Riset yang melibatkan mahasiswa Program Studi Informatika Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Universitas Islam Indonesia, Bekti Dwi Kurniadi, dipresentasikan dalam sesi oral International Conference on Life Science and Advanced Technology (ICOLISAT) 2026, Kamis (3/9), di Auditorium Lantai 4 Fakultas Hukum UII, Kampus Terpadu UII. Makalah berjudul Digital Readiness and Public Engagement of Traditional and Complementary Health Providers for a Wellbeing Tourism Ecosystem in Yogyakarta itu dibawakan ketua tim riset Jurusan Informatika UII, Irving Vitra Paputungan, Ph.D., bersama anggota tim Erwin. Konferensi bertema Life Sciences and Advanced Technology for Better Life and Green Circular Economy ini diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII.
Riset ini memetakan sisi penyedia dari ekosistem wellbeing tourism Yogyakarta melalui telaah jejak digital publik terhadap 84 penyedia layanan kesehatan tradisional dan komplementer yang tersebar di lima kabupaten/kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 76 penyedia (90,48 persen) berstatus independen dan hanya 8 (9,52 persen) bersifat institusional, dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Sleman (22 penyedia) dan Bantul (21 penyedia). Layanannya pun beragam: terapi manual dan muskuloskeletal menjadi kategori terbesar dengan 34 penyedia (40,5 persen), diikuti perawatan tradisional dan herbal 30 penyedia (35,7 persen) serta perawatan holistik dan integratif 23 penyedia (27,4 persen). Karena satu penyedia dapat masuk lebih dari satu kategori, temuan ini menunjukkan pasar yang tidak tunggal, melainkan ekosistem layanan yang terdistribusi.
Temuan utamanya justru terletak pada kesenjangan antara keterlihatan dan kesiapan. Seluruh 84 penyedia terdaftar di Google Maps dan 75 di antaranya (89,3 persen) mencantumkan nomor telepon, tetapi hanya 14 penyedia (16,7 persen) yang memiliki situs atau halaman resmi dan 8 penyedia (9,5 persen) yang menyediakan alamat surel. Median Digital Readiness Score seluruh penyedia hanya 30 dari 100. Tim menyebut kondisi ini sebagai platform-dependent discoverability paradox: penyedia mudah ditemukan, namun kanal penemuannya dikendalikan pihak ketiga, bukan oleh penyedia itu sendiri. Melalui matriks kesiapan ekosistem digital, penyedia terbagi ke dalam empat kuadran: 44,1 persen sebagai ecosystem frontrunners, 35,7 persen sudah siap secara digital tetapi minim keterlibatan publik, 14,3 persen membutuhkan penguatan kapasitas, dan 6,0 persen tergolong peluang tersembunyi. Uji ketahanan menunjukkan pola ini stabil, dengan korelasi Spearman 0,578 pada seluruh penyedia dan 0,517 saat dibatasi pada penyedia independen, serta 72 dari 76 penyedia independen tetap berada di kuadran yang sama.
Sebagai jawaban, tim mengusulkan arsitektur informasi berlapis empat untuk platform wellbeing tourism yang tepercaya, mulai dari data induk penyedia terverifikasi, informasi layanan dan praktisi, tata kelola mutu dan keselamatan, hingga integrasi ekosistem pariwisata. Pesan yang ditekankan di penghujung sesi: yang perlu dibangun lebih dahulu bukan aplikasi wisata baru, melainkan tulang punggung informasi yang dapat dipercaya, karena kesiapanlah yang memungkinkan integrasi terjadi.



