Pesantren Sains Data 1447 H: Ketika Sains Data Bertemu Spiritualitas

Pesantren Sains Data (PSD) 1447 H yang diinisiasi Center of Data Science (CDS) Universitas Islam Indonesia (UII) menghadirkan perpaduan unik antara pembelajaran sains data dan nilai spiritualitas di bulan Ramadan. Acara ini diselenggarakan dalam empat sesi pada 25–26 Februari dan 4–5 Maret 2026, pukul 15.45–17.45 WIB. Setiap sesi terdiri dari materi inti dan kultum yang saling melengkapi.

Pada sesi materi inti di hari pertama, Fietyata Yudha, PhD, dosen Program Studi Informatika UII, membuka dengan tema “Behind Model Accuracy: Investigating the Influence of Metadata in IDS Datasets”, menyoroti bahaya shortcut learning pada model IDS yang bisa salah belajar dari metadata alih-alih mengenali pola serangan sebenarnya. 

Pada hari kedua, Gusti Ahmad Fanshuri Alfarisy, PhD, dosen Prodi Informatika Institut Teknologi Kalimantan, melanjutkan dengan tema “Building Trustworthy Generative AI: Introduction to Retrieval Augmented Generation”. Beliau membahas bagaimana RAG mengatasi “halusinasi” AI generatif melalui basis data vektor dan pengetahuan eksternal. 

Agenda PSD di hari pertama pekan kedua diisi oleh Endang Wahyu Pamungkas, PhD, yang merupakan dosen Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau menyajikan tema “Mining Toxicity and Hate Speech in Indonesian Social Media: Challenges, Methods, and Future Directions”. Dalam sesi ini, beliau mengupas tantangan deteksi ujaran kebencian yang bermutasi ke bentuk meme dan bahasa campuran. 

Sesi terakhir PSD diisi oleh Dr. Hendrik, dosen Program Studi Informatika UII. Beliau membawakan tema “From Web to Structured Data: An LLM-Augmented Approach to Knowledge Extraction”. Secara umum, beliau membahas transformasi data web tidak terstruktur menjadi pengetahuan yang tersusun sistematis.

Selain sesi materi yang berkaitan dengan sains data, agenda PSD 1447 H juga menyajikan sesi ceramah singkat keagamaan yang diisi oleh dosen dari Program Studi Informatika UII. Empat sesi ceramah tersebut memberikan perspektif spiritual yang memperkaya diskusi teknis. Dr. Syarif Hidayat, M.I.T., menekankan pentingnya berbaik sangka kepada Allah sebagai penawar kecemasan akademis. Ahmad Fathan Hidayatullah, Ph.D., menyampaikan tiga pilar kebahagiaan muslim: syukur, sabar, dan istighfar. Chanifah Indah Ratnasari, M.Kom., mengingatkan kewajiban tabayyun di era ledakan informasi agar tidak menjadi penyebar fitnah. Terakhir, Dr. (Cand.) Kholid Haryono, M.Kom., mengajak refleksi tentang posisi manusia sebagai hamba di hadapan keluasan ilmu Allah.

Perpaduan kedua sisi ini membentuk pesan utama: ekosistem digital yang sehat membutuhkan algoritma yang presisi sekaligus operator manusia yang berintegritas. Sebagaimana data harus dibersihkan dari bias agar akurat, setiap individu juga perlu menjaga kejernihan karakter dalam menghadapi tantangan era digital.

Pesantren Sains Data 1447 H menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan ketaatan spiritual. Inovasi sains data tidak cukup berhenti pada angka akurasi, tetapi harus menjadi sumbangsih nyata yang berlandaskan nilai kemanusiaan.