an. Kisah ini diambil dari Al-Qur’an surat Al-Qashash, yaitu ketika Nabi Musa ‘Alaihissalam pergi dari Mesir menuju ke Madyan. Beliau melarikan diri dari kejaran tentara Firaun setelah tidak sengaja memukul seseorang dan kemudian meninggal. Kemudian sampailah Nabi Musa ‘Alaihissalam di tengah gurun di negeri Madyan yang di sana terdapat sumber air untuk minum. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِى حَتَّىٰ يُصْدِرَ ٱلرِّعَآءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. (QS. Al-Qashash [28]: 23)

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (QS. Al-Qashash [28]: 24)

Pada saat itu, Nabi Musa ‘Alaihissalam berada dalam kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Pertama, beliau adalah orang yang sedang dalam pengejaran tentara Firaun karena tidak sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Beliau merasa sangat bersalah dan takut atas kejadian tersebut. Kedua, beliau sedang berada di negeri orang tanpa bekal apapun, kecuali hanya pakaian yang melekat di badan saja. Ketiga, beliau merasakan keletihan, kehausan, dan kelaparan setelah menempuh jauhnya perjalanan. Namun, di balik kondisi tersebut, ketika beliau melihat ada dua orang perempuan yang mengalami kesulitan, tanpa berpikir panjang beliau langsung bergegas untuk menolongnya. Dari sini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Read more