Sibuk Kuliah Bukan Alasan Jauh dari Agama
Setiap mahasiswa tentu memiliki target akademik yang ingin dicapai. Kita berusaha memperoleh nilai yang baik, mempertahankan IPK, menyelesaikan tugas tepat waktu, hingga lulus sesuai rencana. Namun, sebagai seorang muslim, ada evaluasi yang jauh lebih penting daripada sekadar capaian akademik, yaitu sejauh mana bekal yang telah dipersiapkan untuk kehidupan akhirat. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)
Allah Ta’ala juga mengingatkan:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap akhirat.” (QS. Ar-Rum: 7)
Dua ayat tersebut mengajak kita agar tidak hanya mengejar keberhasilan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Kesadaran inilah yang menjadi dasar pentingnya menuntut ilmu dalam Islam. Wahyu pertama yang Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah membaca. Allah Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya untuk selalu memohon tambahan ilmu.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)
Rasulullah ﷺ bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)
Ilmu agama yang berkaitan dengan akidah, tauhid, bersuci, salat, puasa, zakat, halal-haram, serta ilmu yang berkaitan dengan profesi merupakan ilmu fardu ‘ain yang wajib dipelajari.
Selain itu, Islam juga mendorong umatnya untuk menguasai ilmu-ilmu umum sebagai fardu kifayah. Kedokteran, teknik, informatika, pendidikan, ekonomi, dan bidang lainnya merupakan kebutuhan umat. Kuliah bukanlah penghalang untuk mendekat kepada Allah Ta’ala, bahkan dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mencari rida-Nya dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Dengan demikian, seorang muslim tidak diperintahkan memilih antara dunia dan akhirat, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih akhirat.
Permasalahan yang sering muncul sebenarnya bukan karena kuliah terlalu sibuk, melainkan karena belum mampu menempatkan prioritas dengan tepat. Banyak waktu habis untuk media sosial atau hiburan, tetapi terasa berat untuk membaca Al-Qur’an atau menghadiri majelis ilmu. Allah Ta’ala berjanji:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Untuk menjaga keseimbangan antara kuliah dan agama, terdapat beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan: (1) meluruskan niat bahwa kuliah adalah ibadah, (2) mengenali prioritas dengan mendahulukan kewajiban kepada Allah Ta’ala, (3) berteman dengan orang-orang saleh, (4) mengelola waktu antara kuliah, belajar, ibadah, dan majelis ilmu, serta (5) memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala. Seluruh langkah tersebut hendaknya dijalankan secara konsisten, karena Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)
Semoga masa kuliah menjadi kesempatan terbaik untuk memperbanyak ilmu, amal, dan bekal menuju akhirat sehingga ilmu yang dimiliki semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala serta memberi manfaat bagi sesama.
Penulis: Ahmad Fathan Hidayatullah (Dosen Informatika UII)


