Memahami Makna Kalimat Tauhid

Bagi kita umat Islam, kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله merupakan kalimat yang sangat mulia dan memiliki keutamaan yang agung. Kalimat tersebut merupakan kalimat tauhid yang menjadi pondasi utama agama Islam. Selain itu, kalimat tersebut juga merupakan wujud persaksian yang diucapkan bersanding dengan kalimat muhammadur rasulullah. Persaksian tersebut merupakan rukun yang pertama dari rukun Islam. Dengan kalimat tersebut, Allah menciptakan para makhluk, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab. Dengan kalimat tersebut pula manusia dapat dibedakan menjadi mukmin atau kafir, menjadi ahli surga atau menjadi ahli neraka. Allah Ta’ala berfirman,

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa Allah mempersaksikan bahwa Dia satu-satunya Zat yang berhak diibadahi, dan menyandingkan persaksian-Nya dengan persaksian para malaikat, para ahli ilmu dalam perkara paling Agung yang dipersaksikan, yaitu keesaan Allah dan tegaknya Allah dalam menegakkan keadilan, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Perkasa yang tidak ada sesuatupun yang dikehendakinya kecuali pasti terjadi, juga Maha Bijaksana dalam firman-firman dan perbuatan-perbuatannya.[1]

Perlu kita ketahui bahwasannya kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله memiliki dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Kalimat  لَا إِلَهَ bermakna menafikan segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Dengan kalimat tersebut, kita meyakini bahwa segala sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil. Kita meniadakan segala bentuk penghambaan dan peribadatan kepada selain Allah, baik penyembahan kepada malaikat, nabi, jin, berhala, dan sebagainya.

Rukun yang kedua terdapat dalam kalimat إِلاَّ الله. Kalimat tersebut adalah suatu bentuk penisbatan bahwasannya hanya kepada Allah Ta’ala saja kita menyembah. Allah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tiada pantas sekutu bagi-Nya. Sebagai hamba yang beriman, kita perlu mengetahui makna kalimat tauhid yang sebenarnya. Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله bermakna لآ معبود بحق إِلاَّ اللهُ yaitu tidak ada sesembahan yang berhak dan wajib disembah melainkan Allah saja.

Memaknai لَا إِلَهَ إِلاَّ الله dengan “tiada Tuhan selain Allah” saja merupakan pemaknaan yang kurang tepat. Hal tersebut memiliki konsekuensi bahwa apa saja yang disembah manusia adalah Allah. Subhanallah. Maha Suci Allah dari hal yang seperti itu. Padahal kita ketahui bahwa banyak pula manusia yang menyembah kepada selain Allah. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa semua sesembahan tersebut adalah batil karena hanya Allah saja yang berhak untuk disembah. Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil” (QS. al-Hajj: 62)

Sebagai seorang yang beriman kepada Allah, kita mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan, meyakini dalam hati, dan mengimplementasikannya dalam perbuatan. Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله harus kita pahami maknanya. Jangan sampai kalimat tersebut hanya ada sebatas di lisan saja, namun hatinya tidak meyakini sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Meskipun mereka mengucapkan kalimat tauhid, mereka tetap akan menjadi penghuni neraka karena hati mereka mengingkarinya.  Jangan sampai pula kita mengucapkan kalimat tauhid, akan tetapi masih beribadah kepada selain Allah, meminta kepada jin, menyembah kuburan, dan sebagainya. Na’udzubillah.

Jangan pula kita menjadi orang yang setelah mengucapkan kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله lantas diam saja dan tidak mau mengerjakan amal saleh. Amal saleh adalah wujud dan bukti benarnya tauhid kita. Kita masih harus mengerjakan salat, puasa, membayar zakat, dan mengerjakan berbagai amal kebajikan yang lainnya.

Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله tersebut memiliki beberapa syarat. Ulama menjelaskan setidaknya ada delapan syarat yang harus dipenuhi:

  1. Ilmu
    Ilmu berarti seorang muslim harus memahami makna yang benar yang terkandung di dalam kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله.
  1. Yakin
    Seorang mukmin harus yakin dan tidak boleh sedikitpun merasa ragu bahwasannya Allah Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib untuk disembah.
  1. Ikhlas
    Ikhlas berarti seorang hamba memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah saja, bukan kepada nabi, malaikat, jin, atau selain-Nya.
  1. Jujur
    Hal ini berarti seorang hamba harus menyelaraskan antara lisan dan hatinya. Lisannya mengikrarkan kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله dan hatinya membenarkan apa yang diucapkan lisannya.
  1. Cinta
    Seorang hamba yang mengucapkan kalimat tauhid لَا إِلَهَ إِلاَّ الله haruslah mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai agama Islam dan cinta kepada orang-orang yang menegakkan kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله.
  1. Patuh
    Orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid kemudian meyakininya maka ia harus patuh dan tunduk terhadap syariat yang telah ditetapkan Allah Ta’ala.
  1. Menerima
    Hal ini maknanya adalah seorang hamba menerima tauhid ini dengan lisan dan hatinya tanpa ada penolakan sedikitpun. Ia rida dan berkomitmen di dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja.
  1. Berlepas diri dari syirik
    Hal ini berarti seorang yang mengucapkan kalimat tauhid harus mengingkari serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.

Marilah kita sama-sama meninjau kembali bagaimana pemahaman kita terhadap kalimat tauhid. Sudahkah kita mengucapkannya di lisan kita sekaligus meyakini di dalam hati kita? Sudah sepantasnya kita menjadikan kalimat tauhid menjadi pegangan kita, menjadi kebiasaan zikir kita karena ia adalah zikir yang paling utama, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’),

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

”Dzikir yang paling utama adalah bacaan ’laa ilaha illallah’.” (HR. Tirmidzi)

Selain itu, kalimat tauhid لَا إِلَهَ إِلاَّ الله adalah kalimat yang dapat menghantarkan seorang hamba masuk ke surga. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Sebagai penutup, kami berdoa semoga kita dan keluarga kita menjadi hamba yang dapat untuk terus istikamah di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjadi hamba-Nya yang senantiasa bertauhid hingga akhir hayat. Amin.

Referensi:

  • Asy-Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, Syarah Al Ushul Ats Tsalatsah
  • Asy-Syaikh Abdullah bin Ahmad Al Huwail, At-Tauhid Al-Muyassar

[1] https://tafsirweb.com/1150-surat-ali-imran-ayat-18.html


Penulis: Ahmad Fathan Hidayatullah