Pada kesempatan kali ini, kita akan bersama-sama bertadabur surat favorit kita semua, surat Al-Ikhlas. Surat yang mungkin paling sering kita baca di setiap salat kita. Surat yang paling mudah dihafal dan mungkin pula sulit untuk dilupakan. Surat yang mungkin ketika kita baca, kita tidak perlu banyak berpikir karena sudah sangat kita hafal.

Namun, sudah sejauh mana kita menyelami maknanya, merenungkan isi kandungannya, dan mengaplikasikannya dalam keseharian kita? Jangan sampai surat Al-Ikhlas hanya sekadar kita baca saja tanpa ada sesuatu yang membekas di hati kita.

Nama Surat

Syaikh Adil Muhammad Khalil[1] menyebutkan bahwa ada beberapa nama dari Surat Al-Ikhlas:

1. Al-Ikhlas

Dinamakan Al-Ikhlas karena membahas tentang keikhlasan dalam mentauhidkan Allah serta sifat-sifat-Nya yang sempurna. Syaikh Shalih bin Fauzan menyebutkan tentang surat ini bahwasanya Allah memurnikan dan mengkhususkan surat tersebut hanya untuk-Nya, yaitu Allah tidak menyebutkan sedikit pun di dalamnya hukum-hukum syar’i dan tidak juga kabar-kabar tentang selain-Nya. Yang ada, Allah hanya menyebutkan kabar tentang diri-Nya.[2] Surat ini juga menunjukkan الْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ  (al-baraa’ah min asy-syirk) yaitu berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.[3]

2. Qul huwa Allahu Ahad

Read more

Hari-hari terus berlalu. Tidak terasa kita telah memasuki penghujung bulan Ramadan. Bulan di mana Allah mewajibkan hamba yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa. Bulan yang penuh dengan keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun, marilah kita merenung sejenak. Mungkin ada di antara kita yang masih belum dapat memaksimalkan diri dalam mengerjakan amal saleh pada bulan Ramadan kali ini. Oleh karenanya, marilah kita introspeksi diri mengenai apa yang telah kita persiapkan selama bulan Ramadan ini untuk bekal kehidupan akhirat nanti. Allah ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)

Wahai kaum muslimin, marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing. Sampai detik ini, amal apa yang telah kita lakukan selama bulan Ramadan ini sebagai bekal kita di akhirat kelak? Apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya? Apakah kita sudah memperbanyak ibadah, qiyamulail, membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, dan amal kebajikan yang lainnya?

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang pentingnya waktu dengan sebaik-baiknya agar kita tidak menjadi hamba yang merugi: Read more

Al-Qur’an adalah kitab terakhir sekaligus mukjizat yang Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril. Kitab ini merupakan pedoman dan petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Allah ﷻ berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya Al-Qur’an menjadi bagian penting yang senantiasa akrab dalam kehidupan sehari-hari kita. Namun, realita yang terjadi masih jauh dari harapan kita.

Kita sadar bahwa masih banyak di antara kita yang enggan membaca atau mempelajari Al-Qur’an karena terlalu sibuk dengan urusan dunia. Masih banyak dari kaum muslimin yang mengabaikan dan tidak peduli dengan Al-Qur’an. Apabila Al-Qur’an diperdengarkan, sebagian dari kaum muslimin mengabaikan atau bahkan tidak mau mendengarkannya. Waktu luang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi ayat-ayat Allah, justru habis tersita untuk berselancar di dunia maya, scrolling media sosial, atau sekadar ber-chatting ria.

Keadaan ini hampir serupa dengan apa yang terjadi di masa lampau. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur’an kepada orang-orang musyrikin Quraisy. Akan tetapi, mereka berpaling dan tidak mau mendengarkan Al-Qur’an.

Allah berfirman, Read more

Sebagai umat muslim, tentu kita semua sepakat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan bagi kita. Beliau adalah orang terbaik pilihan Allah yang diutus kepada manusia dan jin untuk membawa petunjuk, menyampaikan wahyu, dan menunjukkan jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Beliau diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk bangsa Arab atau kelompok tertentu saja. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’: 107).

Beliau adalah pribadi yang paling mulia dalam akhlak, paling sempurna dalam ibadah, dan paling lurus dalam menjalankan syariat. Segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan beliau merupakan bimbingan dari wahyu. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).(QS. An-Najm: 3–4).

Telah ada dalam sosok Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam suri teladan yang sempurna bagi setiap muslim, sebagaimana Allah ta’ala berfirman, Read more

Oleh: Sheila Nurul Huda, S.Kom., M.Cs.

Ada terlihat di sudut mataku, pemandangan mahasiswa bergerombol membahas soal dan bertukar pendapat tentang materi kuliah. Apalagi pekan ini memasuki masa ujian tengah semester (UTS). Pemandangan yang selalu membuat hatiku optimis, bahwa generasi masa depan akan diisi engkau yang mengedepankan ilmu. Mungkin, Indonesia emas memang pada saatnya akan mewujud, karena para pemuda itu mencintai ilmu dan bersemangat menggapainya. 

Kalian generasi muda bangsa ini, telah berada pada perjuangan untuk menyongsong masa depan. Pertanyaannya, masa depan seperti apa yang kalian kejar?

Pada tulisan kali ini, mari kita renungi ayat berikut bersama-sama, yaitu penggalan QS. Al-Baqarah ayat 200, dan ayat 201.

 

 فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۝٢٠٠

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝٢٠١

 

Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun. Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 200-201)

 

Terkadang kita begitu berambisi untuk meraih kesuksesan dunia. Tidak salah, sebenarnya. Bukankah salah satu poin akreditasi program studi juga terdiri dari prestasi mahasiswa? Namun, bayangkan jika kelak kita sampai di penghujung nafas, saat malaikat maut telah menunggu di sisi kita, dan ajal telah siap menghampiri kita. Dunia yang kita kejar, indeks prestasi kumulatif (IPK) yang sempurna, jabatan di perusahaan yang telah dicapai, dan deretan digit angka di mobile banking, apakah itu semua bisa menunda kematian? Apakah itu semua bisa menyogok malaikat maut untuk menunda nyawa agar tetap di raga? Kullu nafsin dzaiqotul maut (Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian). Dan datangnya maut adalah rahasia Illahi yang kita tidak tahu kapannya.

Ternyata, jika semua kesuksesan itu tidak dilandasi dengan keimanan, maka ibarat manusia yang berdoa untuk kebaikan di dunia, sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apapun. Semua yang dicapai, tidak lantas mengantarkan pada akhirat yang selamat.

Allah mengajarkan pada manusia bahwa memohon kebaikan mesti pada keduanya, dunia dan akhirat. Mengejar dunia saja, tanpa memikirkan akhirat, akan membuat kita lupa bahwa hidup ini hanya sesaat. Mengejar dunia saja, membuat kita memosisikan pencapaian duniawi sebagai tujuan akhir, yang kemudian sering menjerumuskan manusia untuk menghalalkan segala cara demi mewujudkannya. Begitu takutnya IPK jatuh, ada segelintir manusia yang memilih tindakan curang. Begitu khawatirnya akan kekurangan harta, muncul sekelompok manusia yang melegitimasi tindakan haram. Begitu inginnya menduduki jabatan dan kekuasaan, beberapa golongan rela memilih jalan munkar. Mengharapkan kebaikan dunia, namun tanpa kebaikan akhirat.

Allah memberi contoh bagaimana mendudukkan dunia dan akhirat, pada posisi yang seimbang, pada penggalan Surat Al-Baqarah ayat 201, yang sering kali kita baca ketika kita berdoa, Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār. Kebaikan dunia, dan kebaikan akhirat. Bukan hanya mengejar kebaikan dunia, namun juga bukan hanya memfokuskan diri pada ibadah mahdah dan akhirat semata. Keduanya dimohonkan kebaikan, keduanya berimbang.

Maka, nak, menjadilah mahasiswa yang bersemangat kuliah, menuntut ilmu, dan berprestasi, bukan semata memohonkan kebaikan dunia. Tetapi landasilah perjuangan kalian menuju masa depan ini dengan landasan keimanan. Landasan kebaikan. Yang dengannya, kebaikan dunia ini menjadi keberkahan, membawa kebaikan untuk manusia lainnya, membawa kebaikan untuk lingkungan, membawa kebaikan untuk alam semesta, dan pada akhirnya menjadi kebaikan untuk akhirat kalian kelak. Kita menyebutnya, menjadi rahmatan lil ‘alamin. Bismillah..

Oleh: Farras Rana Pradhana, S.T.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat ini, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan tanpa akhir, mengejar harta, status, dan kehidupan duniawi lainnya. Namun, semakin dikejar, justru semakin terasa kosong. Hati tidak pernah tenang, pikiran selalu resah, dan hidup terasa kurang, meski nikmat Allah begitu melimpah. Padahal, Islam telah mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang Allah berikan untuk kita atau yang biasa dikenal dengan istilah qanaah

Secara bahasa, qanaah berarti rida dan merasa puas terhadap bagian rezeki yang telah Allah berikan. Sedangkan menurut istilah para ulama, qanaah adalah sikap hati yang menerima pemberian Allah dengan lapang dada, tanpa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Merasa cukup qanaah bukan berarti malas berusaha atau tidak punya cita-cita, melainkan menerima hasil dengan lapang dada setelah berikhtiar sebaik-baiknya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa (merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut kita dapat melihat bahwa kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa, sehingga tidaklah penting atau berarti seberapa banyak kekayaan harta benda yang kita punya, tanpa memiliki hati atau jiwa yang merasa cukup atas semua nikmat tersebut. Dengan merasa cukup, kita akan lebih tenang dan lebih menghargai atas apa yang kita punya saat ini. 

Berikut merupakan tips belajar untuk merasa cukup atas nikmat yang telah kita miliki yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Meyakini Bahwa Setiap Rezeki Sudah Diatur oleh Allah
    Dalam surat Hud ayat 6 Allah berfirman yang artinya, “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).
    Ketika kita merasa yakin bahwa setiap rezeki sudah ditetapkan dan pasti akan tersampaikan ke penerimanya, kita tidak perlu gelisah berlebihan atau membandingkan hidup dengan orang lain. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala.
  1. Perbanyak Syukur Setiap Hari
    D
    alam surat Ibrahim ayat 7 Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
    Bersyukur adalah kunci utama untuk menumbuhkan rasa cukup. Ketika kamu merasa kurang, coba lihat lagi berapa banyak nikmat yang sebenarnya sudah kamu miliki. Setiap malam sebelum tidur, coba sebutkan tiga hal yang kamu syukuri hari itu, seperti tidak terkena macet saat berangkat kerja, mendapatkan traktiran ulang tahun dari teman, atau bisa pulang kerja tepat waktu. Kebiasaan kecil ini akan melatih otak dan hati kita untuk fokus pada nikmat yang ada, bukan kekurangan yang bisa dicari-cari.

Mari kita berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya yang kita bisa dan senantiasa merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah ta’ala. Karena kebahagiaan sejati bukan saat kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita mampu merasa cukup dengan apa yang ada.

 

Oleh: Muhammad Lutfi Usman, S.Pd. K.Or

Kawan, apakah kalian pernah mengalami permasalahan hidup? Pasti pernah ya, dan itu tidak hanya satu atau dua kali saja, mungkin bisa jadi tiap hari merasakanya.

Janganlah bersedih kawan,  karena semua masalah baik yang kecil maupun yang berat ternyata itu hanyalah cobaan dari Allah ta’ala untuk menguji seberapa kuat kita. Kita harus kuat dalam menjalaninya, jangan menyerah, jangan berputus asa. Tetap hadapi masalah itu, jangan menghindar, selesaikan masalah itu dengan sebaik-baiknya. Yakinlah kawan setelah masalah itu selesai pasti akan kamu temukan kebahagiaan dan kebanggaan bahwa kamu memang pantas untuk menerima ujian dari Allah ta’ala. Yakinlah Allah ta’ala akan mengganti perjuanganmu itu dengan pahala yang luas dan keberkahan yang kamu tidak ketahui.

Kawan tahukah kamu, ternyata Allah ta’ala telah membuat rumus dalam hidup ini, hanya saja terkadang tidak kita ketahui. Berikut rumus ketika kita mendapatkan permasalahan:

M – K = B

M: Masalah, K: Kemudahan, B: Bahagia 

Rumus MKB di atas, perlu kita ingat, agar bila ada permasalahan kita bisa langsung move on. Dan kita yakin bahwa pasti permasalahan akan terselesaikan, karena Allah ta’ala sudah berjanji dan memberikan pedoman kepada kita bila mana mendapatkan permasalahan. Allah ta’ala berfirman di  Surat Al Insyirah ayat 1-8, yang artinya:

Ayat 1: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu”
Ayat 2: dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu”
Ayat 3: yang memberatkan punggungmu”
Ayat 4: Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”
Ayat 5: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Ayat 6: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Ayat 7: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”
Ayat 8: Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”

Bagaimana kawan, sudah lega perasaanmu sekarang?

Sekarang tinggal kita jalani hidup ini dengan penuh semangat, lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Kita jadikan hidup kita lebih bermanfaat untuk diri sendiri, orang tua dan keluarga kita, agama dan saudara kita.

Akhir kata, janganlah bersedih kawan, karena sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.

 

oleh : Mukhammad Andri Setiawan

Pernahkah kita merenungkan mengapa dakwah para nabi begitu mengena di hati? Mengapa mereka mampu menghadapi penentang-penentang keras dengan tetap menjaga kemuliaan akhlak? Jawabannya terletak pada satu kata kunci: adab. Ya, adab atau akhlak dalam Islam bukanlah sekadar pelengkap, tapi juga menjadi pondasi utama yang menentukan keberhasilan sebuah interaksi, termasuk dalam menyampaikan kebenaran.

 

Mari kita tengok kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bayangkan situasinya: seorang anak yang harus berhadapan dengan ayahnya sendiri karena perbedaan keyakinan yang sangat fundamental. Ayahnya adalah pembuat patung, sedangkan Ibrahim datang dengan ajaran tauhid. Konflik ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa, tetapi pertentangan antara syirik dan tauhid, antara kebatilan dan kebenaran.

 

Namun, bagaimana Ibrahim menyikapi situasi ini? Al-Qur’an mencatat dengan indah dalam Surah Maryam ayat 42-45, bagaimana Ibrahim tetap memanggil ayahnya dengan panggilan “Ya Abati” (Wahai ayahku). Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada nada merendahkan, tidak ada sikap arogan meskipun Ibrahim berada di pihak kebenaran. Sebuah teladan luar biasa tentang bagaimana adab harus tetap terjaga bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

 

Kisah yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam untuk menghadapi Fir’aun. Kita semua tahu siapa Fir’aun – seorang tiran yang mengaku sebagai tuhan, pembunuh ribuan bayi tidak berdosa, penindas Bani Israil selama bertahun-tahun. Dia adalah simbol kezaliman dan kesombongan manusia.

 

Lalu apa perintah Allah kepada Musa dan Harun? Dalam Surah Thaha ayat 44, Allah berfirman: Read more

Dalam kehidupan masyarakat Muslim, tidak jarang kita masih menjumpai keyakinan atau tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu contohnya adalah anggapan negatif terhadap bulan Safar. Sebagian orang masih percaya bahwa bulan Safar adalah bulan sial, penuh malapetaka, dan tidak baik untuk memulai aktivitas penting seperti pernikahan, pembangunan rumah, atau perjalanan jauh.

Padahal, dalam Islam, keyakinan semacam ini termasuk dalam bentuk tathayyur (merasa sial karena sesuatu yang tidak terbukti secara syariat), yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Anggapan tersebut sejatinya merupakan warisan zaman jahiliah yang telah dibatalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata Safar secara bahasa berarti “kosong” atau “bersih”. Disebut demikian karena dahulu, pada bulan ini, orang-orang Arab meninggalkan rumah mereka untuk berperang atau bepergian sehingga rumah-rumah menjadi kosong.

Namun, seiring waktu, muncul berbagai mitos dan keyakinan keliru yang menyelimuti bulan Safar ini. Di antara kepercayaan masyarakat Arab jahiliah, mereka meyakini bahwa bulan Safar membawa nasib buruk sehingga mereka menghindari kegiatan penting selama bulan ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datang meluruskan pandangan ini dalam sabdanya: Read more

oleh: Chanifah Indah Ratnasari

Topik tulisan kali ini sebenarnya simpel, tapi punya efek luar biasa dalam hidup kita. Yaitu tentang bersyukur, atau dalam bahasa kerennya “gratitude.” Pernah nggak sih kita mikir, kenapa ada orang yang kelihatannya selalu bahagia, meskipun hidupnya nggak selalu mulus? Sementara ada juga yang punya segalanya, tapi tetap merasa kurang dan nggak pernah puas?

Nah, jawabannya ada di cara mereka melihat hidup. Orang yang punya kebiasaan bersyukur bisa melihat keindahan dalam segala hal, termasuk dalam hal-hal yang menurut orang lain itu buruk atau menyedihkan. Tulisan ini bakal ngebahas gimana caranya kita bisa jadi orang yang lebih bersyukur, lebih bahagia, dan lebih positif dalam menjalani hidup.

1. Bersyukur Itu Kunci Kebahagiaan

Banyak orang berpikir kalau bahagia itu datang setelah kita mendapatkan sesuatu: setelah sukses, setelah punya uang banyak, setelah punya pasangan yang ideal, dan sebagainya. Padahal, bahagia itu justru datang karena kita bersyukur atas apa yang kita punya sekarang.

Allah sudah kasih janji dalam Al-Qur’an: Read more