“Requirement itu seperti memahami teman. Kalian harus tahu dulu, orang ini suka apa, suka sambal atau enggak.”
Dengan perumpamaan sehari-hari tersebut, Firmansyah, S.T., M.B.A., membuka paparannya di hadapan mahasiswa Program Studi Informatika Program Sarjana Universitas Islam Indonesia (UII). Firmansyah merupakan Senior Solution Architect sekaligus pendiri GeekGarden (PT Komuri Indonesia GeekGarden). Ia adalah alumnus Teknik Informatika UII angkatan 2003 dan pernah menjadi dosen di program studi yang sama pada 2009–2012.
Berbagi Pengalaman Requirement Gathering di Dunia Nyata
Firmansyah menjadi narasumber dalam Alumni Knowledge Sharing bertajuk “Requirement Gathering di Dunia Nyata: Praktik Terbaik Menggali Kebutuhan Pengguna dari Perspektif Software House”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Laboratorium SIRKEL Informatika UII ini berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 13.00–15.00 WIB di Lab Kolaborasi Informatika UII.
Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa yang baru mengambil Tugas Akhir (TA) bidang Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) dan Sistem Informasi (SI). Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa sebelum menggali kebutuhan mitra untuk proyek TA masing-masing.
Memahami Kebutuhan dari Perspektif Customer
Sesi berlangsung interaktif. Firmansyah mengajukan sejumlah pertanyaan kepada peserta, termasuk alasan TikTok begitu diminati oleh generasi muda. Menurutnya, platform tersebut berhasil menangkap kebutuhan psikologis pengguna, yaitu kebutuhan untuk eksis dan tampil percaya diri.
Ia juga mencontohkan persaingan aplikasi ojek daring. Pemain yang datang belakangan akan menghadapi tantangan untuk bersaing karena pengguna telah terbiasa menggunakan aplikasi yang lebih dahulu hadir.
“Pengembang harus berpikir bukan berdasarkan pikiran dia, tapi berdasarkan pikiran customer. Jadi, kurangi idealisme,” tegasnya.
Lima Metode Elisitasi Kebutuhan
Firmansyah menjelaskan lima metode elisitasi yang lazim digunakan di industri, yaitu:
- Wawancara;
- Observasi;
- Kuesioner;
- Workshop; dan
- Prototipe.
Ia juga mengingatkan pentingnya mendokumentasikan dan “mengunci” requirement. Langkah ini diperlukan untuk mengendalikan permintaan perubahan yang terus bertambah di tengah pengerjaan proyek. Bagi mahasiswa TA, hal tersebut dapat diterapkan dengan menetapkan batasan masalah sejak awal.
Fondasi Pengembangan Perangkat Lunak
Di akhir sesi, Firmansyah menyinggung perubahan cara pengembangan perangkat lunak, mulai dari design-driven development, test-driven development, hingga pengembangan yang kini dibantu oleh kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, kemampuan memahami kebutuhan manusia tetap menjadi fondasi utama.
Ia berharap mahasiswa Informatika UII tidak hanya berpikir untuk membuat sesuatu yang belum ada, tetapi juga memperbaiki solusi yang sudah ada agar tetap kompetitif.
“Kebutuhan yang digali dengan baik adalah separuh dari keberhasilan proyek perangkat lunak,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa TA RPL dan SI diharapkan dapat menerapkan praktik requirement gathering yang baik saat bekerja bersama mitra nyata.
Dokumentasi Kegiatan
![]() |
![]() |






