Manfaatkan Waktumu Sebelum Ramadan Berakhir

Hari-hari terus berlalu. Tidak terasa kita telah memasuki penghujung bulan Ramadan. Bulan di mana Allah mewajibkan hamba yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa. Bulan yang penuh dengan keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun, marilah kita merenung sejenak. Mungkin ada di antara kita yang masih belum dapat memaksimalkan diri dalam mengerjakan amal saleh pada bulan Ramadan kali ini. Oleh karenanya, marilah kita introspeksi diri mengenai apa yang telah kita persiapkan selama bulan Ramadan ini untuk bekal kehidupan akhirat nanti. Allah ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)

Wahai kaum muslimin, marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing. Sampai detik ini, amal apa yang telah kita lakukan selama bulan Ramadan ini sebagai bekal kita di akhirat kelak? Apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya? Apakah kita sudah memperbanyak ibadah, qiyamulail, membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, dan amal kebajikan yang lainnya?

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang pentingnya waktu dengan sebaik-baiknya agar kita tidak menjadi hamba yang merugi:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadan ini. Waktu yang tersisa tidak boleh kita biarkan berlalu begitu saja. Justru, inilah saatnya kita semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah, terlebih di sepuluh hari terakhir Ramadan yang penuh keutamaan.

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita sebagaimana riwayat dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya. (HR. Muslim, no. 1175)

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang hamba yang maksum, yang telah diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, tetap bersungguh-sungguh dalam beribadah, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Beliau tidak menyia-nyiakan waktu, bahkan semakin meningkatkan semangat ibadahnya menjelang akhir Ramadan. Selain itu, beliau juga membangunkan dan mengajak keluarganya untuk menghidupkan malam-malam tersebut. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174)

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin surga saja berusaha sekuat tenaga untuk meraih keutamaan Ramadan, lalu bagaimana dengan kita yang penuh dosa dan belum tahu bagaimana akhir hidup kita? Bukankah kita jauh lebih membutuhkan rahmat dan ampunan Allah?

Oleh karena itu, mari kita meneladani semangat beliau dengan memperbanyak amal saleh di malam-malam penuh kemuliaan ini. Jangan sampai kita lalai, sebab bisa jadi inilah Ramadan terakhir kita.

Salah satu alasan utama mengapa sepuluh malam terakhir Ramadan begitu istimewa adalah karena di dalamnya terdapat lailatulqadar, malam yang sangat agung, yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Allah ta’ala berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۝ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ۝ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3–5)

Malam ini adalah malam yang penuh dengan keberkahan, malam di mana seluruh amal ibadah yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya, bahkan lebih baik daripada beribadah selama lebih dari 83 tahun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَن قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنبِهِ

“Barang siapa yang menghidupkan lailatulqadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760)

Bayangkan, hanya dengan satu malam saja yang kita isi dengan keikhlasan dan kesungguhan dalam ibadah, Allah janjikan ampunan atas dosa-dosa kita. Maka, sangat rugi jika kita melewati malam-malam ini tanpa usaha untuk mendapatkannya.

Oleh karena itu, dalam upaya kita meraih lailatulqadar, sudah sepatutnya kita mengisinya dengan berbagai amal saleh. Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan adalah:

1. Iktikaf

Iktikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara konsisten pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Tujuan utama iktikaf adalah menjauhkan diri dari kesibukan duniawi agar lebih fokus dalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau pun beriktikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)

2. Memperbanyak salat malam

Salat malam merupakan salah satu amalan yang berpahala besar. Kita dapat melakukan salat malam dengan menikmatinya serta memperlama berdiri membaca Al-Qur’an di dalamnya, rukuk, dan sujud. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

3. Membaca Al-Qur’an

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Di sepuluh hari terakhir ini, mari kita manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk lebih banyak membaca, memahami, dan merenungkan maknanya. Dengan begitu, kita berharap dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Allah ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bertadarus Al-Qur’an dengan malaikat Jibril ‘alaihissalam di setiap Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam hadis,

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ

 Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia, beliau mengkhatamkan dua kali.” (HR. Bukhari no. 4998)

4. Memperbanyak doa kepada Allah

Amal saleh yang bisa kita kerjakan dalam sepuluh hari terakhir Ramadan adalah dengan memperbanyak doa. Allah ta’ala menyelipkan ayat tentang doa di tengah-tengah pembahasan ayat puasa di dalam Surat Al-Baqarah,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

 Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah: 186)

Salah satu tujuan utama Ramadan adalah untuk mendapatkan ampunan Allah. Maka, sepuluh malam terakhir ini adalah kesempatan terbaik untuk bertobat dan memohon ampunan kepada-Nya. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal setelah Ramadan berlalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadan, tetapi dosanya tidak diampuni (HR. Ahmad, no. 7450)

Di antara doa yang dianjurkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk banyak dibaca adalah,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku. (HR. Tirmidzi, no. 3513)

Para pembaca rahimakumullah, mari kita manfaatkan sisa Ramadan dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan kesempatan mulia ini berlalu tanpa makna. Hidupkan malam-malam terakhir dengan iktikaf, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, salat malam, zikir, doa, dan bertobat kepada Allah. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah yang ikhlas, dan semoga kita termasuk orang-orang yang meraih keberkahan dan ampunan di bulan yang agung ini, dianugerahi kemuliaan lailatulqadar.


Penulis: Ahmad Fathan H. (Dosen Jurusan Informatika UII)