Buah Menghidupkan Sunah Rasulullah
Sebagai umat muslim, tentu kita semua sepakat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan bagi kita. Beliau adalah orang terbaik pilihan Allah yang diutus kepada manusia dan jin untuk membawa petunjuk, menyampaikan wahyu, dan menunjukkan jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Beliau diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk bangsa Arab atau kelompok tertentu saja. Allah ta’ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’: 107).
Beliau adalah pribadi yang paling mulia dalam akhlak, paling sempurna dalam ibadah, dan paling lurus dalam menjalankan syariat. Segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan beliau merupakan bimbingan dari wahyu. Allah ta’ala berfirman,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).(QS. An-Najm: 3–4).
Telah ada dalam sosok Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam suri teladan yang sempurna bagi setiap muslim, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).
Dalam Tafsir Al-Muyassar[1], dijelaskan bahwa suri teladan yang dimaksud mencakup seluruh perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, segala aspek dari kehidupan beliau layak untuk diteladani dan dijadikan pedoman hidup. Oleh karena itu, siapa pun yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir, serta senantiasa berzikir dan beristigfar kepada-Nya, pasti akan bersemangat dalam mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah sesuatu yang bersifat opsional atau sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan pokok bagi seorang mukmin yang ingin mendapatkan rida Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat. Allah tidak hanya menyuruh kita mencintai beliau, tetapi juga meneladaninya dalam segala aspek kehidupan.
Salah satu hikmah besar dari diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan manusia, bukan dari malaikat atau jin, adalah agar umatnya dapat dengan mudah meneladani dan mengaplikasikan ajaran serta kehidupan beliau dalam realitas kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami berbagai kondisi yang juga dialami oleh manusia lainnya: beliau makan, tidur, menikah, bermuamalah, dan menghadapi ujian kehidupan. Ini menunjukkan bahwa ajaran yang beliau bawa bukan hanya ideal secara teori, tetapi juga sangat mungkin untuk diamalkan dalam praktik.
Dalam keseharian, kita akan mendapati bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tuntunan dalam hampir setiap aspek kehidupan. Dalam waktu 24 jam, banyak sunah yang bisa diamalkan, mulai dari adab bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, tata cara bersuci, berpakaian, salat, makan dan minum, berbicara, berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat, hingga tata cara tidur kembali. Semua itu merupakan bagian dari sunah yang tidak hanya mendatangkan pahala apabila kita ikuti, tetapi juga membawa keberkahan dan membentuk akhlak yang mulia.
Dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sosok role model, seorang muslim akan memiliki pedoman yang jelas dalam menjalani kehidupan ini. Selain itu, ia tidak akan tersesat jalan karena telah mengikuti jejak manusia terbaik yang hidupnya dibimbing langsung oleh Allah ta’ala. Semakin kuat seorang muslim berpegang teguh terhadap sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semakin besar pula harapan untuk meraih rahmat Allah, ampunan-Nya, dan kemenangan di akhirat kelak.
Oleh karenanya, sebagai seorang muslim yang mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kita senantiasa berusaha menghidupkan sunah-sunah beliau sebagai bukti nyata cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31).
Syekh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini menjadi tolak ukur kecintaan sejati kepada Allah, yaitu dengan mengikuti Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]
Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah setelah mengerjakan amalan wajib merupakan salah satu di antara ciri wali Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman,
مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ
Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Senantiasa hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya. (HR. Al-Bukhari no. 6502).
Dari ayat Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 31 serta hadits qudsi yang telah disebutkan sebelumnya, kita akan jelaskan tentang beberapa buah atau dampak positif dari mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kehidupan kita.
1. Mencapai derajat mahabbah/cinta kepada Allah (الوُصُولُ إِلَى دَرَجَةِ الْمَحَبَّةِ)
Dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah, seorang hamba akan meraih cinta Allah ta’ala. Cinta ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama karena menunjukkan kedekatan khusus antara hamba dan Rabb-nya. Allah menjadikan ketaatan kepada Rasul sebagai jalan untuk meraih cinta dan rida-Nya. Maka, kecintaan Allah hanya akan diperoleh dengan membenarkan dan mengikuti ajaran Rasulullah berupa Al-Qur’an dan As-Sunah, menaati perintah keduanya, dan menjauhi larangannya. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu.’ (QS. Ali ‘Imran: 31).
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, balasan dari mengikuti Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mendapatkan kecintaan dari Allah. Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ…
Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya…” (HR. Al-Bukhari no. 6502).
2. Dikabulkannya doa sebagai tanda kecintaan Allah (إِجَابَةُ الدُّعَاءِ المُتَضَمِّنَةُ لِنَيْلِ الْمَحَبَّةِ)
Salah satu buah dari mengikuti sunah dan mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah adalah dikabulkannya doa. Ketika seseorang terus-menerus mendekat kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunah, ia akan mencapai kecintaan Allah. Dan jika seorang hamba telah dicintai oleh Allah, permohonannya tidak akan ditolak.
وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ
Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya. (HR. Al-Bukhari no. 6502).
Dari hadis di atas, sangat jelas bahwa kedekatan kepada Allah dengan amalan sunah akan mengantarkan seorang hamba pada cinta-Nya. Dan cinta Allah kepada hamba bukanlah cinta biasa. Cinta ini dibuktikan dengan penjagaan yang sempurna serta jaminan bahwa doanya akan dikabulkan.
3. Mendapatkan ampunan Allah
Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya menunjukkan keimanan yang benar, tetapi juga menjadi sebab datangnya ampunan Allah. Dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 31, Allah menjelaskan bahwa salah satu buah dari ittiba’ (mengikuti) Rasulullah adalah diampuni dosa-dosanya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara kecintaan kepada Allah, ittiba’ kepada Rasulullah, dan ampunan dari Allah. Dengan kata lain, siapa yang sungguh-sungguh mengikuti jalan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, maka ia telah berada di jalan yang akan mengantarkannya pada ampunan Allah.
4. Menutupi kekurangan amalan wajib (جَبْرُ النَّقْصِ الحَاصِلِ فِي الفَرَائِضِ)
Salah satu manfaat besar dari mengerjakan amalan sunah adalah bahwa amalan sunah dapat menutupi kekurangan yang terdapat dalam amalan wajib. Dalam realitasnya, kita sebagai manusia tidak akan mampu melaksanakan kewajiban secara sempurna tanpa adanya kekurangan, kelalaian, atau kelemahan. Maka, di sinilah letak pentingnya amalan sunah sebagai pelengkap dan penyempurna amal fardu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ، فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi. Jika dalam salat wajibnya terdapat kekurangan, Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunah?’ Maka disempurnakanlah kekurangan salat wajib itu dengan amalan sunahnya. Kemudian seluruh amalnya akan diperlakukan seperti itu. (HR. Ahmad no. 9494, Abu Dawud no. 864, dan At-Tirmidzi no. 413)
Hadis ini menunjukkan bahwa amalan sunah memiliki peran penting dalam menyempurnakan kekurangan amal fardu. Jika salat saja—yang merupakan rukun Islam—masih memerlukan penyempurna dari amalan sunah, demikian pula ibadah-ibadah wajib lainnya seperti puasa, zakat, dan haji. Maka, seorang Muslim yang rajin mengamalkan sunah, sejatinya sedang menjaga kesempurnaan amal wajibnya, yang pada akhirnya akan menambah bobot kebaikan di sisi Allah.
5. Hati menjadi hidup (حَيَاةُ القَلْبِ)
Jika terbiasa menjaga amalan sunah, seorang hamba akan lebih mudah untuk menjaga amalan yang lebih utama, yaitu kewajiban-kewajiban dalam agama. Orang yang terbiasa menjalankan sunah akan sulit meremehkan atau meninggalkan kewajiban karena hatinya sudah terlatih dalam ketaatan. Menjaga sunah juga menunjukkan sikap menghormati dan mengagungkan syiar-syiar Allah. Dengan begitu, hati seseorang akan semakin hidup dan kuat dalam ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, orang yang meremehkan sunah dikhawatirkan akan diberi hukuman berupa kelemahan dalam menjalankan kewajiban. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menyebutkan[3],
قال ابنُ عطاءٍ: مَن ألزَمَ نَفسَه آدابَ السُّنَّةِ، نوَّرَ اللهُ قلبَه بنورِ المعرِفَةِ، ولا مقامَ أشرَفَ من مُتابَعَةِ الحَبيبِ في أوامِرِهِ، وأفعَالِهِ، وأخلاقِهِ
Ibnu ‘Atha` mengatakan, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk mengamalkan adab sunah, maka Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya makrifat (pengenalan kepada-Nya). Tidak ada kedudukan yang lebih mulia daripada mengikuti sang kekasih (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dalam menaati perintah-perintahnya, perbuatannya, dan akhlaknya.
6. Terhindar dan terjaga dari perbuatan bidah (البُعْدُ وَالعِصْمَةُ مِنَ الوُقُوعِ فِي البِدْعَةِ)
Seseorang yang senantiasa mengikuti sunah akan terjaga dari jatuh ke dalam perbuatan bidah. Sebab, semakin kuat ia berpegang kepada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia akan berhati-hati dan tidak akan beribadah kecuali berdasarkan dalil yang jelas dari sunah. Dengan cara inilah seseorang akan selamat dari jalan yang menyimpang dan tertolak.
Orang yang sibuk dengan sunah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia tidak akan sempat melakukan perbuatan bidah. Karena dalam sehari semalam, terdapat begitu banyak amalan sunah yang bisa diamalkan—baik dalam ibadah, adab, maupun muamalah. Jumlah dan ragamnya sangat luas, hingga mungkin tidak akan habis untuk dikaji dan dipraktikkan. Kesibukan dalam menghidupkan sunah akan memenuhi waktunya dengan kebaikan dan menghalanginya dari mengikuti hawa nafsu atau membuat-buat amalan baru yang tidak bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apa yang datang dari Rasulullah sudah cukup. Islam telah sempurna, dan tidak membutuhkan tambahan berupa amalan-amalan bidah. Allah Ta‘ala telah berfirman:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينٗا
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS. Al-Mā’idah: 3)
Demikian buah dari faedah mengikuti dan menghidupkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti sunah bukan hanya bentuk ketaatan, tetapi juga jalan menuju kecintaan Allah, penyempurna amal, penghidup hati, pelindung dari bid’ah, dan sumber keberkahan dunia akhirat. Semoga Allah menjadikan kita semua agar termasuk orang-orang yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meneladani jejaknya, dan dikumpulkan bersama golongannya kelak. Amin.
[1] https://tafsirweb.com/7633-surat-al-ahzab-ayat-21.html
[2] https://tafsirweb.com/1163-surat-ali-imran-ayat-31.html
[3] Al-Furaih, Abdullah bin Humud. Al-Minah Al-Aliyah fi Bayan As-Sunan Al-Yawmiyyah. Cetakan ke-16. Maktabah Darul Hijaz, 2019 M / 1440 H.
Penulis: Ahmad Fathan H. (Dosen Jurusan Informatika UII)




