Jangan Berpaling dari Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab terakhir sekaligus mukjizat yang Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril. Kitab ini merupakan pedoman dan petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya Al-Qur’an menjadi bagian penting yang senantiasa akrab dalam kehidupan sehari-hari kita. Namun, realita yang terjadi masih jauh dari harapan kita.
Kita sadar bahwa masih banyak di antara kita yang enggan membaca atau mempelajari Al-Qur’an karena terlalu sibuk dengan urusan dunia. Masih banyak dari kaum muslimin yang mengabaikan dan tidak peduli dengan Al-Qur’an. Apabila Al-Qur’an diperdengarkan, sebagian dari kaum muslimin mengabaikan atau bahkan tidak mau mendengarkannya. Waktu luang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi ayat-ayat Allah, justru habis tersita untuk berselancar di dunia maya, scrolling media sosial, atau sekadar ber-chatting ria.
Keadaan ini hampir serupa dengan apa yang terjadi di masa lampau. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur’an kepada orang-orang musyrikin Quraisy. Akan tetapi, mereka berpaling dan tidak mau mendengarkan Al-Qur’an.
Allah berfirman,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fussilat: 26)
Maksudnya adalah, janganlah di antara orang kafir Quraisy ada yang mendengar bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah ﷺ. Namun, buatlah kegaduhan ketika beliau membacanya, supaya orang yang mendengarnya tidak terpengaruh sehingga dapat mengalahkan agama Islam.[1]
Kondisi umat yang seperti ini sejatinya telah diadukan oleh oleh Rasulullah ﷺ kepada Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul, “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqan: 30)
Sikap mengabaikan dan berpaling dari Al-Qur’an ini disebut dengan hajru Al-Qur’an. Beberapa poin yang termasuk dari hajru Al-Qur’an, yang disebutkan oleh Al Imam Ibnu Katsir dan Ibnul Qayyim rahimahullah, antara lain [2],[3] :
Pertama: Tidak Mau Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an adalah bentuk interaksi kita yang paling dasar dengan kitabullah. Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk zikir yang paling agung. Barang siapa meninggalkan membaca Al-Qur’an, berarti ia telah menutup diri dari pintu kebaikan yang besar. Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk perniagaan kepada Allah yang tidak pernah merugi, Allah berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir: 29)
Di antara keutamaan membaca Al-Qur’an adalah balasan pahala yang berlipat ganda. Rasulullah ﷺ bersabda,
من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ (الـم) حرفٌ ولكنْ (ألفٌ) حرفٌ و(لامٌ) حرفٌ و(ميمٌ) حرفٌ
Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya memperoleh kebaikan, dan kebaikan tersebut dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan “alif lam mim” itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf, dan mim juga satu huruf. (HR. Tirmidzi)
Kedua: Tidak Mau Menyimak dan Mendengarkan Al-Qur’an
Salah satu bentuk hajru Al-Qur’an adalah enggan menyimak bacaan Al-Qur’an. Terkadang sebagian dari kita lebih cenderung memilih untuk mendengarkan nyanyian dan musik sehingga kita terhalang dari mendengarkan Al-Qur’an. Kita cenderung untuk melewati bacaan Al-Qur’an apabila ia lewat di beranda kita. Perlu kita ketahui, seorang muslim yang enggan mendengarkan bacaan Al-Qur’an berarti telah menutup telinganya dari cahaya petunjuk. Padahal, mendengarkan Al-Qur’an dan menyimak dengan penuh perhatian akan menghadirkan rahmat Allah. Allah berfirman,
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (Al-A’raf: 204)
Ketiga: Tidak Mau Memahami dan Mentadaburi Al-Qur’an
Memahami isi kandungan dan mentadaburi Al-Qur’an merupakan bagian penting setelah kita membaca dan menyimak bacaan Al-Qur’an. Hanya sekadar membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an tanpa memahami makna dan merenunginya akan membuat kita kehilangan ruh dari tujuan diturunkannya kitab ini. Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dilafalkan, tetapi agar direnungi maknanya, diambil pelajaran darinya, diamalkan isinya, dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Allah ﷻ berfirman,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad:29)
Dalam ayat lainnya, Allah berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24).
Oleh karenanya, jangan sampai interaksi kita dengan Al-Qur’an hanya sebatas membacanya saja. Mari kita tingkatkan interaksi kita dengan mempelajari maknanya, memahami isi kandungannya, dan mentadaburinya.
Keempat: Tidak Beriman Kepada Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ. Menolak beriman kepadanya berarti menolak petunjuk Allah. Iman kepada Al-Qur’an merupakan salah satu unsur dari rukun iman. Siapa saja yang tidak mau beriman kepada Al-Qur’an, ia telah kufur dan termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman,
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa kufur (ingkar) kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Baqarah:121)
Kelima: Tidak Mengamalkan Isi Kandungan Al-Qur’an
Di antara tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diikuti, kemudian diamalkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Allah ﷻ berfirman,
وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan Al-Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan penuh dengan berkah, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (QS. Al-An’am: 155)
Mengikuti Al-Qur’an dengan mengamalkan isi kandungannya merupakan konsekuensi logis dari keimanan kita kepada Al-Qur’an, yaitu dengan melaksanakan segala perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya. Oleh karenanya, sekadar membaca dan menghafal Al-Qur’an tidaklah cukup jika tidak disertai dengan pengamalan nyata dalam perilaku, akhlak, serta ibadah kita dalam keseharian kita.
Keenam: Tidak Berhukum dengan Al-Qur’an
Salah satu bentuk hajru Al-Qur’an yang paling berat adalah meninggalkan hukum Allah dan lebih memilih hukum selainnya. Padahal, seorang muslim wajib menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hukum dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Allah ﷻ dengan tegas mencela orang-orang yang tidak mau berhukum dengan apa yang telah Dia turunkan. Bahkan, Allah menyebut mereka dengan sebutan yang sangat keras, yaitu kafir, zalim, dan fasik. Firman-Nya:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 47)
Ketujuh: Tidak Menjadikan Al-Qur’an sebagai Obat Berbagai Macam Penyakit
Allah menurunkan Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk, tetapi juga sebagai obat bagi berbagai macam penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani. Sebagai hamba yang beriman, kita wajib meyakini bahwa Al-Qur’an adalah asy-syifa, penawar dari segala penyakit. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus:57)
Allah juga berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Isra: 82)
Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai bacaan wajib harian kita, pedoman hidup, sumber hukum, bahan tadabur, dan juga sebagai obat bagi hati dan jasmani kita. Dengan demikian, semoga kita termasuk golongan yang dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah ﷻ dengan Al-Qur’an, sebagaimana sabda Nabi ﷺ
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِين
Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan yang lain dengannya. (HR. Muslim)
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, menjauhkan kita dari sikap mengabaikannya, serta memberi taufik untuk selalu membaca, mentadaburi, dan mengamalkan isi kandungannya.
[1] https://tafsirweb.com/9008-surat-fussilat-ayat-26.html
[2] Al-Fawaid, karya Ibnul Qayyim (1/82)
[3] https://tafsirweb.com/6286-surat-al-furqan-ayat-30.html
Penulis: Ahmad Fathan H. (Dosen Jurusan Informatika UII)




