Semula dikhawatirkan terkena Drop Out (DO), tapi alhamdulillah mahasiswa ini akhirnya lulus dengan IPK 3,00

Performa kuliah masa lalu bisa menjadi bahan prediksi kelulusan, tetapi terkadang hasil akhirnya pun masih misteri.

Sebagai seorang dosen wali (atau dosen PA/Pembimbing Akademik), banyak suka duka yang pernah saya alami. Di suatu masa, saya pernah mendapat amanah sebagai dosen wali. Ada seorang anak wali (sebut saja Alif) yang punya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) cukup, tetapi sayang, performanya menurun di tahun ke-3, bahkan Indeks Prestasi Semester (IPS) nya berkali-kali menembus nasakom (nasib satu koma).

Karena IPK makin jeblok, pemantauan rutin pun berubah menjadi monitoring khusus. Saya panggil Alif secara khusus untuk membicarakan kesulitannya, saya bantu buatkan rencana pengambilan matakuliah dan target-targetnya agar tidak terkena Drop Out (DO), bahkan saya sering cek kehadirannya di sistem presensi mata kuliah. Saya juga aktif memantau kemajuan kuliah si Alif ini kepada dua teman sekosnya yang juga merupakan mahasiswa bimbingan Tugas Akhir saya.

Ikhtiar-ikhtiar ini terus berlangsung selama beberapa purnama, bahkan hingga beberapa semester. Hingga pada suatu titik, saya pun merasa putus asa dan lelah, karena IP 0 (nol) bulat pun pernah diperoleh Alif. Akhirnya, saya pun menelpon keluarganya untuk “mengembalikan” amanah mengurus Alif ini kepada keluarganya. Saya juga sampaikan maaf bahwa saya sudah tidak mampu mengurus Alif lagi di kampus. Saya hanya bisa mendoakan Alif lulus, meski di atas kertas, hal itu sungguh sulit karena banyaknya matakuliah yang harus diulang, terbatasnya jatah jumlah matakuliah yang bisa diulang per semester, dan syarat-syarat lainnya.

….

Waktu terus berjalan… Kedua teman sekos Alif sudah lulus…. Dan saya sudah lama tidak ada kontak dengan Alif. Semakin lama, semakin sedikit teman seangkatan Alif yang tersisa di kampus. Dan dari yang sedikit ini pun, saya sudah sulit mendapat kabar terbaru Alif.

Setelah 6,5 tahun kuliah, tak ada angin, tak ada hujan, eh tiba-tiba si Alif datang ke ruangan saya. Dia memberi kabar bahwa dia sudah mengulang hampir semua matakuliah yang wajib diulang, dan sebagian besar nilai di semester ke-13-nya bagus-bagus. Saya terus terang heran karena mengingat performanya di masa lalu yang banyak nilai jebloknya. Pikir saya, “kok bisa?!”

Saat itu, Alif juga menyampaikan bahwa di semester terakhirnya, yaitu di semester ke-14, dia akan mengambil 24 SKS termasuk Tugas Akhir (TA). Lagi-lagi saya terheran-heran, karena saya tahu dibutuhkan perjuangan yang amat sangat luar biasa untuk menyelesaikan TA + 6 matakuliah + 1 mata praktikum.

“Doakan saya ya, Bu. Saya ingin lulus dengan IPK 3, jadi nilai Tugas Akhir saya minimal harus B”. Itu kalimat terakhirnya saat itu. Saya pun hanya bisa mendoakan meski dalam hati terasa campur aduk; antara rasa khawatir karena kegagalan 1 matakuliah pasti berujung Drop Out (DO) dan rasa optimis karena dia sudah berjuang sejauh itu. Saya pun hanya bisa mendoakan semoga dia lulus sesuai dengan harapannya.

Dan alhamdulillaaah…. Allah kabulkan doa dan harapannya. Dia lulus dengan IPK 3,00 dalam waktu 7 tahun alias 14 semester. Saat terakhir bertemu dengannya pas persiapan wisuda, saya pun masih bertanya, “Kok Anda bisa berubah drastis seperti ini?!” Dia tidak menjawab dengan jelas, tetapi saya yakin, ini adalah buah dari doa-doa dari ibu dan keluarganya selama bertahun-tahun. Allah subhanahu wa ta’ala Maha Kuasa, jadi sangat mampu mengubah kondisi makhluk-Nya, termasuk meluluskan si Alif di saat-saat terakhir.

Doa yang tak pernah putus, optimisme yang selalu menyala dan rangkaian usaha yang tidak mengenal kata lelah adalah hal hikmah yang bisa diambil dari kisah Alif yang nyaris terkena DO.

Ini adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi dan happy ending, alhamdulillah. Tulisan saya ini pun sudah dibaca dan disetujui oleh Alif untuk disebarluaskan; mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa yang saat ini mengalami kegalauan serupa. Alif juga berpesan agar rekan-rekan mahasiswa jangan malu/ragu untuk bertemu dengan dosen wali. InsyaAllah, para dosen wali akan berusaha membantu membuat strategi-strategi mata kuliah agar dapat nilai yang maksimal dan dapat lulus dengan hasil yang maksimal pula.

Ini tambahan dari Alif,
“… sesuai dengan pengalaman pribadi saya, Bu. Kami malu dan takut untuk ketemu dengan dosen wali, karena takut dihakimi sebagai anak tak berbakti atau dianggap bodoh.
Sebenarnya kebanyakan kasus ini karena kurang bimbingan atau pergaulan yang salah… Saya (sendiri) waktu itu karena game sih, Bu. Trus (saya) suka cari-cari alasan ketika ditanya kok absennya bisa begitu.
Dan pas menghadap ibu, saya malah menyesal, kok nggak dari dulu ketemu. Karena Ibu tidak menghakimi saya dan sangat membantu saya untuk menyusun strategi pengambilan mata kuliah semester berikutnya”

Jogja, 24 Januari 2021
Nur Wijayaning R.
Salah satu DPA di Informatika UII