Kehidupan mahasiswa identik dengan aktivitas padat. Mulai dari mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas-tugas akademik yang menumpuk, hingga terlibat aktif dalam kegiatan organisasi kampus yang menyita waktu. Rutinitas padat ini sering kali mengakibatkan mahasiswa mengalami kelelahan jiwa dan raga. Kondisi ini berpotensi melemahkan keimanan dan menjadikan hati mudah gelisah. Dzikir menjadi solusi sederhana yang memiliki kekuatan besar untuk menjaga keseimbangan spiritual dan memperkuat keimanan seseorang di tengah padatnya aktivitas.

Allah Swt. telah menegaskan tentang kekuatan dzikir melalui firman-Nya yang tertuang dalam Surah Ar-Ra’d : 28

اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ​ ؕ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ ؕ‏

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa dzikir tidak hanya sebatas ucapan lisan atau bacaan semata, tetapi juga merupakan terapi spiritual yang ampuh dalam menghadapi berbagai tekanan hidup, termasuk yang dirasakan oleh kalangan mahasiswa. Muhammad Akmal dkk. (2025) menjelaskan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an, dzikir diposisikan sebagai suatu bentuk meditasi spiritual, yakni sarana untuk membangun kesadaran penuh (mindfulness) terhadap kehadiran Allah yang menghasilkan ketenangan, kepuasan batin, dan rasa aman yang mendalam. Read more

Di dunia perkuliahan, mahasiswa disibukkan oleh hiruk-pikuk tugas dan deadline. Kondisi ini kerap membuat ibadah, terutama salat, terasa berat dan bukan prioritas. Tak jarang, salat dikerjakan mepet di akhir waktu, bahkan sampai terlewatkan. Padahal, di tengah kesibukan duniawi, justru mahasiswa perlu menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dunia dan akhirat.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat harus berjalan seimbang. Mendahulukan kegiatan akademik tidaklah salah, tetapi tetap harus diimbangi dengan kewajiban spiritual. Sebagai mahasiswa, belajar, menyelesaikan tugas, dan mengejar prestasi adalah tanggung jawab duniawi. Namun, tanggung jawab kepada Allah Swt. melalui ibadah seperti salat adalah fondasi yang tak boleh ditinggalkan. Tanpa ibadah, kesuksesan duniawi tidak akan membawa kebahagiaan sejati.

Salat merupakan ibadah utama dalam Islam, sebagai salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan lima kali sehari. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah saw. bersabda, Read more

Dunia pemrograman dan ajaran Islam ternyata memiliki titik temu yang menarik untuk dibahas. Salah satu nilai utama yang terlihat jelas dalam keduanya adalah kesabaran. Seorang programmer sering kali harus menghadapi berbagai tantangan yang menuntut ketahanan mental tinggi, selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya bersabar. Ketika berhadapan dengan error yang membingungkan, algoritma yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau tekanan deadline yang semakin dekat, kesabaran menjadi kunci penting yang memberikan kekuatan dan ketenangan.

Rasulullah saw. pernah bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, seluruh urusannya selalu membawa kebaikan. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.”

Pesan ini menggambarkan pentingnya sikap sabar dalam menghadapi berbagai situasi. Dalam dunia pemrograman, kesabaran menjadi kualitas penting, terutama ketika seorang programmer harus berhadapan dengan masalah teknis seperti error yang membingungkan, debugging yang melelahkan, atau tekanan waktu yang ketat. Ketahanan mental dalam situasi-situasi ini mencerminkan semangat sabar yang diajarkan dalam Islam. Read more

Pernahkah kamu menyaksikan idolamu melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan? Hal tersebut pasti membuatmu terkejut. Namun, apakah kamu tahu bahwa hal tersebut bisa saja merupakan sebuah perbuatan palsu yang sengaja diciptakan oleh seseorang?

Apa itu Manipulasi AI dan Deepfake?

Di era teknologi yang berkembang pesat saat ini, banyak sekali pihak-pihak yang memanfaatkan teknologi terkini, salah satunya adalah teknologi manipulasi kecerdasan buatan (AI). Menurut KBBI, manipulasi merupakan upaya yang dilakukan oleh suatu pihak untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pandangan orang lain tanpa disadari oleh orang tersebut. Sesuai namanya, manipulasi AI berarti suatu hal yang memanfaatkan teknologi AI untuk memanipulasi pihak tertentu.

Salah satu teknologi dari manipulasi AI ini adalah deepfake yang dapat digunakan untuk membuat foto, video, atau bahkan suara palsu yang tampak nyata dengan sumber aslinya (Vida, 2024). Teknologi ini awalnya banyak digunakan untuk hiburan di media sosial, seperti membuat suara nyanyian kita terdengar lebih bagus atau digunakan untuk meme (gambar lucu). Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi ini disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka memanfaatkan cepatnya penyebaran informasi di media sosial untuk menjadikan tokoh-tokoh terkenal atau bahkan teman dekatnya menjadi korban dari manipulasi AI.

Penyalahgunaan dan Bahaya Deepfake

Read more

Oleh: Ahmad Fathan Hidyatullah, S.T., M.Cs., Ph.D.

Saat ini kita berada di bulan Zulkaidah, sebuah bulan yang sering terabaikan padahal memiliki kedudukan istimewa dalam syariat Islam. Zulkaidah bukanlah bulan biasa. Ia termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah secara khusus sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah: 36)

Ayat ini menjelaskan bahwa jumlah bulan dalam satu tahun sudah Allah tetapkan sejak penciptaan alam semesta, bukan sekadar kesepakatan manusia belaka. Dari dua belas bulan itu, terdapat empat bulan haram yang dimuliakan. Mengenai empat bulan haram yang disebutkan di dalam ayat di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang berada di antara Jumadal (akhir) dan Syakban. (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Namun demikian, masih banyak kaum muslimin yang belum menyadari keutamaan bulan Zulkaidah ini. Fokus perhatian umat sering kali hanya tertuju pada bulan-bulan lain yang lebih populer seperti Rajab, Ramadan, Zulhijah, atau Muharram. Hal ini karena memang keutamaan bulan-bulan tersebut banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, serta lebih dikenal luas di tengah masyarakat. Berbeda halnya dengan Zulkaidah, yang meskipun termasuk bulan haram, tidak banyak disinggung dalam ceramah atau pengajaran umum sehingga sering terlupakan. Akibatnya, sedikit sekali yang memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh.

Berikut ini adalah beberapa keistimewaan Bulan Zulkaidah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama: Read more

oleh: Kholid Haryono, ST., M.Kom. 

Dalam kehidupan modern, jasa menjadi fondasi banyak aktivitas ekonomi dan sosial. Dunia pendidikan, kesehatan, konsultasi, dan administrasi, semuanya bergantung pada komitmen terhadap perjanjian kerja yang telah disepakati. Namun, realitas memperlihatkan bahwa banyak orang tergoda untuk mengambil jalan pintas: mengurangi usaha, memperkecil pengorbanan, tetapi berharap tetap mendapatkan hasil maksimal. Islam sangat tegas dalam mengajarkan keadilan dalam setiap bentuk transaksi, baik yang berkaitan dengan barang maupun jasa. Prinsip ini memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an, salah satunya terdapat dalam Surah Al-Muṭaffifīn ayat 1–3, yang secara khusus mengecam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan:

وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ ﴿١﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣) 

Artinya:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1–3)

Ayat ini mengandung peringatan keras bagi siapa pun yang tidak berlaku adil dalam transaksi, dan menekankan pentingnya kejujuran serta tanggung jawab dalam interaksi ekonomi.

Hakikat Tanggung Jawab dalam Transaksi Jasa

Read more

Oleh: Elyza Gustri Wahyuni (28 April 2025)

Di era digital ini, sosial media telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Sosial media banyak memberikan berbagai kemudahan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan mendapatkan informasi. Namun, di balik manfaatnya, sosial media juga menyimpan potensi bahaya, salah satunya adalah bullying atau perundungan yang dilakukan secara disadari maupun tidak disadari. Islam, sebagai agama yang sempurna, memiliki panduan yang jelas tentang etika bersosial media, termasuk cara menjauhi perilaku bullying dan menebar kebaikan. 

Bullying atau perundungan adalah tindakan tercela yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang lebih lemah. Dalam Islam, perilaku bullying termasuk dalam kategori gibah (menggunjing), fitnah (menuduh tanpa bukti), tajasus (mencari-cari kesalahan orang lain), dan namimah (adu domba). Semua kategori tersebut masuk dalam perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam karena bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan keadilan.

Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ dengan tegas melarang perbuatan gibah (menggunjing). Larangan ini disebutkan dalam Surah Al-Ḥujurat ayat 12. Allah memberikan perumpamaan yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa tercelanya perbuatan tersebut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥujurat: 12)

Islam dan Etika Bermedia Sosial

Islam mengajarkan beberapa etika penting dalam berinteraksi, termasuk dalam penggunaan media sosial. Di antara prinsip utama yang ditekankan adalah berkata baik atau diam. Rasulullah ﷺ bersabda: Read more

Sedekah merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) karena dengan bersedekah kita menunjukkan ketulusan dan keikhlasan dalam beramal hanya karena-Nya. Sedekah adalah untuk mencari rida Allah, bukan untuk dipuji manusia, sehingga sedekah menjadi salah satu bentuk ibadah yang sangat mendekatkan diri kepada-Nya.

Banyak amalan yang termasuk dalam sedekah. Itu menjadi peluang besar bagi kita untuk mencintai amalan yang mulia ini. Jika kita benar-benar ikhlas dalam bersedekah, Allah akan berikan balasan yang lebih kepada kita.

Berikut beberapa keutamaan bersedekah:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah

Dengan bersedekah, kita telah menjalankan perintah Allah seperti yang ada dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 92,

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali ‘Imran: 92)

Dengan mengamalkan ayat ini, kita tidak hanya menunjukkan kepatuhan kepada Allah, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Nya melalui amal yang ikhlas dan penuh kesungguhan.

2. Membersihkan Harta

Read more

Penulis: Feri Wijayanto (dosen Jurusan Informatika UII)

Bulan Ramadan adalah bulan yang dijanjikan Allah Swt. sebagai waktu penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim). Allah Swt. berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda (antara kebenaran dan kebatilan).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ramadan juga terbagi dalam tiga fase utama yang penuh makna:

  1. 10 Hari Pertama: Rahmat Allah melimpah.
  2. 10 Hari Kedua: Ampunan Allah terbentang.
  3. 10 Hari Terakhir: Pembebasan dari api neraka (HR. Ibn Khuzaimah).

Setiap fase ini mengajak kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan refleksi diri (muhasabah). Namun, bagaimana jika kita menengok konsep deep learning—sebuah teknologi yang belajar dari kesalahan melalui backpropagation—sebagai analogi untuk memaknai muhasabah? Jika mesin mampu memperbaiki diri dari kesalahan, mengapa kita sebagai manusia tidak?

Muhasabah: “Backpropagation” Spiritual Manusia

Dalam deep learning, algoritma belajar dengan menganalisis kesalahan (error) lalu menyesuaikan bobot parameternya melalui proses backpropagation. Semakin sering dilatih, semakin akurat model tersebut. Begitu pula manusia: muhasabah adalah mekanisme “pelatihan” spiritual untuk mengoreksi kesalahan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).

Rasulullah saw. juga mengingatkan:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi).

Seperti deep learning, muhasabah memerlukan kesadaran akan kesalahananalisis penyebab, dan komitmen untuk memperbaiki. Namun, manusia memiliki kelebihan: hati (qalb) yang bisa tergerak oleh taubat dan rahmat Allah.

Fase Ramadan dan Peluang Muhasabah

Read more

Sebagai seorang Muslim, tentu kita ingin terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan serta ibadah kita. Bulan Ramadan adalah kesempatan emas untuk melatih diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah, dan lebih istikamah dalam beramal saleh. Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan dalam kualitas ibadah dan spiritual kita. Tanpa perencanaan yang matang, Ramadan hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa arah yang jelas. Oleh karena itu, kita harus berupaya mengisi Ramadan dengan ibadah yang maksimal agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Celakalah bagi seseorang yang mendapati bulan Ramadan hingga berlalu tanpa diampuni dosanya. (HR. Tirmidzi no. 3545)

Syaikh Manshur As Salimy pernah mengingatkan, “Betapa banyak orang yang tahun lalu berpuasa, namun saat ini mereka sudah tidak lagi bersama dengan kita. Tidakkah kita mengambil pelajaran, padahal kita masih hidup? Berbekallah dengan amal saleh dan perbanyaklah amal saleh, berhentilah dari perbuatan dosa dan kesombongan.”

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

تالله لو قيل لأهل القبور تمنوا لتمنوا يومًا من رمضان

Demi Allah, seandainya dikatakan kepada penghuni kubur: ‘Berangan-anganlah!’, niscaya mereka akan berangan-angan untuk berada di satu hari pada bulan Ramadan. (At-Tabshirah, 2/78)

Bertemu dengan bulan Ramadan adalah sebuah kenikmatan besar yang Allah berikan kepada kita. Banyak orang yang tahun lalu masih bisa menjalani ibadah Ramadan, tetapi kini mereka telah tiada. Kita yang masih diberikan kesempatan oleh Allah seharusnya tidak menyia-nyiakannya. Maka dari itu, marilah kita manfaatkan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Ramadan bukan sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan meningkatkan amal kebaikan. Read more