Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa TikTok telah menjadi fenomena global dengan pertumbuhan pengguna yang sangat pesat di dunia, terutama di Indonesia. Aplikasi ini berhasil menarik perhatian jutaan orang, terutama kalangan muda, melalui fitur-fitur menarik yang memungkinkan pengguna untuk berbagi video kreatif dalam waktu singkat.
Di balik kepopulerannya, algoritma TikTok memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman pengguna dengan menyajikan konten yang dipersonalisasi berdasarkan perilaku dan interaksi mereka. Namun, meski banyak menyuguhkan hiburan, muncul kekhawatiran mengenai dampak algoritma ini terhadap pola pikir, konsentrasi, dan kualitas berpikir masyarakat, terutama generasi muda yang masih dalam tahap pembentukan pola pikir.
Cara Kerja Algoritma TikTok: Membentuk Pengalaman Pengguna yang Dipersonalisasi
Algoritma TikTok menganalisis berbagai interaksi pengguna, seperti durasi tontonan, likes, komentar, dan preferensi konten, untuk menyusun pola perilaku yang memungkinkan penyajian video yang semakin relevan dengan minat pengguna.
Salah satu fitur utama yang mendukung hal ini adalah infinite scroll, yaitu mekanisme di mana pengguna dapat terus menggulir dan menonton video tanpa batas waktu. Fitur ini dirancang untuk memanfaatkan sistem penghargaan di otak, di mana setiap video yang menarik dapat memicu pelepasan dopamin, menciptakan sensasi kesenangan yang mendorong pengguna untuk terus menonton tanpa henti (Moreira, 2023).
Selain itu, content looping memungkinkan video diputar ulang secara otomatis, memperkuat keterlibatan pengguna dengan konten tertentu. Read more


