Oleh: Sheila Nurul Huda, S.Kom., M.Cs.

Ada terlihat di sudut mataku, pemandangan mahasiswa bergerombol membahas soal dan bertukar pendapat tentang materi kuliah. Apalagi pekan ini memasuki masa ujian tengah semester (UTS). Pemandangan yang selalu membuat hatiku optimis, bahwa generasi masa depan akan diisi engkau yang mengedepankan ilmu. Mungkin, Indonesia emas memang pada saatnya akan mewujud, karena para pemuda itu mencintai ilmu dan bersemangat menggapainya. 

Kalian generasi muda bangsa ini, telah berada pada perjuangan untuk menyongsong masa depan. Pertanyaannya, masa depan seperti apa yang kalian kejar?

Pada tulisan kali ini, mari kita renungi ayat berikut bersama-sama, yaitu penggalan QS. Al-Baqarah ayat 200, dan ayat 201.

 

 فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۝٢٠٠

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝٢٠١

 

Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun. Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 200-201)

 

Terkadang kita begitu berambisi untuk meraih kesuksesan dunia. Tidak salah, sebenarnya. Bukankah salah satu poin akreditasi program studi juga terdiri dari prestasi mahasiswa? Namun, bayangkan jika kelak kita sampai di penghujung nafas, saat malaikat maut telah menunggu di sisi kita, dan ajal telah siap menghampiri kita. Dunia yang kita kejar, indeks prestasi kumulatif (IPK) yang sempurna, jabatan di perusahaan yang telah dicapai, dan deretan digit angka di mobile banking, apakah itu semua bisa menunda kematian? Apakah itu semua bisa menyogok malaikat maut untuk menunda nyawa agar tetap di raga? Kullu nafsin dzaiqotul maut (Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian). Dan datangnya maut adalah rahasia Illahi yang kita tidak tahu kapannya.

Ternyata, jika semua kesuksesan itu tidak dilandasi dengan keimanan, maka ibarat manusia yang berdoa untuk kebaikan di dunia, sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apapun. Semua yang dicapai, tidak lantas mengantarkan pada akhirat yang selamat.

Allah mengajarkan pada manusia bahwa memohon kebaikan mesti pada keduanya, dunia dan akhirat. Mengejar dunia saja, tanpa memikirkan akhirat, akan membuat kita lupa bahwa hidup ini hanya sesaat. Mengejar dunia saja, membuat kita memosisikan pencapaian duniawi sebagai tujuan akhir, yang kemudian sering menjerumuskan manusia untuk menghalalkan segala cara demi mewujudkannya. Begitu takutnya IPK jatuh, ada segelintir manusia yang memilih tindakan curang. Begitu khawatirnya akan kekurangan harta, muncul sekelompok manusia yang melegitimasi tindakan haram. Begitu inginnya menduduki jabatan dan kekuasaan, beberapa golongan rela memilih jalan munkar. Mengharapkan kebaikan dunia, namun tanpa kebaikan akhirat.

Allah memberi contoh bagaimana mendudukkan dunia dan akhirat, pada posisi yang seimbang, pada penggalan Surat Al-Baqarah ayat 201, yang sering kali kita baca ketika kita berdoa, Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār. Kebaikan dunia, dan kebaikan akhirat. Bukan hanya mengejar kebaikan dunia, namun juga bukan hanya memfokuskan diri pada ibadah mahdah dan akhirat semata. Keduanya dimohonkan kebaikan, keduanya berimbang.

Maka, nak, menjadilah mahasiswa yang bersemangat kuliah, menuntut ilmu, dan berprestasi, bukan semata memohonkan kebaikan dunia. Tetapi landasilah perjuangan kalian menuju masa depan ini dengan landasan keimanan. Landasan kebaikan. Yang dengannya, kebaikan dunia ini menjadi keberkahan, membawa kebaikan untuk manusia lainnya, membawa kebaikan untuk lingkungan, membawa kebaikan untuk alam semesta, dan pada akhirnya menjadi kebaikan untuk akhirat kalian kelak. Kita menyebutnya, menjadi rahmatan lil ‘alamin. Bismillah..

Oleh: Farras Rana Pradhana, S.T.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat ini, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan tanpa akhir, mengejar harta, status, dan kehidupan duniawi lainnya. Namun, semakin dikejar, justru semakin terasa kosong. Hati tidak pernah tenang, pikiran selalu resah, dan hidup terasa kurang, meski nikmat Allah begitu melimpah. Padahal, Islam telah mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang Allah berikan untuk kita atau yang biasa dikenal dengan istilah qanaah

Secara bahasa, qanaah berarti rida dan merasa puas terhadap bagian rezeki yang telah Allah berikan. Sedangkan menurut istilah para ulama, qanaah adalah sikap hati yang menerima pemberian Allah dengan lapang dada, tanpa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Merasa cukup qanaah bukan berarti malas berusaha atau tidak punya cita-cita, melainkan menerima hasil dengan lapang dada setelah berikhtiar sebaik-baiknya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa (merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut kita dapat melihat bahwa kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa, sehingga tidaklah penting atau berarti seberapa banyak kekayaan harta benda yang kita punya, tanpa memiliki hati atau jiwa yang merasa cukup atas semua nikmat tersebut. Dengan merasa cukup, kita akan lebih tenang dan lebih menghargai atas apa yang kita punya saat ini. 

Berikut merupakan tips belajar untuk merasa cukup atas nikmat yang telah kita miliki yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Meyakini Bahwa Setiap Rezeki Sudah Diatur oleh Allah
    Dalam surat Hud ayat 6 Allah berfirman yang artinya, “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).
    Ketika kita merasa yakin bahwa setiap rezeki sudah ditetapkan dan pasti akan tersampaikan ke penerimanya, kita tidak perlu gelisah berlebihan atau membandingkan hidup dengan orang lain. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala.
  1. Perbanyak Syukur Setiap Hari
    D
    alam surat Ibrahim ayat 7 Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
    Bersyukur adalah kunci utama untuk menumbuhkan rasa cukup. Ketika kamu merasa kurang, coba lihat lagi berapa banyak nikmat yang sebenarnya sudah kamu miliki. Setiap malam sebelum tidur, coba sebutkan tiga hal yang kamu syukuri hari itu, seperti tidak terkena macet saat berangkat kerja, mendapatkan traktiran ulang tahun dari teman, atau bisa pulang kerja tepat waktu. Kebiasaan kecil ini akan melatih otak dan hati kita untuk fokus pada nikmat yang ada, bukan kekurangan yang bisa dicari-cari.

Mari kita berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya yang kita bisa dan senantiasa merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah ta’ala. Karena kebahagiaan sejati bukan saat kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita mampu merasa cukup dengan apa yang ada.

 

Oleh: Muhammad Lutfi Usman, S.Pd. K.Or

Kawan, apakah kalian pernah mengalami permasalahan hidup? Pasti pernah ya, dan itu tidak hanya satu atau dua kali saja, mungkin bisa jadi tiap hari merasakanya.

Janganlah bersedih kawan,  karena semua masalah baik yang kecil maupun yang berat ternyata itu hanyalah cobaan dari Allah ta’ala untuk menguji seberapa kuat kita. Kita harus kuat dalam menjalaninya, jangan menyerah, jangan berputus asa. Tetap hadapi masalah itu, jangan menghindar, selesaikan masalah itu dengan sebaik-baiknya. Yakinlah kawan setelah masalah itu selesai pasti akan kamu temukan kebahagiaan dan kebanggaan bahwa kamu memang pantas untuk menerima ujian dari Allah ta’ala. Yakinlah Allah ta’ala akan mengganti perjuanganmu itu dengan pahala yang luas dan keberkahan yang kamu tidak ketahui.

Kawan tahukah kamu, ternyata Allah ta’ala telah membuat rumus dalam hidup ini, hanya saja terkadang tidak kita ketahui. Berikut rumus ketika kita mendapatkan permasalahan:

M – K = B

M: Masalah, K: Kemudahan, B: Bahagia 

Rumus MKB di atas, perlu kita ingat, agar bila ada permasalahan kita bisa langsung move on. Dan kita yakin bahwa pasti permasalahan akan terselesaikan, karena Allah ta’ala sudah berjanji dan memberikan pedoman kepada kita bila mana mendapatkan permasalahan. Allah ta’ala berfirman di  Surat Al Insyirah ayat 1-8, yang artinya:

Ayat 1: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu”
Ayat 2: dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu”
Ayat 3: yang memberatkan punggungmu”
Ayat 4: Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”
Ayat 5: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Ayat 6: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Ayat 7: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”
Ayat 8: Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”

Bagaimana kawan, sudah lega perasaanmu sekarang?

Sekarang tinggal kita jalani hidup ini dengan penuh semangat, lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Kita jadikan hidup kita lebih bermanfaat untuk diri sendiri, orang tua dan keluarga kita, agama dan saudara kita.

Akhir kata, janganlah bersedih kawan, karena sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.

 

oleh : Mukhammad Andri Setiawan

Pernahkah kita merenungkan mengapa dakwah para nabi begitu mengena di hati? Mengapa mereka mampu menghadapi penentang-penentang keras dengan tetap menjaga kemuliaan akhlak? Jawabannya terletak pada satu kata kunci: adab. Ya, adab atau akhlak dalam Islam bukanlah sekadar pelengkap, tapi juga menjadi pondasi utama yang menentukan keberhasilan sebuah interaksi, termasuk dalam menyampaikan kebenaran.

 

Mari kita tengok kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bayangkan situasinya: seorang anak yang harus berhadapan dengan ayahnya sendiri karena perbedaan keyakinan yang sangat fundamental. Ayahnya adalah pembuat patung, sedangkan Ibrahim datang dengan ajaran tauhid. Konflik ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa, tetapi pertentangan antara syirik dan tauhid, antara kebatilan dan kebenaran.

 

Namun, bagaimana Ibrahim menyikapi situasi ini? Al-Qur’an mencatat dengan indah dalam Surah Maryam ayat 42-45, bagaimana Ibrahim tetap memanggil ayahnya dengan panggilan “Ya Abati” (Wahai ayahku). Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada nada merendahkan, tidak ada sikap arogan meskipun Ibrahim berada di pihak kebenaran. Sebuah teladan luar biasa tentang bagaimana adab harus tetap terjaga bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

 

Kisah yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam untuk menghadapi Fir’aun. Kita semua tahu siapa Fir’aun – seorang tiran yang mengaku sebagai tuhan, pembunuh ribuan bayi tidak berdosa, penindas Bani Israil selama bertahun-tahun. Dia adalah simbol kezaliman dan kesombongan manusia.

 

Lalu apa perintah Allah kepada Musa dan Harun? Dalam Surah Thaha ayat 44, Allah berfirman: Read more

Dalam kehidupan masyarakat Muslim, tidak jarang kita masih menjumpai keyakinan atau tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu contohnya adalah anggapan negatif terhadap bulan Safar. Sebagian orang masih percaya bahwa bulan Safar adalah bulan sial, penuh malapetaka, dan tidak baik untuk memulai aktivitas penting seperti pernikahan, pembangunan rumah, atau perjalanan jauh.

Padahal, dalam Islam, keyakinan semacam ini termasuk dalam bentuk tathayyur (merasa sial karena sesuatu yang tidak terbukti secara syariat), yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Anggapan tersebut sejatinya merupakan warisan zaman jahiliah yang telah dibatalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata Safar secara bahasa berarti “kosong” atau “bersih”. Disebut demikian karena dahulu, pada bulan ini, orang-orang Arab meninggalkan rumah mereka untuk berperang atau bepergian sehingga rumah-rumah menjadi kosong.

Namun, seiring waktu, muncul berbagai mitos dan keyakinan keliru yang menyelimuti bulan Safar ini. Di antara kepercayaan masyarakat Arab jahiliah, mereka meyakini bahwa bulan Safar membawa nasib buruk sehingga mereka menghindari kegiatan penting selama bulan ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datang meluruskan pandangan ini dalam sabdanya: Read more

oleh: Chanifah Indah Ratnasari

Topik tulisan kali ini sebenarnya simpel, tapi punya efek luar biasa dalam hidup kita. Yaitu tentang bersyukur, atau dalam bahasa kerennya “gratitude.” Pernah nggak sih kita mikir, kenapa ada orang yang kelihatannya selalu bahagia, meskipun hidupnya nggak selalu mulus? Sementara ada juga yang punya segalanya, tapi tetap merasa kurang dan nggak pernah puas?

Nah, jawabannya ada di cara mereka melihat hidup. Orang yang punya kebiasaan bersyukur bisa melihat keindahan dalam segala hal, termasuk dalam hal-hal yang menurut orang lain itu buruk atau menyedihkan. Tulisan ini bakal ngebahas gimana caranya kita bisa jadi orang yang lebih bersyukur, lebih bahagia, dan lebih positif dalam menjalani hidup.

1. Bersyukur Itu Kunci Kebahagiaan

Banyak orang berpikir kalau bahagia itu datang setelah kita mendapatkan sesuatu: setelah sukses, setelah punya uang banyak, setelah punya pasangan yang ideal, dan sebagainya. Padahal, bahagia itu justru datang karena kita bersyukur atas apa yang kita punya sekarang.

Allah sudah kasih janji dalam Al-Qur’an: Read more

Oleh: Ahmad Fathan Hidyatullah, S.T., M.Cs., Ph.D.

Saat ini kita berada di bulan Zulkaidah, sebuah bulan yang sering terabaikan padahal memiliki kedudukan istimewa dalam syariat Islam. Zulkaidah bukanlah bulan biasa. Ia termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah secara khusus sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah: 36)

Ayat ini menjelaskan bahwa jumlah bulan dalam satu tahun sudah Allah tetapkan sejak penciptaan alam semesta, bukan sekadar kesepakatan manusia belaka. Dari dua belas bulan itu, terdapat empat bulan haram yang dimuliakan. Mengenai empat bulan haram yang disebutkan di dalam ayat di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang berada di antara Jumadal (akhir) dan Syakban. (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Namun demikian, masih banyak kaum muslimin yang belum menyadari keutamaan bulan Zulkaidah ini. Fokus perhatian umat sering kali hanya tertuju pada bulan-bulan lain yang lebih populer seperti Rajab, Ramadan, Zulhijah, atau Muharram. Hal ini karena memang keutamaan bulan-bulan tersebut banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, serta lebih dikenal luas di tengah masyarakat. Berbeda halnya dengan Zulkaidah, yang meskipun termasuk bulan haram, tidak banyak disinggung dalam ceramah atau pengajaran umum sehingga sering terlupakan. Akibatnya, sedikit sekali yang memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh.

Berikut ini adalah beberapa keistimewaan Bulan Zulkaidah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama: Read more

oleh: Kholid Haryono, ST., M.Kom. 

Dalam kehidupan modern, jasa menjadi fondasi banyak aktivitas ekonomi dan sosial. Dunia pendidikan, kesehatan, konsultasi, dan administrasi, semuanya bergantung pada komitmen terhadap perjanjian kerja yang telah disepakati. Namun, realitas memperlihatkan bahwa banyak orang tergoda untuk mengambil jalan pintas: mengurangi usaha, memperkecil pengorbanan, tetapi berharap tetap mendapatkan hasil maksimal. Islam sangat tegas dalam mengajarkan keadilan dalam setiap bentuk transaksi, baik yang berkaitan dengan barang maupun jasa. Prinsip ini memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an, salah satunya terdapat dalam Surah Al-Muṭaffifīn ayat 1–3, yang secara khusus mengecam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan:

وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ ﴿١﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣) 

Artinya:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1–3)

Ayat ini mengandung peringatan keras bagi siapa pun yang tidak berlaku adil dalam transaksi, dan menekankan pentingnya kejujuran serta tanggung jawab dalam interaksi ekonomi.

Hakikat Tanggung Jawab dalam Transaksi Jasa

Read more

Oleh: Elyza Gustri Wahyuni (28 April 2025)

Di era digital ini, sosial media telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Sosial media banyak memberikan berbagai kemudahan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan mendapatkan informasi. Namun, di balik manfaatnya, sosial media juga menyimpan potensi bahaya, salah satunya adalah bullying atau perundungan yang dilakukan secara disadari maupun tidak disadari. Islam, sebagai agama yang sempurna, memiliki panduan yang jelas tentang etika bersosial media, termasuk cara menjauhi perilaku bullying dan menebar kebaikan. 

Bullying atau perundungan adalah tindakan tercela yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang lebih lemah. Dalam Islam, perilaku bullying termasuk dalam kategori gibah (menggunjing), fitnah (menuduh tanpa bukti), tajasus (mencari-cari kesalahan orang lain), dan namimah (adu domba). Semua kategori tersebut masuk dalam perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam karena bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan keadilan.

Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ dengan tegas melarang perbuatan gibah (menggunjing). Larangan ini disebutkan dalam Surah Al-Ḥujurat ayat 12. Allah memberikan perumpamaan yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa tercelanya perbuatan tersebut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥujurat: 12)

Islam dan Etika Bermedia Sosial

Islam mengajarkan beberapa etika penting dalam berinteraksi, termasuk dalam penggunaan media sosial. Di antara prinsip utama yang ditekankan adalah berkata baik atau diam. Rasulullah ﷺ bersabda: Read more

Sedekah merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) karena dengan bersedekah kita menunjukkan ketulusan dan keikhlasan dalam beramal hanya karena-Nya. Sedekah adalah untuk mencari rida Allah, bukan untuk dipuji manusia, sehingga sedekah menjadi salah satu bentuk ibadah yang sangat mendekatkan diri kepada-Nya.

Banyak amalan yang termasuk dalam sedekah. Itu menjadi peluang besar bagi kita untuk mencintai amalan yang mulia ini. Jika kita benar-benar ikhlas dalam bersedekah, Allah akan berikan balasan yang lebih kepada kita.

Berikut beberapa keutamaan bersedekah:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah

Dengan bersedekah, kita telah menjalankan perintah Allah seperti yang ada dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 92,

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali ‘Imran: 92)

Dengan mengamalkan ayat ini, kita tidak hanya menunjukkan kepatuhan kepada Allah, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Nya melalui amal yang ikhlas dan penuh kesungguhan.

2. Membersihkan Harta

Read more