Assalamualaikum, Sobat Informatika!
Kenalin, nih, wisudawan IPK tertinggi Informatika UII periode III TA 2020/2021, Wahluf Abidin. Mas Wahluf ini berhasil lulus dengan IPK 3,88 setelah menempuh masa studi selama 3,5 tahun. Keren, dong!

Mahasiswa Informatika UII angkatan 2017 ini terbilang cukup aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus. Wahluf sudah pernah merasakan menjadi Asisten Laboratorium, Asisten Dosen, Mualim di lingkungan FTI UII, hingga menjadi Career Body di DPKA UII. Selain itu, beliau juga tercatat sebagai salah satu kader LDF CENTRIS FTI UII. Pengalaman-pengalaman itu tentu sangat berkesan baginya karena bisa menambah ilmu dan menerapkannya, hingga bisa melihat tingkah-tingkah unik nan konyol dari adik-adik tingkatnya. 😁

Salah satu bekal terbaik yang diberikan oleh Informatika UII kepada Wahluf  adalah pengambilan konsentrasi studi sesuai peminatan. Menurutnya, hal itu membuat mahasiswa bisa memahami kemampuan masing-masing untuk menentukan fokus ilmu selanjutnya. 

“Kegiatan yang akan dilakukan pun sesuai dengan pilihan kita jadi bukan paksaan karena harus menyelesaikan mata kuliah yang secara default diberikan. Mengikuti komunitas juga akan membuat kita lebih cepat dalam menyelesaikan masalah yang diterima karena di sana merupakan tempat untuk berbagi.”  ujar Wahluf.

Mahasiswa yang mengambil fokus penelitian dengan Klaster Sistem Siber ini memilih mata kuliah Pemrograman dan Struktur Data sebagai favoritnya, karena memberikan pengetahuan dasar yang sangat penting sebagai anak Informatika. Walaupun sih, kata Mas Wahluf nilainya biasa-biasa aja. 😁

Dalam skripsinya, Wahluf mengangkat judul “Implementasi Splunk Dalam Membangun Security Information And Event Management Berdasarkan Log Firewall Traffic Type (Studi Kasus: Jaringan UII)”. Secara sederhana, skripsi ini membahas tentang peningkatan keamanan dengan menggali informasi dari sistem keamanan yang telah diterapkan dengan paradigma enterprise. Harapannya, topik yang diangkatnya bisa memberikan masukan dan inspirasi bagi kampus atau instansi lain, khususnya BSI UII untuk lebih memperkuat keamanan sistemnya dengan memanfaatkan resource yang telah dimiliki.

Terakhir, Wahluf berpesan kepada mahasiswa lain agar tetap berpikir dan berinovasi walaupun mendapati masalah, kegagalan, ataupun keadaan lain yang tak sesuai keinginan. Ingat, habis gelap terbitlah terang!

“Seperti kata pepatah, ‘Better to light a candle, than to curse the darkness’. Lebih baik menyalakan lilin, daripada menghujat kegelapan.” – Wahluf

 

Ridho Imam Pratama

Yuk, kenalan dengan Ridho Imam Pratama, Wisudawan IPK Tertinggi pada Wisuda Informatika Periode II Tahun Akademik 2020/2021. Mas Ridho berhasil meraih IPK 3,83, loh! MasyaAllah.

Selama kuliah di Informatika UII, alumni yang lahir dan besar di Bogor ini pernah beberapa kali ikut kepanitiaan. Selain itu, ia juga sempat menjadi asisten dosen dan mengikuti beberapa pelatihan pemrograman secara online. 

Dalam tugas akhirnya, Mas Ridho mengangkat judul “Sistem Pendeteksi Bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan Penentu Tingkat Penyakit TBC”. Alasannya, cukup sederhana. Selain tertarik dengan image processing, ia merupakan orang yang senang bereksperimen sehingga sewaktu melakukan pemecahan masalah tersebut, antusiasme untuk mencari metode yang paling tepat sangat besar. 

“Ya, walaupun ujung-ujungnya susah juga, tapi banyak hal baru yang bisa aku temukan dan aku pelajari dari mengerjakan itu (tugas akhir),” ujar Mas Ridho.

Secara garis besarnya, tujuan dari sistem tersebut, yakni untuk membuat komputer mengenali sebuah objek pada citra yang diberikan. Nah, dalam hal ini, bakteri yang menyebabkan penyakit TBC pada citra mikroskopis menjadi objek yang akan dikenali melalui aplikasi. Kemudian, setelah komputer mampu mengenali objek tersebut, komputer akan menentukan tingkat keparahan melalui seberapa banyak jumlah bakteri yang ditemukan pada sejumlah citra yang diberikan. Keren banget, kan?

Terus, gimana, ya, kiat Mas Ridho Imam Pratama bisa jadi Wisudawan IPK Tertinggi? 

Bagi Mas Ridho, kiat pertama yang harus kita lakukan, yaitu memahami diri kita sendiri, guys. Kita harus paham, nih, metode belajar apa yang efektif buat kita dan apa yang yang membuat kita semangat untuk mengerjakan sesuatu. Nah, kalau pondasinya sudah kokoh, kita jadi bisa lebih baik dalam menerima materi. Materi apapun itu, tidak hanya kuliah.

Ke depannya, Mas Ridho berharap agar apa yang dikerjakan sekarang dapat berguna, baik bagi diri sendiri dan orang lain. Selain itu, ia juga berharap semoga orang-orang di sekitarnya senantiasa diberikan kesehatan, kemudahan, dan kelapangan hati.

Pandemi Covid-19, selain menyebabkan timbulnya banyak sekali hambatan bagi kita untuk melakukan aktivitas normal seperti biasanya, ternyata juga menawarkan kesempatan besar untuk berkembang pesat bagi yang cepat beradaptasi dan mampu memanfaatkan momentum. Teguh Topo (29), alumni Informatika UII angkatan 2012 tahu betul soal itu.

Selama pandemi, bukannya kehilangan mata pencaharian, bisnis penjualan sapi yang dijalankan oleh dirinya beserta keluarga mengalami peningkatan omzet secara pesat. Dalam satu bulan selama pandemi, Teguh mampu mendapatkan omzet antara Rp 40 juta hingga Rp 60 juta.

Ekspansi Teguh untuk melakukan pemasaran dan penjualan sapi di internet merupakan sebuah inisiatif yang dilakukan setelah membaca peluang bahwa sejak pandemi, semua orang makin akrab dengan internet. Teguh mengaku bahwa pemanfaatan internet dalam bisnisnya sangatlah membantu. Sebab, dirinya mampu menjangkau pasar lebih luas daripada saat berjualan secara konvensional saja.

Ia mengaku bahwa sebenarnya sudah mencoba menggunakan internet untuk berjualan sapi sejak sebelum pandemi. Namun, barulah setelah pandemi, grafik penjualan meningkat secara pesat karena banyak orang takut pergi ke pasar untuk mencari ternak. Sehingga, pelanggan lebih memilih untuk melakukan aktivitas jual-beli melalui media sosial.

Teguh bercerita bahwa pelanggan yang berminat untuk membeli sapi saat ini bukan hanya petani dan peternak. Ada kalangan lain dari pehobi, ASN, pejabat, TKI, dan perantau yang mulai minat membeli sapi. Mereka yang tidak mungkin membeli sapi ke pasar atau turun langsung ke petani itulah yang menjadi sasaran utama penjualan melalui media sosial.

Media yang Teguh manfaatkan untuk berjualan adalah forum jual-beli di Facebook, sebab di sana banyak forum jual-beli sapi online dari seluruh kota. Kecuali itu, dirinya juga melakukan pemasaran di akun YouTube dan Instagram @sapi_pedia. Di Channel YouTube-nya, Teguh memasarkan sapi dagangannya dengan mengunggah video masing-masing sapi beserta spesifikasi, kualitas, postur, jenis sapi, umur, jenis kelamin, dan harga. Dengan menjual 20 ekor per hari, teguh mampu menjual total 200 ekor sapi dalam satu bulan.

Rizal Hamdan Arigusti

Rizal Hamdan Arigusti berhasil menjadi peraih IPK Tertinggi Periode I TA 2020/2021 dengan IPK 4.00 dan masa studi kurang lebih 4 tahun.

Rizal Hamdan Arigusti, atau yang akrab disapa Mas Rizal, merupakan salah satu mahasiswa Informatika UII angkatan 2016. Ia berhasil menjadi peraih IPK Tertinggi Periode I TA 2020/2021 dengan IPK 4.00 dan masa studi kurang lebih 4 tahun.

Selama berkuliah di UII, Mas Rizal sempat mengikuti beberapa kegiatan seperti PSC, Gapoera, CLI, bahkan joint degree program ke  Nanjing Xiaozhuang University (NXU), China. 

Baginya, tidak ada kiat khusus dalam belajar. Ia hanya belajar seperti halnya yang lain belajar. “Yang terpenting, pinter-pinter memilih prioritas yang sesuai dengan tujuan kuliah dan karir ke depannya saja,” ujarnya.

Kini, Mas Rizal sudah bekerja sebagai Backend Developer di salah satu perusahaan. Meskipun ia sudah bekerja, ia tetap menyempatkan diri untuk belajar terkait tech stack baru dan konsep-konsep yang mungkin ia lewatkan selama masih berkuliah. Selain itu, Mas Rizal juga turut memperdalam kemampuan berbahasa asing.

Belajar secara tim untuk mengerjakan proyek Informatics Expo ternyata meninggalkan kesan bagi Mas Rizal. Ia dan teman-temannya pernah mengerjakan proyek di H-1 eksposisi. “Sepuluh orang mengerjakan secara bersama di kamarku (kost) yang sebenarnya kecil banget,” kenangnya.

Ke depannya, Mas Rizal berharap Jurusan Informatika dapat terus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi. Selain itu, untuk teman-teman mahasiswa, selalu ingat bahwa ilmu di kuliah saja tidak cukup. “Keep up to date dengan teknologi dan ilmu-ilmu baru,” tutup Mas Rizal.

Rizki Syawaldi

Rizki Syawaldi

Rizki Syawaldi merupakan mahasiswa Jurusan Informatika angkatan 2015 yang berhasil lulus dengan IPK membanggakan, yakni 3.94. Dengan nilai yang nyaris sempurna ini, Mas Rizki berhasil menjadi Wisudawan IPK Tertinggi Periode VI TA 2019/2020.

Selama berkuliah di UII, Mas Rizki pernah aktif di sebagai asisten laboratorium untuk mata kuliah Basis Data, PSD, PABW, PWEB, Sistem Operasi, dan Jaringan Komputer. Kini, ia sibuk membangun portofolio yang lebih baik, entah dengan belajar secara otodidak sampai ikut kegiatan magang.

“Yakin dengan kemampuan diri sendiri!” Itulah sececah kiat untuk menjadi yang terbaik ala Mas Rizki. Baginya, sebelum menuntut ilmu, kita harus memantapkan niat dan yakin dengan diri kita sendiri. Setelah itu, kenali kelebihan dan kekurangan kita. Poin penting selanjutnya, gunakan metode belajar yang sesuai dengan kita.

Mas Rizki sangat berterima kasih kepada dosen dan teman-temannya selama di UII. Baginya, kuliah di UII membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik, dari yang tidak peduli terhadap orang lain menjadi lebih peduli. 

Pria yang berasal dari Samarinda ini juga berharap, ke depannya, Jurusan Informatika dapat terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan menghasilkan sumber daya manusia yang bermanfaat, cerdas, dan berakhlak mulia. 

“Jangan takut untuk mencoba hal-hal baru, selalu bantu orang yang membutuhkan, dan jangan pernah menyerah menghadapi masalah dalam kehidupan,” tutupnya.

Wildan Maulana, alumni Informatika UII angkatan 2013, yang kini menjadi CEO Delokal, sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata.

Wildan Maulana, alumni Informatika UII angkatan 2013, yang kini menjadi CEO Delokal.

Sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara kita. Tak heran, banyak perusahaan berlomba-lomba mengembangkan pariwisata, salah satunya dengan melakukan pendekatan teknologi . Seperti halnya Wildan Maulana, alumni Informatika UII angkatan 2013, yang kini menjadi CEO Delokal, sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata.

Delokal  adalah sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata yang saat ini telah mendapatkan pendanaan dari Angel Investor untuk mengembangkan Delokal Smart Village (DSV), salah satu produk Delokal berupa platform manajemen kawasan ekowisata yang saat ini telah bermitra dengan beberapa kementrian di Indonesia. Selama pandemi Covid-19, Delokal sendiri masih tetap berjalan dengan mengerjakan versi 2 dari DSV dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali memasarkan produk lainnya di website delokal.com.

Namun sebenarnya, selain sibuk di Delokal, Mas Wildan juga tengah menekuni dan mengembangkan Gidicode, sebuah software house yang jaringan mitranya telah sampai di kancah internasional.

Selama berkuliah di Informatika UII, Mas Wildan memang memiliki cita-cita untuk menjadi seseorang yang berpengaruh di bidang teknologi informasi, dan mampu menjadi technopreneur yang dapat menciptakan karya teknologi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Saat ditanya apakah selama kuliah di Informatika itu menikmati atau tidak, ia mengaku bahwa dirinya merasa sangat enjoy meskipun di awal masa kuliah masih belum paham dengan pelajarannya. “Walaupun saya memulai masuk dunia pemrograman dari 0, saya bisa mengikuti bahkan saat ini saya bersama tim bisa menciptakan sebuah entitas bisnis yang bergerak di bidang teknologi”, pungkasnya. Menurutnya, hal yang paling membuat kuliah di Informatika menjadi pengalaman yang seru adalah karena dunia teknologi itu cepat sekali berubah, sehingga akan selalu ada tantangan baru setiap hari yang memaksa untuk terus belajar tanpa henti.

Selama masih menjadi mahasiswa, ternyata Mas Wildan juga memiliki banyak sekali pengalaman di bidang akademik, kompetisi, dan keorganisasian. Misalnya, paling tidak dirinya telah terbang ke Madrid, Madinah, dan Turki untuk mengikuti berbagai macam konferensi. Sementara itu, dalam dunia organisasi, dulu ia aktif di UII Ayo Mengajar yang saat ini menjadi salah satu lembaga dakwah DPPAI yang paling berkembang dan telah masuk generasi ketiga.

Nah, kemudian di bidang bisnis, ternyata Mas Wildan sudah memulai petualangannya di tahun keempat, yaitu saat ia dan tim mendirikan Gidicode dan merintis Gidsnesia yang sekarang menjadi Delokal. Saat itu, Gidsnesia mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia pada kompetisi Startup Istanbul 2018. Gidsnesia lolos sebagai salah satu dari 100 startup terbaik dari puluhan ribu pendaftar dari berbagai penjuru dunia saat itu.

Mustafa Widiarto Heryatno, peraih IPK tertinggi dalam kelulusan Program Studi Informatika Periode V Tahun Akademik 2019/2020.

Mustafa Widiarto Heryatno, peraih IPK tertinggi dalam kelulusan Program Studi Informatika Periode V Tahun Akademik 2019/2020.

Mustafa Widiarto Heryatno, atau akrab disapa Mustafa, merupakan peraih IPK tertinggi dalam kelulusan Program Studi Informatika Periode V Tahun Akademik 2019/2020.

“Selama itu baik, jangan kebanyakan mikir! Jika merasa ada yang salah, segera tinggalkan.” Itu prinsip pria yang lahir di Pati dan besar di Jayapura ini ketika ditanya soal kiat sukses menjadi peraih IPK tertinggi.

Mustafa memegang teguh prinsipnya selama mengenyam pendidikan tinggi. Kadangkala, terlalu banyak berpikir hanya membuat kita tidak bertindak apa-apa. Selain itu, menurutnya, jika merasa ada yang salah pada sesuatu yang kita kerjakan atau kita tidak bisa membayangkan akhirnya, lebih baik segera berhenti daripada membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Saat berbagi tips sukses meraih IPK tertinggi di Program Studi Informatika Program Sarjana UII, Mustafa menjawab dengan mantap. Bagi Mustafa, pembagian waktu sangatlah penting. Tidak membawa tugas ke waktu istirahat dan tidak istirahat di waktu mengerjakan tugas akan membuat proses belajar lebih efektif dan efisien.

Mustafa juga merupakan tipe orang yang berani melakukan hal-hal yang tidak beliau sukai asalkan hal tersebut dapat bermanfaat ke depannya. Misalnya, tidak suka menjadi MC, berarti harus menjadi MC! Tidak suka jadi koordinator, berarti harus jadi koordinator! Menurut Mustafa, semakin kita “dipaksa” untuk melakukannya, semakin kita berkembang.

Selama kurang lebih 4,5 tahun di UII, Mustafa aktif di beberapa kegiatan kepanitiaan, Laboratorium Informatika, dan Centris FTI. Saat ini, Mustafa bekerja di Badan Sistem Informasi UII sejak Oktober 2019 lalu.

Berkuliah di UII ternyata menyimpan kesan tersendiri bagi Mustafa. UII mengubah pribadi yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik. Ia berharap, UII, khususnya Jurusan Informatika, menjadi lembaga pendidikan yang terus menghasilkan lulusan cerdas dan berakhlak mulia.

“Semoga setelah lulus dari UII, semua mahasiswa memiliki daya saing dan tetap memegang nilai-nilai keislaman,” tambahnya.  Selain itu, Mustafa juga berharap, semoga dakwah islamiah di UII semakin berjaya.

Selamat kepada Mustafa Widiarto Heryatno! Semoga ilmu dan gelar yang diraih dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Sari Kurnia Ningrum, Lulusan Terbaik Informatika

Sari Kurnia Ningrum, Lulusan Terbaik Informatika

Sari Kurnia Ningrum, mahasiswa Program Studi Informatika Program Sarjana yang berhasil lulus dengan IPK 3,83 dengan masa studi 3,5 tahun.

Pusing, tapi nagih. Itulah kesan perempuan yang akrab disapa Sari ini selama kuliah di Informatika UII. Ketika pertama kali masuk Informatika, Sari mengaku benar-benar tidak tahu cara membuka command prompt. Namun, karena kegigihan untuk belajar selama 3,5 tahun ini, Sari mampu lulus dengan nilai yang memuaskan .

Selama mengenyam studi di Informatika UII, Sari cukup aktif di beberapa kegiatan akademik, antara lain menjadi Asisten Laboratorium PSD, FPA, dan PABW; Asisten Dosen RPL dan Matematika Lanjut; serta Pengurus Inti PSC. Selain itu, ia juga aktif di kegiatan non-akademik. Ia beberapa kali mengikuti kepanitiaan jurusan hingga universitas, menjadi volunteer di Facebook Developer Circle Yogyakarta, volunteer di Amikom Business Park, sampai menjadi bagian dari tim internal di SULUR DREAM WORK.

Saat ini, perempuan kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini aktif menjadi Junior Software Developer di Paperlust. Selain itu, beliau juga masih aktif menjadi volunteer di Facebook Developer Circle Yogyakarta dan tim internal di SULUR DREAM WORK.

Sari sendiri mengaku memang memiliki kiat sukses selama kuliah. Menurutnya,  kalanya kita tidak perlu mendengarkan omongan orang apalagi saat ingin memulai sesuatu. Namun, bukan berarti menutup telinga dari kritik dan saran, ya. Sari juga menambahkan, setiap orang punya definisi dan jalan sukses mereka masing-masing. Jadi, kita tidak perlu menjadikan kesuksesan orang lain menjadi tolok ukur kesuksesan kita.

Selamat kepada Sari Kurnia Ningrum. Semoga ilmu yang didapat selama kuliah dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. See you on top!

“Absorpsi Fintech di Indonesia itu termasuk cepat sekali. Hampir semuanya langsung bisa diserap, ada kemajuan teknologi fintech dikit dimakan. Misal di China lagi tren QR Payment, kita (Indonesia) bisa langsung makan,” ujar Rio Agustra ketika diwawancari usai menjadi pembicara di suatu acara bincang-bincang soal Fintech di sebuah co-working space di bilangan Demangan.

 

Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Rio Agustra, alumni Informatika UII yang kini menjadi Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Pria yang akrab dipanggil Mas Rio itu adalah seorang alumni Informatika UII yang lulus tahun 2014 lalu. Saat ini, ia tengah menjabat sebagai seorang Business Development Manager di Solusi Pembayaran Elektronik (SPE) Solution.

Rio Agustra yang sejak lulus langsung terjun ke dunia Fintech merasa bahwa perkembangan teknologi di Indonesia, khususnya pada bidang finansial, sangatlah pantas dibanggakan. Sayangnya, perkembangan itu sering terhambat oleh regulasi yang membuat teknologi baru tidak dapat segera digunakan secara masif oleh industri. Menurutnya, regulasi saat ini belum dapat berjalan secepat perkembangan teknologinya. 

SPE Solution sendiri adalah sebuah perusahaan yang melayani pembangunan solusi pembayaran elektronik untuk perusahaan lain yang membutuhkan. Beberapa contoh layanan yang disediakan oleh SPE Solution di antaranya adalah pembuatan sistem QR Merchant, layanan virtual account, dan lainnya.

“Jadi, bisnis kita memang ranahnya adalah B2B (Business-to-business) untuk menyediakan kebutuhan Financial Technology,” ujarnya.

Berbicara tentang kebutuhan tenaga ahli dan sumber daya manusia di dunia industri, Mas Rio yang mengaku sangat pro dengan dunia akademik dan senang berbagi pengetahuan di berbagai kesempatan ini merasa masih ada celah yang lumayan lebar antara kebutuhan ahli di industri dengan suplai yang mampu disediakan oleh perguruan tinggi.

Sebagai contoh, ia menceritakan bahwa banyak fresh graduate yang ketika terjun ke dunia kerja masih harus mempelajari kemampuan yang dibutuhkan dalam job description-nya dari level yang sangat dasar sekali. Jadi, tantangan mahasiswa saat ini yang tengah mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di dunia kerja adalah bagaimana bisa memiliki pengetahuan yang luas tapi juga dalam, agar kemampuannya bisa langsung digunakan.

Ia sangat menyayangkan jika seorang mahasiswa hanya memanfaatkan waktu kuliahnya untuk belajar hal-hal yang umum saja. Padahal, jika seorang mahasiswa juga memakai waktunya untuk mempelajari suatu hal yang spesifik, misal Front-End Development atau Back-End Development secara mendalam, itu dapat membantu dirinya sendiri untuk lebih siap dengan tantangan kompetisi di dunia kerja. Selain itu, jika seorang mahasiswa sudah fokus pada suatu bidang sejak awal, maka akan sangat mungkin sekali ada perkembangan teknologi baru pada bidang-bidang tersebut secara lebih cepat.

Mas Rio sendiri berharap dunia akademik dapat memberikan suplai kebaruan teknologi untuk diimplementasikan secara massal oleh industri. Namun, ia merasa saat ini sistem akademik kita belum sepenuhnya dapat melakukan itu. Riset dan pengembangan yang memunculkan kebaruan teknologi saat ini justru banyak dilakukan oleh industri karena ada kebutuhan, serta ada data dari real market yang bisa dimanfaatkan.

Maka menurutnya, jika kurikulum tidak dapat berjalan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, unit kegiatan mahasiswa dapat diberdayakan untuk membekali mahasiswa dengan suatu keahlian yang spesifik.

Meski demikian, Mas Rio merasa bahwa pengalaman yang ia dapatkan selama kuliah sangatlah berharga untuk dimanfaatkan di dunia kerja. Ia menyebut bahwa sampai saat ini ia masih menerapkan pengetahuan seputar perancangan perangkat lunak, pembuatan usecase diagram, database design, dan teknologi xml yang semuanya ia pelajari saat masih ada di bangku kuliah dulu.

Pesan Mas Rio yang sudah berada di dunia Industri untuk rekan-rekan mahasiswa sendiri adalah agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal. Ia menyarankan agar seorang mahasiswa juga mempelajari suatu keahlian yang tidak diajarkan di bangku kuliah secara mandiri. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa agar meluangkan waktu untuk berorganisasi karena itu sangat bermanfaat sekali untuk melatih kemampuan kita bekerja sama dengan orang lain.

Annisa Kurniasari

Annisa Kurniasari, Wisudawati Terbaik Informatika sekaligus se-FTI pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2019/2020 yang berhasil meraih IPK 3,93 dengan masa studi 3,5 tahun.

Beliau adalah Annisa Kurniasari, Wisudawati Terbaik Informatika sekaligus se-FTI pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2019/2020, Sabtu (29/2) lalu. Annisa berhasil meraih IPK 3,93 dengan masa studi 3,5 tahun.

Perjuangan Annisa untuk meraih prestasi yang gemilang ternyata tidak mudah. Ia sempat merasa minder dengan teman-teman seangkatan yang memang memiliki passion di Informatika. Namun, karena perjuangan, teman-teman yang saling membantu, dan didukung dosen yang memadai, Annisa akhirnya mampu survive dan menjadi yang terbaik di Informatika.

Selama mengenyam pendidikan di Program Studi Informatika Program Sarjana UII, Annisa Kurniasari aktif di beberapa kegiatan. Beliau aktif di kegiatan Marcomm FTI dan sempat bergabung dengan Tim DPKA untuk menjadi desainer grafis. Selain itu, Annisa merupakan Asisten Mandiri dosen untuk mata kuliah Grafika dan Multimedia, Fundamen Informatika, Business Intelligence, dan Bahasa Inggris untuk Informatika.

Meskipun mendapatkan gelar Wisudawati Terbaik, bagi Annisa, tidak ada kiat khusus dalam belajar. Hanya saja, ia memang bukan tipe yang gemar menunda pekerjaan dan  memaksakan diri ketika sudah lelah. Menurutnya, lebih baik beristirahat ketika sudah lelah.

“Jangan pernah berhenti berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam berbagai hal,” ungkap Annisa. Annisa percaya, terlepas dari latar belakang profesi yang digeluti, setiap orang harus selalu berusaha untuk bisa memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya dan memberikan manfaat bagi sesama. Tentunya, manfaat ini harus diberikan dengan kerja keras dan tanggung jawab sesuai dengan keilmuan dan profesi masing-masing.

“Jangan lupa juga untuk saling membantu satu sama lain. Setelah itu, serahkan semuanya kepada Allah dengan banyak berdoa,” tambah Annisa. Sebagai manusia, kita memang harus selalu berusaha dan percaya bahwa Allah tahu yang terbaik bagi kita.

Semoga dengan gelar Wisudawati Terbaik ini dapat memudahkan Annisa Kurniasari menuju level hidup selanjutnya serta ilmu yang didapat selama berkuliah di Program Studi Informatika Program Sarjana UII dapat memberikan manfaat bagi diri dan lingkungan sekitar.