IISMA 2022 di depan mata! Eh, tapi kalian udah pada tahu apa itu IISMA? Kalo belum, sekalian aja, yuk, kita ngobrol bareng mahasiswa Informatika yang berhasil menjadi penerima beasiswa IISMA 2021 kemarin, Muhammad Ulil Albab Surya Negara! 

 

Apa itu IISMA?

Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) adalah program hasil kerja sama dari Kemendikbud melalui Kampus Merdeka dan Kementerian Keuangan melalui LPDP yang memberangkatkan mahasiswa sarjana di Indonesia ke Top Universities di seluruh dunia selama satu semester. Tujuannya, untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan serta kompetensinya di dunia nyata sesuai dengan minat dan cita-citanya. Saat ini ada sekitar 60 universitas tujuan di Amerika, Eropa, dan Asia yang telah bekerja sama dengan Kampus Merdeka. 

 

Apa benefit yang akan didapat selama mengikuti IISMA?

Untuk memaksimalkan mobilitas mahasiswa selama mengikuti IISMA, mahasiswa akan difasilitasi:

  • Pendaftaran & biaya kuliah
  • Tunjangan transportasi
  • Tunjangan hidup
  • Asuransi kesehatan
  • Tunjangan visa
  • Biaya tes PCR

Apa saja syarat mengikuti IISMA?

Sebenarnya, setiap universitas tujuan memiliki syarat sendiri. Namun, secara umum, syarat yang dibutuhkan, yakni sertifikat bahasa Inggris dan IPK. Sertifikat bahasa Inggris ini bisa berupa IELTS, TOEFL ITP, atau Duolingo, tergantung persyaratan yang diminta oleh universitas tujuan. Sedangkan untuk IPK, secara umum IPK minimal harus 3.0.

Bagaimana persiapan yang dibutuhkan?

Pertama, kelengkapan dokumen. Beberapa syarat yang dibutuhkan lainnya, yaitu surat rekomendasi dari International Office universitas asal, transkrip nilai, esai, dan beberapa persyaratan lain. Untuk esai, template sudah disediakan dan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab.

Kedua, tahap interview. Interview ini sebenarnya dilakukan untuk memvalidasi apa yang kita tulis di esai dan menguji kemampuan bahasa Inggris kita.

Ada kiat khusus, nggak, sih, Mas Ulil supaya kita bisa lolos di IISMA 2022?

Untuk kiat khusus, yang pasti syarat dan dokumen harus lengkap karena nantinya akan menjadi screening awal. Mulai dari language certificate, IPK, esai, dan lainnya. Selain itu, ada dua pendekatan yang harus diperhatikan sebelum mendaftar di universitas tujuan. Pertama, pilih kampus dan jurusan yang sesuai dengan jurusan di kampus asal, atau yang kedua, pilih jurusan yang benar-benar berbeda dengan jurusan di kampus asal. Ini juga sesuai tujuan dari Kampus Merdeka sendiri, yang salah satunya supaya kita bisa belajar disiplin ilmu lain. Nah, baik dari pendekatan pertama maupun kedua, harus dipikirkan secara matang apa alasannya sebelum mendaftar.

Apa sih, bedanya belajar di sana dengan belajar di UII?

Perbedaannya, hubungan kita sama dosen itu terasa dekat sekali bahkan sampai berasa kaya temen. Itu membuat kita merasa tidak canggung untuk menyampaikan pendapat atau memberi masukan. Rasanya pengajar di sini juga lebih mau banyak mendengar pendapat mahasiswa. Sisanya sama saja.

Selama satu semester di Spanyol, pengalaman apa aja yang berkesan bagi Mas Ulil?

Hidup di Eropa selama satu semester itu sendiri adalah satu kesatuan pengalaman yang berkesan. Kami berkesempatan melihat bagaimana kehidupan di negara-negara maju berjalan. Melihat bagaimana suatu standar hidup yang liveable. Juga mengunjungi banyak tempat baru dan bersejarah, utamanya karena di Granada itu pernah menjadi lokasi berdiri-dan-runtuhnya banyak kerajaan katolik, Islam, dan Yahudi.

 

Menurut Mas Ulil, kenapa teman-teman yang lain juga harus daftar IISMA?

Pengalaman hidup di luar negeri, setidaknya selama beberapa bulan itu bisa merubah hidup kita selamanya.

 

 

Center of Data Science (CDS) UII mengadakan agenda webinar bertaraf internasional pada 10-11 Desember 2021 lalu dengan tema “Data Science for Human Life”. Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual melalui Zoom. Acara webinar internasional ini diisi oleh 4 orang pembicara, 2 dari internal Jurusan Informatika UII dan 2 pembicara eksternal. 

 

Pembicara pertama disampaikan oleh Dr. Ahmad Luthfi dari Universitas Islam Indonesia. Beliau adalah salah satu dosen Jurusan Informatika UII yang baru saja meraih gelar doktor di Delft University of Technology, Belanda. Beliau menyampaikan materi dengan topik “Data Science for Opening Government Data Decision Making”. Pada sesi pembicara kedua, materi disampaikan oleh Dr. Atika Qazi dari Universiti Brunei Darussalam dengan topik “Covid-19 and Applications of Data Analytics”.

 

Di hari kedua, Dr. Ganjar Alfian dari Dongguk University, Korea menyampaikan materi mengenai “Machine Learning and IoT for Food Supply Chain and Healthcare Monitoring System”. Materi sesi terakhir webinar ini diisi oleh Dr. Chandra Kusuma Dewa dari Universitas Islam Indonesia. Beliau juga baru selesai studi S3 dari Toyohashi University, Jepang. Dr. Chandra memaparkan presentasi mengenai “Deep Reinforcement Learning for Robot Learning”.

 

Tujuan diadakannya webinar tersebut di antaranya untuk berbagi pengetahuan mengenai penerapan terkini dari ilmu sains data dalam kehidupan sehari-hari dan juga memformulasikan aplikasi-aplikasi sains data sebagai alternatif solusi terhadap fenomena kehidupan sehari-hari. Selain itu, dengan diadakan acara ini diharapkan agar Center of Data Science (CDS) UII lebih dikenal lagi secara luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

 

Peserta kegiatan ini sejumlah 173 orang dari beberapa negara di antaranya Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Niger, dan Pakistan. Adapun latar belakang peserta sangat beragam mulai dari mahasiswa S1 s.d. S3, dosen, praktisi, guru, dan umum.

 

Rekaman Webinar:

 

Dokumentasi:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada tanggal 9-10 Oktober 2021 lalu, Konsentrasi Informatika Medis – Program Studi Informatika Program Magister menghelat agenda Workshop MATLAB. Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting pada pukul 08.00-15.00 WIB (9 Oktober 2021) dan 08.00-12.00 WIB (10 Oktober 2021).

Agenda ini diikuti oleh mahasiswa magister yang mengambil konsentrasi Informatika Medis. Sebagai narasumber, yakni Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T., Arrie Kurniawardhani, S.Si., M.Kom., dan Izzati Muhimmah, S.T., M.Sc., Ph.D.

MATLAB atau Matrix Laboratory merupakan bahasa pemrograman tinggi yang dikembangkan oleh MathWorks. Setiap data pada MATLAB menggunakan matriks sebagai dasar komputasinya sehingga disebut Matrix Laboratory.

MATLAB menjadi populer di berbagai disiplin ilmu. Hal ini didukung kemampuannya dalam visualisasi grafik yang baik. Selain itu, MATLAB juga punya banyak tools dan library yang membantu dalam berbagai memecahkan permasalahan, misalnya Matematika, Statistika, Finansial, Teknik Komputasi, Biologi, Medis, sampai Jaringan dan Komunikasi.

Pada kegiatan Workshop MATLAB yang diadakan Konsentrasi Informatika Medis – Program Studi Informatika Program Magister ini, diadakan Pelatihan Pemrograman Digital Image Processing dan Soft Computing Menggunakan MATLAB.

Ke depannya, diharapkan kegiatan ini bisa menjadi bekal bagi mahasiswa Konsentrasi Informatika Medis – Prodi Informatika Program Magister dalam membantu menyelesaikan tesis.

Lagi-lagi, kabar gembira datang dari penyelenggaraan UII Website Appreciation. Pada edisi tahun ini, alhamdulillah website Informatika kembali melanjutkan tradisi dengan membawa pulang prestasi. Dalam acara UII Website Appreciation 2021 yang diadakan pada tanggal 20 Oktober 2021, situs web jurusan kita, https://informatics.uii.ac.id/, berhasil mendapat apresiasi dengan memperoleh penghargaan “Website Kategori A”.

FYI, UII Website Appreciation merupakan ajang apresiasi tahunan untuk website yang dikelola di lingkungan Universitas Islam Indonesia. Website Fakultas, Jurusan dan/atau Prodi, Unit Layanan, hingga Pusat Studi ikut serta di dalamnya.

Nah, dalam prosesnya, website Informatika UII sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Bukan ditujukan untuk memenangi penghargaan ini, namun untuk menjaga kualitas konten dan informasi yang disajikan kepada pembaca, khususnya ZenFor tercinta. Penghargaan ini hanyalah bonus! Tentu saja, orang-orang di balik website yang terdiri dari tim dosen, karyawan, dan Student Staff juga perlu diapresiasi. Tak ketinggalan pastinya ZenFor sebagai pembaca setia yang tanpa kalian upaya tim menjadi kurang bermakna!

Jadi, seberapa sering kamu mengunjungi website kita yang kece itu? Artikel mana yang jadi favoritmu? Atau apabila ada saran yang membangun dapat dituliskan di kolom komentar. Selamat untuk kita semuaa~

The International Conference on Information Technology and Digital Applications, or ICITDA 2021 has been successfully held for the sixth time by the Department of Informatics, Universitas Islam Indonesia. ICITDA is an annual international conference at which researchers from all over the world present their work and learn from other presenters, keynote speakers, and hands-on workshop speakers. This year’s conference gained great enthusiasm worldwide, with the theme “Cybersecurity in Data Science Era”.

The 6th ICITDA, like the previous year, was held virtually, but with the addition of a new concept, utilizing both Zoom Meeting and Gather.town for the main event. At the conference, 42 papers were accepted. The main events took place on November 5 and 6, 2021. This year’s ICITDA succeeded in attracting the attention of researchers from 11 countries to submit their papers, including Malaysia, Philippines, Indonesia, Brunei Darussalam, United States, Taiwan, India, Thailand, Australia, Bangladesh, and Morocco.

The first day of ICITDA 2021, held via Zoom Meeting, began with the opening speeches from Prof. Fathul Wahid, rector of Universitas Islam Indonesia, and Ms. Arrie Kurniawardhani, chairperson of ICITDA 2021. The first keynote speech, entitled “TinyML and Importance of Data-Centric Approach”, was delivered by Dr. Owais Ahmed Malik of Universiti Brunei Darussalam. The conference then moved on to workshops led by Dr. Charles Lim of Swiss German University and Dr. Syarif Hidayat of Universitas Islam Indonesia, discussing “Open Source Intelligence: Profiling Your Target” and “Artificial Intelligence Applications in Cybersecurity Domain”, respectively. Dr. M. Andri Setiawan of Universitas Islam Indonesia gave the final keynote speech of the day, entitled “Living The Next Normal in An Enterprise: Leveraging the Wi-Fi Technology in A Post-pandemic Future”.

On the second day, all participants were invited to join the conference through Gather.town, an RPG-based virtual meeting platform where all participants could actively interact with each other. Dr. Ahmad Raf’ie Pratama of Universitas Islam Indonesia kicked off the second day with a workshop entitled “Filtering Email Spam with Machine Learning”. The next schedule was paper presentations, divided into two sessions. Each presenter was given the opportunity to present their paper in one of the four designated rooms. The final two keynotes were delivered by Dr. Nurul Hidayah bin Ab Rahman of Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, entitled “Emerging Technologies and Data Science: The Implications to Digital Forensics Research Directions”, and Dr. Bernardi Pranggono of Sheffield Hallam University, entitled “Cybersecurity, Data Science, and Artificial Intelligence”.

To cap off the two fantastic conference days, the committee announced the much-anticipated Best Paper Awards. The winners were as follows:

  • Data Mining Framework for The Identification of Profitable Customer based on Recency, Frequency, Monetary (RFM) by Fikri Asmat, Kadarsah Suryadi, and Rajesri Govindaraju.
  • EfficientNet-Transformer for Image Captioning in Bahasa by Umar Abdul Aziz Al-Faruq and Dhomas Hatta Fudholi.
  • Fuzzy-Based Intelligent Health Information System for Natural Disaster Victims by Moch. Zen Samsono Hadi, Aries Pratiarso, Nur Rosyid Mubtada’i, Ahmad Syauqi Ahsan, Hafara Ulufan Nuri, and Rachmawati Rizki Marzuqi.

With this, the sixth ICITDA had concluded successfully, thanks to the committee’s wonderful spirit in organizing such a wonderful event, and all participants, keynote speakers, also hands-on workshop speakers for their enthusiasm and knowledge sharing.

We hope to see you at the next ICITDA!

Anggraeni Dias Saputri: Perbandingan Sikap dan Penerimaan Pengguna Layanan Dompet Digital di Indonesia

“Zaman sekarang, lebih baik ketinggalan dompet dari pada ketinggalan handphone!”

Lah, memangnya benar? Bisa jadi. Tak dapat dipungkiri, smartphone kini lumrah digunakan sebagai salah satu media pembayaran digital. Masyarakat juga kian familiar dengan layanan pembayaran digital atau electronics payment (e-payment). Metode ini memudahkan proses pembayaran karena bisa dilakukan di mana dan kapan saja, contoh saja dompet digital atau electronics wallet (e-wallet).

Maraknya pembayaran melalui dompet digital didukung juga oleh pemerintah, loh. Terhitung sejak Januari 2016, pemerintah mencanangkan program less cash society atau transaksi non tunai demi menghadapi persaingan multinasional Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Hal ini menjadi topik penelitian Anggraeni Dias Saputri yang berjudul “Perbandingan Sikap dan Penerimaan Pengguna Layanan Dompet Digital di Indonesia”. Mahasiswi yang akrab disapa Mbak Anggrek ini memberikan gambaran perbandingan atau perbedaan sikap dari pengguna layanan dompet digital di Indonesia.

Beberapa layanan dompet digital (e-wallet), seperti ShopeePay, OVO, Dana, GoPay dan LinkAja merupakan layanan yang banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Namun di sisi lain, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang belum mengerti penggunaan layanan tersebut. 

Penelitian di bawah bimbingan Bapak Ahmad Munasir Rafi`e Pratama, ST, MIT, PhD ini menggunakan metode pengumpulan data kuantitatif melalui survei hingga menjangkau 402 responden. Sasaran responden berdomisili di Indonesia dengan usia minimum 17 tahun dan pernah menggunakan layanan e-wallet minimal satu kali. 

Fokus pengumpulan data, yakni untuk menjaring pengguna layanan e-wallet seperti seperti ShopeePay, OVO, Dana, GoPay dan LinkAja dengan melihat dan meneliti beberapa faktor seperti kegunaan, kemudahan, finansial, fasilitas penunjang, dan lain-lain. Selain pengumpulan data kuantitatif, digunakan juga metode manova untuk menganalisis dan melihat sikap pengguna layanan dompet digital di Indonesia. 

Ternyata, tidak ada perbedaan yang ditemukan dari sisi faktor penerimaan dompet digital antar jenis layanan dompet digital, usia dan, jenis kelamin kecuali pada dua hal: faktor pengaruh sosial di mana perempuan menggunakan e-wallet lebih tinggi dibandingkan laki-laki, serta pandangan terhadap risiko penggunaan bahwa laki-laki melaporkan nilai yang lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini  menunjukkan bahwa laki-laki menilai risiko penggunaan ketika menggunakan layanan dompet digital lebih besar dibandingkan dengan perempuan.

Penelitian yang telah dimulai sejak satu tahun lalu ini turut membawa Mbak Anggrek lulus dengan predikat Pujian, loh! Alhamdulillah.

Istimewanya lagi, Mbak Anggrek ini juga salah satu penerima Beasiswa Alumni yang diberikan oleh Prodi Informatika-Program Sarjana UII bagi alumninya yang melanjutkan jenjang pendidikan S2 di Prodi Magister Informatika UII. Selain itu, Mbak Anggrek juga aktif bekerja selama kuliah di Magister Informatika. Tentunya, membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah itu tidak mudah. 

“Manajemen waktunya gampang-gampang susah. Weekday bekerja, weekend kuliah. Alhamdulillah, dulu mendapat lead divisi yang mendukung karyawannya untuk menempuh pendidikan. Rasanya menyenangkan apabila bisa lebih produktif,” tutupnya.

 

Muhammad Luthfi, atau yang akrab disapa Luthfi, merupakan mahasiswa Program Studi Informatika Program Sarjana Angkatan 2017. Luthfi berhasil memperoleh IPK 3,97 dan menjadi lulusan dengan IPK Tertinggi pada Wisuda Periode I & II Tahun Akademik 2021/2022.

Selama kuliah di Informatika UII, Luthfi yang kini menjadi iOS Software Engineer di Tokopedia ini ternyata pernah menjadi asisten dosen, loh. Ia juga berkesempatan mengikuti joint degree program 2+2 ke Nanjing Xiaozhuang University (NXU), China.

Ditanya soal tips menjadi wisudawan terbaik, Luthfi menjawab “Sebenarnya, nggak ada tips khusus, sih. Tapi, yang penting kuliah dibawa happy aja. Pinter-pinter mengatur waktu biar study-life balance-nya tetap terjaga. Keep doing things that make you happy. Contohnya, kalau aku suka travelling dan main game.” 

Luthfi mengangkat tugas akhir yang berjudul “Geometry AR: iOS-based Application for 3D Shapes Learning using Augmented Reality”. Ia memilih judul ini karena tertarik dengan Augmented Reality dan juga memang ingin mendalami mobile app development khususnya untuk platform iOS.

Tujuan dari aplikasi yang dibangun Luthfi ini adalah sebagai aplikasi pembelajaran siswa-siswi yang sedang belajar geometri, khususnya bangun ruang tiga dimensi. Biasanya untuk pembelajaran tersebut mereka memakai media dua dimensi seperti buku, namun terkadang mereka susah untuk memvisualisasikan gambar dua dimensi dari buku menjadi bangun tiga dimensi menggunakan imajinasi mereka. 

Nah, di era digital dan dengan pertumbuhan smartphone yang pesat sekarang, masalah ini bisa diselesaikan menggunakan Augmented Reality. Jadi, aplikasi ini dilengkapi dengan kartu-kartu fisik yang disebut juga AR Marker. Setiap kartu merepresentasikan bangun tiga dimensi yang berbeda. Dengan fitur AR di aplikasi ini, siswa-siswi bisa scan kartu tersebut untuk melihat bangun tiga dimensi di dunia nyata secara real-time melalui kamera smartphone mereka. Aplikasi ini juga disertai dengan pembelajaran rumus-rumus geometri dan kuis untuk mengevaluasi pembelajaran mereka.

“Pesan untuk teman-teman mahasiswa, always be curious, jangan berhenti belajar hal-hal baru, dan yang paling penting tetep jaga kesehatan baik fisik maupun mental. Di masa perkuliahanku (dan juga kehidupan in general), pasti mengalami banyak ups and downs. Kalau aku gagal dalam sesuatu pasti merasa putus asa dan kehilangan motivasi. I eventually realized that we can’t change our past, instead we can always grow and learn from it,” tutup Luthfi.

 

 

Gilang Persada Bhagawadita, mahasiswa Prodi Informatika UII – Program Sarjana Angkatan 2018 berhasil meraih IPK tertinggi dalam Wisuda Periode I & II Tahun Akademik 2021/2022. Ia memperoleh IPK 3,97 dengan masa studi kurang dari 4 tahun.

Tidak hanya jago di kegiatan akademik, selama kuliah Gilang turut aktif dalam berbagai kegiatan, sebut saja kepanitiaan, UKM Himpunan Basket, PSC, dan Kosmik. Di tahun ketiganya, Gilang juga berkesempatan mengikuti program double degree ke Nanjing Xiaozhuang University, China.

“Tipsnya, dibawa santai saja, sih. Selain itu, coba lebih aktif di kelas dan buat dosen bisa kenal dekat sama kita,” ujar Gilang, saat ditanya bagaimana tipsnya bisa lulus kuliah dengan raihan IPK tertinggi.

Gilang memilih sebuah judul “Developing Mobile Attendance System Using QR Code and GPS Tracking with Flutter” sebagai tugas akhirnya. 

“Judul ini aku pilih karena terinspirasi masalah sistem presensi di UII (dulu) yang berbeda dengan ketika aku di NXU, ditambah dengan pemanfaatan mobile phone sehingga sistem presensinya bisa lebih efektif dan lebih aman. Namun, tidak dipungkiri bakal tetap ada kecurangan-kecurangan selanjutnya,” jelas Gilang.

Gilang merasa sangat beruntung bisa kuliah di Informatika UII sebab ia bisa mendapat kesempatan program double degree ke NXU. “Kurikulum Informatika UII juga sangat mantap,” tambahnya.

Sebagai penutup, Gilang berpesan sebagai mahasiswa harus mulai mencari jati diri sedini mungkin, misalnya ingin fokus ke mana dan ke depannya ingin menjadi apa. Menurutnya, hal itu akan menentukan kegiatan kita sehari-hari saat kuliah sehingga ilmu yang didapat bisa lebih berguna nantinya. “Mau main game atau refreshing lainnya boleh, tapi harus ingat apa tujuan utama kita kuliah,” tutupnya.

 

 

Yuk, kenalan dengan Andri Wahyu Ahmad Ruslam. Mahasiswa yang lahir dan besar di Poso, Sulawesi Tengah, ini berhasil meraih IPK Tertinggi dalam Wisuda Periode I & II Tahun Akademik 2021/2022. Andri berhasil memperoleh IPK 3,97 dengan masa studi kurang dari 4 tahun. 

Selama menempuh pendidikan di Program Studi Informatika Program Sarjana, Andri banyak memfokuskan kegiatan pada hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan teknis. Mulai dari menjadi asisten lab, mengikuti UKM Robotik, menjadi bagian dari tim inkubasi Startup, dan menjalani magang di salah satu perusahaan yang ada di Jogja. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, ia mendapat banyak pengalaman, seperti menjadi kontestan tingkat Nasional Lomba Kontes Robot Indonesia, mengerjakan proyek-proyek perusahaan, dan menjadi partisipan dalam ASEAN Virtual Entrepreneurship Hackathon. Seluruh pengalaman tersebut sangat membantunya dalam mengasah kemampuan hardskill maupun softskill yang ia miliki. 

“Bagi saya, berani mengexplore hal-hal baru, konsisten terhadap apa yang kita inginkan serta mampu mengatur dan memaksimalkan waktu yang kita punya merupakan salah satu kunci agar dapat menjadi yang terbaik dalam banyak hal termasuk menjadi wisudawan terbaik,” ujar Andri.

Andri mengungkapkan bahwa ia mengangkat sebuah topik berjudul “Factor Analysis Keberlanjutan Pengguna Jala Menggunakan Factor Analysis” dalam tugas akhirnya. Judul ini didasari oleh pengalamannya selama magang di salah satu perusahaan di Yogyakarta. Dari seluruh proyek yang ia kerjakan di sana, proyek ini menjadi proyek yang dapat membuat seluruh stakeholder antusias ketika ia mempresentasikannya. Selain itu juga, proyek ini masih sangat mungkin untuk dikembangkan dengan variabel-variabel berbeda yang tentu saja akan sangat bermanfaat bagi perusahaan. Oleh karena itu, Andri mengangkat judul ini sehingga pekerjaannya dapat terdokumentasi dan dapat dijadikan referensi dalam pengembangan proyek yang sama dengan variabel yang berbeda ke depan.

Secara garis besar, “Faktor Analisis Keberlanjutan Pengguna Menggunakan Factor Analysis” dilatarbelakangi oleh munculnya anomali pada data pengguna perusahaan. Dari data yang didapatkan, terlihat bahwa jumlah pengguna baru yang menggunakan sistem/aplikasi perusahaan terus meningkat. Namun, pengguna yang konsisten untuk terus menggunakan sistem, bahkan untuk berlangganan, tidak sebanding dengan angka pengguna baru. Berdasarkan fakta tersebutlah diinisiasi proyek ini untuk mencari tahu sebenarnya faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pengguna dapat terus menggunakan sistem perusahaan dengan parameter satu bulan pertama penggunaan. 

“Hasil akhir dari proyek ini berupa informasi faktor-faktor apa saja yang paling mempengaruhi keberlanjutan pengguna dalam menggunakan sistem perusahaan,” lanjut Andri.

Andri bersyukur dapat berkuliah di Informatika UII sehingga ia dapat belajar dari rekan-rekan Informatika lainnya yang tentunya juga tidak kalah berpengalaman. Selain itu, menurutnya, salah satu hal yang paling seru, tetapi sulit dilakukan, saat menjadi mahasiswa Informatika adalah ketika terdapat beberapa proyek akhir sekaligus dalam satu semester. 

“Hal ini yang membuat kami sebagai mahasiswa harus banting tulang menyelesaikannya. Namun, proyek-proyek akhir ini sangat bermanfaat bagi kami, karena kami belajar banyak hal salah satunya adalah bekerja secara tim yang menjadi pengalaman berharga selama masa perkuliahan,” tambahnya.

Andri juga mengaku belajar banyak hal dari dosen-dosen yang mumpuni di bidangnya. Baik dosen maupun tenaga administratif sangat sigap dalam membantu dan mengarahkan ketika terdapat masalah berkaitan dengan perkuliahan. “Selain itu, fasilitas yang diberikan kampus sangat membantu saya dalam mengeksplorasi hal-hal baru.” 

Kini, Andri sedang fokus mengembangkan softskill dan hardskill terutama dalam bidang Data Engineer agar dapat bisa memberikan kontribusi di masyarakat maupun industri dalam pengelolaan dan pemanfaatan data.

Andri berharap Informatika UII dapat terus menjadi lebih baik dengan meningkatkan modul-modul pada kurikulum serta menyesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini sehingga lulusan dapat lebih siap lagi menghadapi dunia industri di bidang teknologi ke depan.

Sebagai penutup, ia berpesan, “Manfaatkan waktu kalian selama menjadi mahasiswa, ikuti kontes-kontes yang dapat mengasah skill kalian sebanyak mungkin, dan manfaatkanlah seluruh fasilitas kampus untuk mengembangkan diri kalian. Maksimalkan setiap waktu kalian untuk menghasilkan karya-karya terbaik.”

Yuk, kenalan dengan Moch. Fathi Siddiqi, lulusan dengan IPK Tertinggi Periode 1 Tahun Akademik 2021/2022. Fathi berhasil lulus dengan IPK 3,89. Alhamdulillah.

“Sebenarnya, aku nggak tau ternyata terpilih sebagai lulusan terbaik. Semua itu atas izin Allah. Namun, memang selama kuliah, aku suka dan semangat dalam mempelajari hal yang baru,” aku Fathi yang pernah aktif sebagai programmer di Student Staff Informatika ini.

Tidak hanya Student Staff Informatika, ternyata selama kuliah Fathi aktif dalam berbagai kegiatan, loh. Misalnya saja Asisten Laboratorium Terpadu Informatika dan Mualim FTI.

Pada tahun keempatnya, Fathi menempuh Jalur Perintisan Bisnis. Beliau bersama teman-temannya merintis Ubaform, sebuah startup bergerak dalam layanan pembuatan formulir secara online. Hal ini dilatarbelakangi ketertarikannya pada dunia startup dan software engineering.

Melalui tugas akhir yang berjudul “Implementasi Bisnis Model Software as a Service (SaaS) untuk Layanan Pengolahan Dokumen Digital (Studi Kasus di Startup Ubaform)”, beliau akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sarjana dan memperoleh IPK tertinggi di periodenya.

Permasalahan yang diangkat Fathi terkait pengolahan dokumen dari yang awalnya masih konvensional menjadi digital. Metode konvensional ini tentunya berdampak pada efektivitas dan efisiensi dalam pengolahan dokumen sehingga dibentuklah ide dasar startup untuk pengolahan dokumen digital. Hasil dari tugas akhir tersebut adalah ide bisnis, prototype, dan strategi untuk pertumbuhan startup itu sendiri.

Fathi merasa senang bisa berkuliah di Informatika. Beliau mempelajari banyak hal fundamental khususnya di bidang teknologi informasi yang tentunya berguna setelah lulus kuliah. “Kalau dukanya mungkin ketika awal kuliah terasa sulit menyesuaikan belajar tentang teknologi informasi, misalnya pemrograman dan struktur data,” tutup Fathi.