Penulis: Feri Wijayanto (dosen Jurusan Informatika UII)
Bulan Ramadan adalah bulan yang dijanjikan Allah Swt. sebagai waktu penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim). Allah Swt. berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda (antara kebenaran dan kebatilan).” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ramadan juga terbagi dalam tiga fase utama yang penuh makna:
- 10 Hari Pertama: Rahmat Allah melimpah.
- 10 Hari Kedua: Ampunan Allah terbentang.
- 10 Hari Terakhir: Pembebasan dari api neraka (HR. Ibn Khuzaimah).
Setiap fase ini mengajak kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan refleksi diri (muhasabah). Namun, bagaimana jika kita menengok konsep deep learning—sebuah teknologi yang belajar dari kesalahan melalui backpropagation—sebagai analogi untuk memaknai muhasabah? Jika mesin mampu memperbaiki diri dari kesalahan, mengapa kita sebagai manusia tidak?
Muhasabah: “Backpropagation” Spiritual Manusia
Dalam deep learning, algoritma belajar dengan menganalisis kesalahan (error) lalu menyesuaikan bobot parameternya melalui proses backpropagation. Semakin sering dilatih, semakin akurat model tersebut. Begitu pula manusia: muhasabah adalah mekanisme “pelatihan” spiritual untuk mengoreksi kesalahan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).
Rasulullah saw. juga mengingatkan:
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi).
Seperti deep learning, muhasabah memerlukan kesadaran akan kesalahan, analisis penyebab, dan komitmen untuk memperbaiki. Namun, manusia memiliki kelebihan: hati (qalb) yang bisa tergerak oleh taubat dan rahmat Allah.

