Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

“Absorpsi Fintech di Indonesia itu termasuk cepat sekali. Hampir semuanya langsung bisa diserap, ada kemajuan teknologi fintech dikit dimakan. Misal di China lagi tren QR Payment, kita (Indonesia) bisa langsung makan,” ujar Rio Agustra ketika diwawancari usai menjadi pembicara di suatu acara bincang-bincang soal Fintech di sebuah co-working space di bilangan Demangan.

 

Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini menjadi Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Pria yang akrab dipanggil Mas Rio itu adalah seorang alumni Informatika UII yang lulus tahun 2014 lalu. Saat ini, ia tengah menjabat sebagai seorang Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Rio Agustra yang sejak lulus langsung terjun ke dunia Fintech merasa bahwa perkembangan teknologi di Indonesia, khususnya pada bidang finansial, sangatlah pantas dibanggakan. Sayangnya, perkembangan itu sering terhambat oleh regulasi yang membuat teknologi baru tidak dapat segera digunakan secara masif oleh industri. Menurutnya, regulasi saat ini belum dapat berjalan secepat perkembangan teknologinya. 

SPE Solution sendiri adalah sebuah perusahaan yang melayani pembangunan solusi pembayaran elektronik untuk perusahaan lain yang membutuhkan. Beberapa contoh layanan yang disediakan oleh SPE Solution di antaranya adalah pembuatan sistem QR Merchant, layanan virtual account, dan lainnya.

“Jadi, bisnis kita memang ranahnya adalah B2B (Business-to-business) untuk menyediakan kebutuhan Financial Technology,” ujarnya.

Berbicara tentang kebutuhan tenaga ahli dan sumber daya manusia di dunia industri, Mas Rio yang mengaku sangat pro dengan dunia akademik dan senang berbagi pengetahuan di berbagai kesempatan ini merasa masih ada celah yang lumayan lebar antara kebutuhan ahli di industri dengan suplai yang mampu disediakan oleh perguruan tinggi.

Sebagai contoh, ia menceritakan bahwa banyak fresh graduate yang ketika terjun ke dunia kerja masih harus mempelajari kemampuan yang dibutuhkan dalam job description-nya dari level yang sangat dasar sekali. Jadi, tantangan mahasiswa saat ini yang tengah mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di dunia kerja adalah bagaimana bisa memiliki pengetahuan yang luas tapi juga dalam, agar kemampuannya bisa langsung digunakan.

Ia sangat menyayangkan jika seorang mahasiswa hanya memanfaatkan waktu kuliahnya untuk belajar hal-hal yang umum saja. Padahal, jika seorang mahasiswa juga memakai waktunya untuk mempelajari suatu hal yang spesifik, misal Front-End Development atau Back-End Development secara mendalam, itu dapat membantu dirinya sendiri untuk lebih siap dengan tantangan kompetisi di dunia kerja. Selain itu, jika seorang mahasiswa sudah fokus pada suatu bidang sejak awal, maka akan sangat mungkin sekali ada perkembangan teknologi baru pada bidang-bidang tersebut secara lebih cepat.

Mas Rio sendiri berharap dunia akademik dapat memberikan suplai kebaruan teknologi untuk diimplementasikan secara massal oleh industri. Namun, ia merasa saat ini sistem akademik kita belum sepenuhnya dapat melakukan itu. Riset dan pengembangan yang memunculkan kebaruan teknologi saat ini justru banyak dilakukan oleh industri karena ada kebutuhan, serta ada data dari real market yang bisa dimanfaatkan.

Maka menurutnya, jika kurikulum tidak dapat berjalan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, unit kegiatan mahasiswa dapat diberdayakan untuk membekali mahasiswa dengan suatu keahlian yang spesifik.

Meski demikian, Mas Rio merasa bahwa pengalaman yang ia dapatkan selama kuliah sangatlah berharga untuk dimanfaatkan di dunia kerja. Ia menyebut bahwa sampai saat ini ia masih menerapkan pengetahuan seputar perancangan perangkat lunak, pembuatan usecase diagram, database design, dan teknologi xml yang semuanya ia pelajari saat masih ada di bangku kuliah dulu.

Pesan Mas Rio yang sudah berada di dunia Industri untuk rekan-rekan mahasiswa sendiri adalah agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal. Ia menyarankan agar seorang mahasiswa juga mempelajari suatu keahlian yang tidak diajarkan di bangku kuliah secara mandiri. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa agar meluangkan waktu untuk berorganisasi karena itu sangat bermanfaat sekali untuk melatih kemampuan kita bekerja sama dengan orang lain.