Webinar PJJ Informatika UII: Menavigasi Pengambilan Keputusan di Era AI
Program Studi Informatika Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Decision Making di Era Artificial Intelligence (AI)” pada Sabtu, 6 Juni 2026, secara daring melalui Zoom. Bertindak sebagai pembicara tunggal, Dr. (Cand.) Kholid Haryono, S.T., M.Kom. mengajak peserta merenungkan satu pertanyaan sederhana namun mendasar: ketika manusia berdampingan dengan kecerdasan mesin di era yang tidak menentu, bagaimana seharusnya kita memutuskan?
Pemaparan diawali dengan menelusuri fondasi cara manusia berpikir. Mengutip konsep Bounded Rationality dari Herbert Simon, narasumber menjelaskan bahwa manusia tidak pernah memutuskan dengan informasi sempurna: pilihan kita selalu dibatasi oleh informasi yang tidak lengkap, waktu yang terbatas, dan kapasitas otak yang terbatas. Akibatnya, kita cenderung memilih yang “cukup baik” (satisficing) alih-alih yang optimal, sekaligus rawan terjebak bias berpikir seperti anchoring dan confirmation bias. Pemahaman atas keterbatasan inilah yang menjadi pijakan untuk memahami pergeseran tantangan di era AI: jika dahulu masalah utama adalah kelangkaan informasi, kini justru sebaliknya — kita kewalahan oleh kelimpahan data, sehingga peran AI bergeser dari sekadar mencari menjadi membantu menyaring, memahami, dan memilih.
Dari fondasi tersebut, narasumber memetakan toolkit pengambilan keputusan bawaan manusia, mulai dari kerangka rasional lima langkah (identifikasi masalah → kumpulkan informasi → susun alternatif → evaluasi & pilih → tinjau hasil). Namun, narasumber mengingatkan bahwa kemampuan AI yang semakin tinggi justru membuat kolaborasi manusia–mesin menjadi semakin penting, bukan sebaliknya. AI memang unggul dalam menemukan pola, memproses volume data masif, dan kecepatan komputasi. Tetapi manusia tetap unggul dalam memahami konteks, menimbang nilai dan etika, serta memikul tanggung jawab atas akibat keputusan — tiga hal yang tidak dapat didelegasikan ke mesin.
Sebagai ilustrasi konkret, narasumber mengangkat studi kasus mahasiswa PJJ yang diterima di PTN lain atau mulai sibuk bekerja. Alih-alih terjebak memilih “salah satu” — mengundurkan diri, double degree, atau kuliah sambil produktif — di era AI kata “ATAU” kini dapat berubah menjadi “DAN”. Fleksibilitas waktu dan lokasi PJJ ditambah AI sebagai asisten yang mempercepat tugas membuat kombinasi kuliah, kerja, dan bisnis menjadi sangat mungkin dijalani bersamaan.
Sebagai bekal praktis, peserta diajak memegang empat prinsip sederhana: perluas pilihan jangan menutupnya, tanyakan asal data, verifikasi sebelum eksekusi, dan putuskan dengan penuh tanggung jawab. Webinar pun ditutup dengan satu kalimat reflektif untuk dibawa pulang oleh seluruh peserta:
“AI mempercepat, memberdayakan, dan memperkaya keputusan kita — tapi tanggung jawab atas keputusan itu tetap milik manusia.”
Informasi selengkapnya mengenai kegiatan Program Studi Informatika PJJ UII dapat diakses melalui laman resmi informatics.uii.ac.id/pjj atau Instagram @pjj.informatics.uii.



