Wildan Maulana, alumni Informatika UII angkatan 2013, yang kini menjadi CEO Delokal, sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata.

Wildan Maulana, alumni Informatika UII angkatan 2013, yang kini menjadi CEO Delokal.

Sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara kita. Tak heran, banyak perusahaan berlomba-lomba mengembangkan pariwisata, salah satunya dengan melakukan pendekatan teknologi . Seperti halnya Wildan Maulana, alumni Informatika UII angkatan 2013, yang kini menjadi CEO Delokal, sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata.

Delokal  adalah sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata yang saat ini telah mendapatkan pendanaan dari Angel Investor untuk mengembangkan Delokal Smart Village (DSV), salah satu produk Delokal berupa platform manajemen kawasan ekowisata yang saat ini telah bermitra dengan beberapa kementrian di Indonesia. Selama pandemi Covid-19, Delokal sendiri masih tetap berjalan dengan mengerjakan versi 2 dari DSV dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali memasarkan produk lainnya di website delokal.com.

Namun sebenarnya, selain sibuk di Delokal, Mas Wildan juga tengah menekuni dan mengembangkan Gidicode, sebuah software house yang jaringan mitranya telah sampai di kancah internasional.

Selama berkuliah di Informatika UII, Mas Wildan memang memiliki cita-cita untuk menjadi seseorang yang berpengaruh di bidang teknologi informasi, dan mampu menjadi technopreneur yang dapat menciptakan karya teknologi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Saat ditanya apakah selama kuliah di Informatika itu menikmati atau tidak, ia mengaku bahwa dirinya merasa sangat enjoy meskipun di awal masa kuliah masih belum paham dengan pelajarannya. “Walaupun saya memulai masuk dunia pemrograman dari 0, saya bisa mengikuti bahkan saat ini saya bersama tim bisa menciptakan sebuah entitas bisnis yang bergerak di bidang teknologi”, pungkasnya. Menurutnya, hal yang paling membuat kuliah di Informatika menjadi pengalaman yang seru adalah karena dunia teknologi itu cepat sekali berubah, sehingga akan selalu ada tantangan baru setiap hari yang memaksa untuk terus belajar tanpa henti.

Selama masih menjadi mahasiswa, ternyata Mas Wildan juga memiliki banyak sekali pengalaman di bidang akademik, kompetisi, dan keorganisasian. Misalnya, paling tidak dirinya telah terbang ke Madrid, Madinah, dan Turki untuk mengikuti berbagai macam konferensi. Sementara itu, dalam dunia organisasi, dulu ia aktif di UII Ayo Mengajar yang saat ini menjadi salah satu lembaga dakwah DPPAI yang paling berkembang dan telah masuk generasi ketiga.

Nah, kemudian di bidang bisnis, ternyata Mas Wildan sudah memulai petualangannya di tahun keempat, yaitu saat ia dan tim mendirikan Gidicode dan merintis Gidsnesia yang sekarang menjadi Delokal. Saat itu, Gidsnesia mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia pada kompetisi Startup Istanbul 2018. Gidsnesia lolos sebagai salah satu dari 100 startup terbaik dari puluhan ribu pendaftar dari berbagai penjuru dunia saat itu.

Mustafa Widiarto Heryatno, peraih IPK tertinggi dalam kelulusan Program Studi Informatika Periode V Tahun Akademik 2019/2020.

Mustafa Widiarto Heryatno, peraih IPK tertinggi dalam kelulusan Program Studi Informatika Periode V Tahun Akademik 2019/2020.

Mustafa Widiarto Heryatno, atau akrab disapa Mustafa, merupakan peraih IPK tertinggi dalam kelulusan Program Studi Informatika Periode V Tahun Akademik 2019/2020.

“Selama itu baik, jangan kebanyakan mikir! Jika merasa ada yang salah, segera tinggalkan.” Itu prinsip pria yang lahir di Pati dan besar di Jayapura ini ketika ditanya soal kiat sukses menjadi peraih IPK tertinggi.

Mustafa memegang teguh prinsipnya selama mengenyam pendidikan tinggi. Kadangkala, terlalu banyak berpikir hanya membuat kita tidak bertindak apa-apa. Selain itu, menurutnya, jika merasa ada yang salah pada sesuatu yang kita kerjakan atau kita tidak bisa membayangkan akhirnya, lebih baik segera berhenti daripada membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Saat berbagi tips sukses meraih IPK tertinggi di Program Studi Informatika Program Sarjana UII, Mustafa menjawab dengan mantap. Bagi Mustafa, pembagian waktu sangatlah penting. Tidak membawa tugas ke waktu istirahat dan tidak istirahat di waktu mengerjakan tugas akan membuat proses belajar lebih efektif dan efisien.

Mustafa juga merupakan tipe orang yang berani melakukan hal-hal yang tidak beliau sukai asalkan hal tersebut dapat bermanfaat ke depannya. Misalnya, tidak suka menjadi MC, berarti harus menjadi MC! Tidak suka jadi koordinator, berarti harus jadi koordinator! Menurut Mustafa, semakin kita “dipaksa” untuk melakukannya, semakin kita berkembang.

Selama kurang lebih 4,5 tahun di UII, Mustafa aktif di beberapa kegiatan kepanitiaan, Laboratorium Informatika, dan Centris FTI. Saat ini, Mustafa bekerja di Badan Sistem Informasi UII sejak Oktober 2019 lalu.

Berkuliah di UII ternyata menyimpan kesan tersendiri bagi Mustafa. UII mengubah pribadi yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik. Ia berharap, UII, khususnya Jurusan Informatika, menjadi lembaga pendidikan yang terus menghasilkan lulusan cerdas dan berakhlak mulia.

“Semoga setelah lulus dari UII, semua mahasiswa memiliki daya saing dan tetap memegang nilai-nilai keislaman,” tambahnya.  Selain itu, Mustafa juga berharap, semoga dakwah islamiah di UII semakin berjaya.

Selamat kepada Mustafa Widiarto Heryatno! Semoga ilmu dan gelar yang diraih dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Sari Kurnia Ningrum, Lulusan Terbaik Informatika

Sari Kurnia Ningrum, Lulusan Terbaik Informatika

Sari Kurnia Ningrum, mahasiswa Program Studi Informatika Program Sarjana yang berhasil lulus dengan IPK 3,83 dengan masa studi 3,5 tahun.

Pusing, tapi nagih. Itulah kesan perempuan yang akrab disapa Sari ini selama kuliah di Informatika UII. Ketika pertama kali masuk Informatika, Sari mengaku benar-benar tidak tahu cara membuka command prompt. Namun, karena kegigihan untuk belajar selama 3,5 tahun ini, Sari mampu lulus dengan nilai yang memuaskan .

Selama mengenyam studi di Informatika UII, Sari cukup aktif di beberapa kegiatan akademik, antara lain menjadi Asisten Laboratorium PSD, FPA, dan PABW; Asisten Dosen RPL dan Matematika Lanjut; serta Pengurus Inti PSC. Selain itu, ia juga aktif di kegiatan non-akademik. Ia beberapa kali mengikuti kepanitiaan jurusan hingga universitas, menjadi volunteer di Facebook Developer Circle Yogyakarta, volunteer di Amikom Business Park, sampai menjadi bagian dari tim internal di SULUR DREAM WORK.

Saat ini, perempuan kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini aktif menjadi Junior Software Developer di Paperlust. Selain itu, beliau juga masih aktif menjadi volunteer di Facebook Developer Circle Yogyakarta dan tim internal di SULUR DREAM WORK.

Sari sendiri mengaku memang memiliki kiat sukses selama kuliah. Menurutnya,  kalanya kita tidak perlu mendengarkan omongan orang apalagi saat ingin memulai sesuatu. Namun, bukan berarti menutup telinga dari kritik dan saran, ya. Sari juga menambahkan, setiap orang punya definisi dan jalan sukses mereka masing-masing. Jadi, kita tidak perlu menjadikan kesuksesan orang lain menjadi tolok ukur kesuksesan kita.

Selamat kepada Sari Kurnia Ningrum. Semoga ilmu yang didapat selama kuliah dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. See you on top!

“Absorpsi Fintech di Indonesia itu termasuk cepat sekali. Hampir semuanya langsung bisa diserap, ada kemajuan teknologi fintech dikit dimakan. Misal di China lagi tren QR Payment, kita (Indonesia) bisa langsung makan,” ujar Rio Agustra ketika diwawancari usai menjadi pembicara di suatu acara bincang-bincang soal Fintech di sebuah co-working space di bilangan Demangan.

 

Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini menjadi Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Pria yang akrab dipanggil Mas Rio itu adalah seorang alumni Informatika UII yang lulus tahun 2014 lalu. Saat ini, ia tengah menjabat sebagai seorang Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Rio Agustra yang sejak lulus langsung terjun ke dunia Fintech merasa bahwa perkembangan teknologi di Indonesia, khususnya pada bidang finansial, sangatlah pantas dibanggakan. Sayangnya, perkembangan itu sering terhambat oleh regulasi yang membuat teknologi baru tidak dapat segera digunakan secara masif oleh industri. Menurutnya, regulasi saat ini belum dapat berjalan secepat perkembangan teknologinya. 

SPE Solution sendiri adalah sebuah perusahaan yang melayani pembangunan solusi pembayaran elektronik untuk perusahaan lain yang membutuhkan. Beberapa contoh layanan yang disediakan oleh SPE Solution di antaranya adalah pembuatan sistem QR Merchant, layanan virtual account, dan lainnya.

“Jadi, bisnis kita memang ranahnya adalah B2B (Business-to-business) untuk menyediakan kebutuhan Financial Technology,” ujarnya.

Berbicara tentang kebutuhan tenaga ahli dan sumber daya manusia di dunia industri, Mas Rio yang mengaku sangat pro dengan dunia akademik dan senang berbagi pengetahuan di berbagai kesempatan ini merasa masih ada celah yang lumayan lebar antara kebutuhan ahli di industri dengan suplai yang mampu disediakan oleh perguruan tinggi.

Sebagai contoh, ia menceritakan bahwa banyak fresh graduate yang ketika terjun ke dunia kerja masih harus mempelajari kemampuan yang dibutuhkan dalam job description-nya dari level yang sangat dasar sekali. Jadi, tantangan mahasiswa saat ini yang tengah mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di dunia kerja adalah bagaimana bisa memiliki pengetahuan yang luas tapi juga dalam, agar kemampuannya bisa langsung digunakan.

Ia sangat menyayangkan jika seorang mahasiswa hanya memanfaatkan waktu kuliahnya untuk belajar hal-hal yang umum saja. Padahal, jika seorang mahasiswa juga memakai waktunya untuk mempelajari suatu hal yang spesifik, misal Front-End Development atau Back-End Development secara mendalam, itu dapat membantu dirinya sendiri untuk lebih siap dengan tantangan kompetisi di dunia kerja. Selain itu, jika seorang mahasiswa sudah fokus pada suatu bidang sejak awal, maka akan sangat mungkin sekali ada perkembangan teknologi baru pada bidang-bidang tersebut secara lebih cepat.

Mas Rio sendiri berharap dunia akademik dapat memberikan suplai kebaruan teknologi untuk diimplementasikan secara massal oleh industri. Namun, ia merasa saat ini sistem akademik kita belum sepenuhnya dapat melakukan itu. Riset dan pengembangan yang memunculkan kebaruan teknologi saat ini justru banyak dilakukan oleh industri karena ada kebutuhan, serta ada data dari real market yang bisa dimanfaatkan.

Maka menurutnya, jika kurikulum tidak dapat berjalan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, unit kegiatan mahasiswa dapat diberdayakan untuk membekali mahasiswa dengan suatu keahlian yang spesifik.

Meski demikian, Mas Rio merasa bahwa pengalaman yang ia dapatkan selama kuliah sangatlah berharga untuk dimanfaatkan di dunia kerja. Ia menyebut bahwa sampai saat ini ia masih menerapkan pengetahuan seputar perancangan perangkat lunak, pembuatan usecase diagram, database design, dan teknologi xml yang semuanya ia pelajari saat masih ada di bangku kuliah dulu.

Pesan Mas Rio yang sudah berada di dunia Industri untuk rekan-rekan mahasiswa sendiri adalah agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal. Ia menyarankan agar seorang mahasiswa juga mempelajari suatu keahlian yang tidak diajarkan di bangku kuliah secara mandiri. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa agar meluangkan waktu untuk berorganisasi karena itu sangat bermanfaat sekali untuk melatih kemampuan kita bekerja sama dengan orang lain.

Annisa Kurniasari

Annisa Kurniasari, Wisudawati Terbaik Informatika sekaligus se-FTI pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2019/2020 yang berhasil meraih IPK 3,93 dengan masa studi 3,5 tahun.

Beliau adalah Annisa Kurniasari, Wisudawati Terbaik Informatika sekaligus se-FTI pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2019/2020, Sabtu (29/2) lalu. Annisa berhasil meraih IPK 3,93 dengan masa studi 3,5 tahun.

Perjuangan Annisa untuk meraih prestasi yang gemilang ternyata tidak mudah. Ia sempat merasa minder dengan teman-teman seangkatan yang memang memiliki passion di Informatika. Namun, karena perjuangan, teman-teman yang saling membantu, dan didukung dosen yang memadai, Annisa akhirnya mampu survive dan menjadi yang terbaik di Informatika.

Selama mengenyam pendidikan di Program Studi Informatika Program Sarjana UII, Annisa Kurniasari aktif di beberapa kegiatan. Beliau aktif di kegiatan Marcomm FTI dan sempat bergabung dengan Tim DPKA untuk menjadi desainer grafis. Selain itu, Annisa merupakan Asisten Mandiri dosen untuk mata kuliah Grafika dan Multimedia, Fundamen Informatika, Business Intelligence, dan Bahasa Inggris untuk Informatika.

Meskipun mendapatkan gelar Wisudawati Terbaik, bagi Annisa, tidak ada kiat khusus dalam belajar. Hanya saja, ia memang bukan tipe yang gemar menunda pekerjaan dan  memaksakan diri ketika sudah lelah. Menurutnya, lebih baik beristirahat ketika sudah lelah.

“Jangan pernah berhenti berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam berbagai hal,” ungkap Annisa. Annisa percaya, terlepas dari latar belakang profesi yang digeluti, setiap orang harus selalu berusaha untuk bisa memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya dan memberikan manfaat bagi sesama. Tentunya, manfaat ini harus diberikan dengan kerja keras dan tanggung jawab sesuai dengan keilmuan dan profesi masing-masing.

“Jangan lupa juga untuk saling membantu satu sama lain. Setelah itu, serahkan semuanya kepada Allah dengan banyak berdoa,” tambah Annisa. Sebagai manusia, kita memang harus selalu berusaha dan percaya bahwa Allah tahu yang terbaik bagi kita.

Semoga dengan gelar Wisudawati Terbaik ini dapat memudahkan Annisa Kurniasari menuju level hidup selanjutnya serta ilmu yang didapat selama berkuliah di Program Studi Informatika Program Sarjana UII dapat memberikan manfaat bagi diri dan lingkungan sekitar.

Bayu Aprilananda Sujatmoko atau biasa disapa Mas Bayu merupakan Wisudawan Terbaik Gelombang I Tahun Akademik 2019/2020

Bayu Aprilananda Sujatmoko atau biasa disapa Mas Bayu merupakan Wisudawan Terbaik Gelombang I Tahun Akademik 2019/2020.

Bayu Aprilananda Sujatmoko atau biasa disapa Mas Bayu merupakan Wisudawan Terbaik Gelombang I Tahun Akademik 2019/2020 dengan IPK menyentuh angka 3.92.

Selama berkuliah di Informatika UII, Mas Bayu sempat merasa minder karena merasa salah jurusan. Bahasa pemrograman terasa sulit karena ia belum pernah belajar sama sekali sebelumnya. Namun, memasuki semester 4, kegalauannya di Informatika akhirnya mulai hilang. Ternyata, setelah mendalami ilmunya, Informatika cukup mengasyikkan. Akhirnya, Mas Bayu bisa lebih fokus untuk kuliah sambil mengikuti kegiatan di kampus seperti mengikuti UKM Invose, organisasi keislaman di CENTRIS, dan kepanitiaan. Memang, ketika belajar itu butuh proses dan yang terpenting adalah nikmati prosesnya. 

Selain sibuk di kegiatan kampus, Mas Bayu juga pernah menjadi asisten dosen Fundamen Matematika, Sistem Informasi, Ethical Hacking, dan Sistem Informasi Geografis. Konsentrasi Jaringan dan Keamanan Komputer dan tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Dashboard dan Backend System untuk Pengamanan Ruang Menggunakan RFID di BSI UII” telah mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik.

Terakhir, pesan dari Mas Bayu untuk keluarga Informatika, “Saling menjaga tali silaturahmi, perbanyak rasa ingin tahu tentang ilmu yang sedang dipelajari dan jangan cepat puas apabila telah berhasil meraih suatu tujuan, tetaplah rendah hati, dan tawadhu. Tetap semangat mengejar cita-cita dan yang terpenting adalah jangan gampang menyerah dan terus berdoa.”

Barakallah untuk Mas Bayu Aprilananda Sujatmoko, semoga ilmu yang didapat dapat memberikan keberkahan dan bermanfaat.

Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia saat ini telah berumur 25 tahun. Untuk merayakan hari jadinya yang ke-25, salah satu rangkaian acara dalam Lustrum V Informatika UII adalah Reuni Akbar yang diadakan pada Sabtu 2 November 2019 lalu. Melalui Reuni Akbar ini, para alumnus berkumpul untuk saling bernostalgia dan berbagi cerita yang bertempat di Hall FTI UII.

Assabiqunal Awwalun Reuni Akbar Lustrum V Informatika FTI UII

Tidak hanya para alumnus yang hadir, ada juga para dosen yang merupakan “Assabiqunal Awwalun” atau perintis berdirinya Informatika UII, di antaranya ada: Bapak Yudi Prayudi, Bapak Zainudin Zukhri, Ibu Ami Fauziiah, dan Ibu Sri Kusumadewi serta tak lupa juga, Bapak Fathul Wahid, selaku Rektor Universitas Islam Indonesia yang sekaligus menjadi salah satu dosen di Informatika UII. Para dosen lainnya pun hadir juga turut meramaikan acara ini. Bahkan, Bapak Fathul Wahid juga membacakan pantun yang dibuat oleh beliau sendiri.

Semoga adanya Reuni Akbar ini bisa mengembalikan memori semasa kuliah. Sampai bertemu di reuni selanjutnya!

Reuni Akbar Lustrum V Informatika FTI UII


Pantun Reuni Akbar – Lustrum V Informatika UII 2019

Oleh Fathul Wahid

Kini, masa keempat revolusi industri
Jika kita tidak siap, bisa bikin ngilu
Selamat datang kembali di UII
Tempat menimba ilmu kala itu

Teknologi baru telah berkembang pesat
Dari kecerdasan buatan sampai Internet segala rupa
Beragam cerita dirangkai dengan hangat
Banyak kawan dan sahabat terasa istimewa

Algoritme dan pemrograman matakuliah favorit
Buktinya, banyak yang ambil berkali-kali
Mari lupakan cerita nestapa dan pahit
Hikayat bahagia, hidupkan kembali

Ujian negara pengalaman tak terlupa
Alhamdulillah dapat dilalui dengan penuh cinta
Aneka ragam ilmu telah dicerna
Mulai dari algoritme sampai kapita selekta

Kalau itu Yogyakarta masih sepi
Belum banyak pilihan kuliner seperti saat ini
Kalau itu, semua dosen siap mendampingi
Pak Yudi, Bu Cicie, Pak Zain, dan Bu Ami

Meski tidak Lebaran makannya sayur opor
Di rumah habis minta ke tetangga
Ketua jurusan pun masih diimpor
Termasuk Pak Adi Joko dan Pak Erlangga

Mancing gurame dapatnya bawal
Digoreng kering bersama ikan kembung
Untuk para alumni angkatan awal
Terima kasih telah berani bergabung

Ke pasar Kranggan beli buah jambu
Dari Kaliurang lewat jalam AM Sangaji
Dua lima tahun telah berlalu
Banyak capaian yang telah dikoleksi

Makan di angkringan pesan kopi
Nasi kucing lengkap dengan sambal teri
Mari kita berdoa untuk informatika UII
Semoga Allah selalu melindungi

Naik sepeda dari Yogya sampai Klaten
Perut lapar sarapan di Prambanan
Untuk semua alumni yang hadir maupun absen
Sukses selalu untuk masa depan

Di tengah taman
Ada bunga selasih
Cukup sekian
Terima kasih

Berita membanggakan datang dari alumni angkatan 2014 Magister Teknik Informatika, yaitu Cahyo Dwi Raharjo yang berhasil meraih juara ketiga di Kompetisi Hackathon BPJS 2019.

Kompetisi yang dimulai sejak Juli lalu disaring menuju final hanya 10 kontestan, baik individual maupun tim. Final dilaksanakan di Pusdiklat BPJS di Cisarua, Bogor dari tanggal 20 hingga 23 Agustus 2019 meliputi coding session dari tanggal 21-22 Agustus 2019. Penjurian melalui presentasi antar finalis serta pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2019.

Kompetisi yang baru pertama kali diadakan ini bertemakan “Meningkatkan Pengendalian Biaya Pelayanan dan Sustainabilitas Finansial melalui Teknologi Informasi dalam Pengelolaan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)”. Jadi, inti dari kompetisi yang diadakan oleh BPJS ini menantang masyarakat untuk memberikan ide terbaiknya untuk menyelesaikan masalah di BPJS dengan menyesuaikan tema yang dicanangkan.

Kali ini kita akan bahas salah satu alumni dari S1 Informatika. Mbak Intan Oktafiani yang akrab disapa Mbak Intan ini alumni Angkatan 2012. Sekarang beliau sudah bekerja sebagai staf pengajar di ITENAS Bandung. Alumnus yang berasal dari Jambi ini dulu saat lulus mendapatkan IPK 3.80 pada tahun 2016.

Motivasi awal saat masuk Informatika ini, sejak SD rupanya Mbak Intan suka mengotak-atik komputer. Walaupun kenyataannya malah mempelajari programming (bukan memperbaiki komputer dan sebagainya), Mbak Intan juga menikmati kuliahnya karena Mbak Intan juga belajar matematika, algoritma, dan sebagainya.

Pengalaman Kuliah Tak Terlupakan

Mbak Intan katanya selalu deg-degan di kelas Bu Izzati karena beliau suka menunjuk mahasiswanya secara random untuk mengerjakan soal di papan tulis. Mbak Intan juga yang sering menjadi targetnya 😁 Tapi, dibalik semua itu pasti ada hikmah yang didapat dari tiap-tiap dosen walaupun cara mengajarnya berbeda. Salah satunya biar mudah fokus 😉

Intan Oktafiani

Aktif Berorganisasi

Kesibukan Mbak Intan Oktafiani saat kuliah juga lumayan banyak. Mbak Intan dulu pernah ikut Kosmik di Divisi Vokal. Jadi Sekretaris HMTF, Sekretaris Makrab (dulu namanya BIOS yang berubah jadi SIGN IN lalu akhirnya sampai sekarang namanya INPUT). Selain itu, Mbak Intan juga jadi asisten dosen Ibu Novi Setiani dan Pak Andhik Budi dan asisten pelatihannya Ibu Izzati.

Ternyata, Mbak Intan juga punya usaha sambilan. Berawal dari mata kuliah Kewirausahaan Ibu Rininta yang Alhamdulillah dipilih menjadi Tenant Batch Pertama di IBISMA UII. Nama usahanya @ademhawa. Tapi, sampai sekarang masih vakum semenjak Mbak Intan skripsi.

Pesan untuk Keluarga Informatika

“Jangan mau jadi yang biasa-biasa saja. Tunjukkan kelebihanmu, dunia di luar sana semakin kompetitif. Kalau mau jadi praktisi di bidang IT, mulai dari sekarang ikuti pelatihan-pelatihan sesuai passion-mu. Ikutlah dalam proyek-proyek kecil untuk menambah pengalamanmu. Kalau mau jadi akademisi, selesaikan kewajiban kuliahmu sebaik mungkin. Cari info kuliah selanjutnya dari jauh-jauh hari. Ikut dalam proyek-proyek kecil juga membantu untuk kelancaran sekolahmu nanti. Semangat! Semua ada jalannya! Bismillah.”

Motto Mbak Intan: “Man Jadda Wajada. Do your best and ikhtiar”

Yuk, tetap semangat kembangkan passion! Sukses selalu Mbak Intan dan alumnus yang lain!

Nurul Fatikah Muchlis menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi di Fakultas Teknologi Industri UII pada Wisuda Periode I Tahun Akademik 2018/2019

Nurul Fatikah Muchlis menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi di Fakultas Teknologi Industri UII pada Wisuda Periode I Tahun Akademik 2018/2019

Nurul Fatikah Muchlis menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi di Fakultas Teknologi Industri UII pada Wisuda Periode I Tahun Akademik 2018/2019. IPK Nurul mencapai 3,97.

Pada masa awal kuliah, Nurul sempat merasa pesimis karena dia bukan berasal dari Pulau Jawa yang taraf pendidikannya mungkin jauh lebih baik. “Lama kelamaan saya mulai berpikir, kuliah bukan masalah tempat tapi kembali ke diri masing-masing: mau berusaha seberapa keras kita untuk menjadi the best version of yourself.

Berkuliah di UII ternyata meninggalkan kesan bagi Nurul Fatikah Muchlis. Menurutnya, setiap dosen di Teknik Informatika UII punya cara sendiri-sendiri untuk membuat kuliah jadi lebih menarik dan sayang untuk dilewatkan. Apalagi dosen pembimbing TA yang selalu menyemangatinya di saat down dan tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Nurul juga beryukur punya teman-teman yang selalu bisa menjadi motivasi untuk terus belajar, namun juga tidak lupa untuk hangout bersama. “Selain dosen dan teman-teman, saya bersyukur bisa mengikuti berbagai lomba dan jalan-jalan ke berbagai kota karena berkuliah di sini,” begitu tambahnya.

Nurul juga memiliki kiat belajar suksesnya sendiri. Bagi Nurul, jika kita senantiasa melibatkan Allah dan doa orang tua dalam segala hal akan membuat banyak hal tidak terduga bisa terjadi. Selain itu, menurutnya, belajar dan mengerjakan tugas harus disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi. Kalau susah, mau tidak mau harus belajar dari jauh hari dan harus siap begadang. “Jangan pernah malu untuk bertanya dengan teman dan jangan ragu untuk menolong teman dalam hal sekecil apapun. Karena kita nggak tahu kapan kita butuh bantuan mereka juga atau bisa aja urusan kita dipermudah karena pertolongan kita itu,” ujarnya.

Nurul juga berpesan untuk tidak pernah berhenti berusaha dalam hal apapun. Kalau capek boleh istirahat, tapi jangan pernah berhenti. “Selalu ingat seberapa besar harapan orangtua. Sesulit apapun itu, pasti akan terlewati. Trust yourself and you’ll be unstoppable. Trust Allah in all your affairs and you’ll never be disappointed.”