Bagaimana AI Memengaruhi Performa Pelajar/Mahasiswa dalam Mencapai Tujuan Akademis?

Gambar ini dibuat oleh picsart.com menggunakan teknologi AI

Apa itu Kecerdasan Buatan?

Kecerdasan buatan (artificial intelligence — AI) adalah kemampuan komputer atau robot untuk “berpikir” seperti layaknya manusia[1]. Sistem-sistem komputer digital dan aplikasi yang diimplementasikan dengan kecerdasan buatan mampu mengerjakan tugas-tugas kompleks dengan mudah. Tak hanya tugas-tugas yang kompleks, kecerdasan buatan juga mampu menjawab pertanyaan yang diberikan sebagaimana jika manusia sungguhan yang menjawabnya. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan tersebut telah banyak membantu manusia dalam memecahkan berbagai masalah di kehidupan sehari-hari mereka.

Tujuan awal dibuatnya kecerdasan buatan adalah supaya mesin atau komputer digital dapat meniru kebiasaan berpikir manusia pada umumnya. Contoh: mampu memahami dengan betul masalah yang diberikan, mampu memiliki pemikiran atau pertimbangan sendiri, mampu belajar dari pengalaman, mampu memprediksi suatu keadaan, dan sebagainya[2]. Saat ini, berbagai kalangan memanfaatkan kecerdasan buatan, terutama penggunaan chatbot bertenaga kecerdasan buatan yang hingga kini kian meningkat. Pemanfaatan AI chatbot seperti ChatGPT dan Bard sangatlah beragam, antara lain, sebagai asisten koding, sebagai pencari resep masakan, sebagai alat bantu pengerjaan tugas sekolah, sebagai alat bantu pengetesan basis data, dan sebagai teman percakapan.

Bagaimana Nasib Kecerdasan Buatan di Dunia Pendidikan?

Kehadiran chatbot-chatbot bertenaga kecerdasan buatan ini tentu saja juga sangat membantu para pelajar/mahasiswa untuk mencapai tujuan akademik mereka. Pelajar/mahasiswa dapat dengan mudah mencari jawaban dan referensi untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Selain untuk mencari referensi, pelajar/mahasiswa juga dapat belajar untuk menjadi lebih bijak melalui AI chatbot. Misalnya, jawaban-jawaban keluaran ChatGPT dan Bard terkesan memberikan banyak pandangan terkait pertanyaan yang diberikan. Apabila pelajar/mahasiswa sering memperoleh jawaban-jawaban seperti yang disuguhkan kedua chatbot tersebut, mereka akan terbiasa untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Banyak di antara para pelajar/mahasiswa yang sangat antusias terhadap kehadiran dan perkembangan chatbot-chatbot ini. Saking antusiasnya, berita-berita mengenai AI chatbot terbaru pun rajin mereka cari dan ikuti. Antusiasme dari para pelajar/mahasiswa ini disebabkan oleh keandalan chatbot-chatbot dalam membantu mereka untuk belajar. Sebelum adanya chatbot-chatbot itu, para pelajar/mahasiswa harus mengandalkan alat pencarian melalui sistem pencarian internet dan berbagai media cetak. Sekarang, mereka dapat dengan mudah bertanya kepada chatbot-chatbot AI, seperti ChatGPT, chatbot Bing, dan Bard untuk mencari referensi dan mengerjakan tugas.

Potensi yang dibawakan oleh teknologi ini kepada dunia pendidikan, khususnya di Indonesia,  sangatlah besar. Misalnya saja, penggunaan kecerdasan buatan untuk mempelajari bahasa Arab Al-Qur’an dan mencari hadis bagi para pelajar muslim[3]. Adapun potensi kecerdasan buatan lainnya, yaitu pemanfaatan AI chatbot untuk membantu proses belajar para pelajar/mahasiswa. AI chatbot dapat didesain sedemikian rupa sehingga menciptakan asisten belajar yang terpersonalisasi. Pembelajaran yang terpersonalisasi ini akan membuat ekosistem pendidikan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan hasrat belajar mereka.

Apa Pengaruh AI Terhadap Proses Akademik Mahasiswa?

Mayoritas pelajar atau mahasiswa menganggap AI sebagai surga untuk mendapatkan solusi atas kesulitan yang dialami ketika menghadapi tugas-tugas sekolah atau perkuliahan. Tentu tidak ada salahnya ketika mayoritas pelajar atau mahasiswa memiliki pandangan seperti itu karena pada kenyataannya AI memang dapat menyelesaikan sebagian besar tugas-tugas sekolah atau perkuliahan. Namun, di balik kemudahan yang diberikan, AI menyimpan efek negatif bagi dunia pendidikan, bahkan efek negatif ini bagaikan bom waktu yang akan meledak di kemudian hari apabila pelajar atau mahasiswa tidak dapat mengelolanya dengan baik.

Apa Efek Negatifnya?

Pada kenyataannya, dewasa ini, AI menjadi penyebab utama kemalasan mahasiswa untuk belajar keras dalam memenuhi kompetensi mereka. Mahasiswa menjadi malas untuk membuka buku ataupun jurnal dan malas untuk berdiskusi dengan rekan atau dosen. Hal in terjadi karena tanpa mereka melakukan itupun dengan menggunakan AI semua permasalahan akan terselesaikan[5]. Kemalasan tersebut akan menyebabkan pola pikir pelajar atau mahasiswa sebagai generasi muda menjadi tumpul sehingga dampaknya kreativitas dan kemampuan berpikir kritis akan berkurang drastis dalam beberapa waktu ke depan. Hal itulah yang dapat dianggap sebagai bom waktu yang akan meledak di kemudian hari.

Kurangnya kreativitas dan kemampuan berpikir kritis, khususnya pada generasi muda, akan membawa SDM negara menjadi terbelakang dan tidak mampu bersaing dengan SDM dari negara lain apalagi jika harus bersaing dengan negara-negara maju di era yang serba terbuka saat ini. Padahal, pada tahun 2045, Indonesia memiliki cita-cita untuk menuju “Indonesia Emas”, yang mana salah satu faktor pendorongnya adalah generasi produktif yang akan menjadi penduduk mayoritas negara. Apabila bom waktu yang telah dijelaskan di atas tidak segera dinetralkan, kegagalan menuju “Indonesia Emas” akan menjadi kenyataan. Bahkan kegagalan tersebut bisa saja membawa Indonesia ke ambang keruntuhan SDM akibat generasi produktif pada masa itu tidak siap untuk bersaing dan berjuang.

Lalu, Apa Efek Positifnya?

Di balik potensi negatif yang ditimbulkan, AI juga menyimpan potensi positif bagi dunia pendidikan. AI dapat dijadikan sebagai partner untuk berdiskusi sehingga kemampuan berpikir kritis akan semakin terasah, mencari referensi untuk menunjang tugas sekolah atau perkuliahan, dan membantu memberikan feedback terhadap pekerjaan yang dihasilkan oleh pelajar atau mahasiswa sehingga pelajar atau mahasiswa dapat mengetahui letak kekurangan dari pekerjaan yang dihasilkan oleh mereka.

Selain itu, tenaga pengajar seperti dosen dan guru juga dapat memanfaatkan AI untuk menunjang mereka dalam memajukan dunia pendidikan. AI dapat membantu guru dan dosen dalam menganalisis kemampuan masing-masing siswa/mahasiswanya dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan di antara mereka. Dengan demikian, guru atau dosen dapat memberikan dukungan akademis yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan[4]. Apabila kualitas pendidikan semakin meningkat, kualitas SDM Indonesia juga akan meningkat. Kualitas SDM yang baik akan mendorong SDM Indonesia dalam persaingan dengan negara lain di tengah era keterbukaan ini. Kemampuan bersaing SDM yang baik akan meningkatkan kesejahteraan warga negara. SDM yang unggul akan menyebabkan warga negara diterima lebih baik dan mendapatkan posisi yang menguntungkan dalam dunia kerja. Dampak secara umum akan meningkatkan kemampuan perekonomian negara karena kesejahteraan yang tinggi akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga roda perekonomian berjalan lebih cepat.

Bagaimana Cara Meningkatkan Dampak Positif dan Mengurangi Dampak Negatif AI?

Sampai saat ini, masih banyak pelajar/mahasiswa yang menyalahgunakan penggunaan AI. Meski begitu, ada beberapa cara untuk mencegah atau mengatasi penyalahgunaan AI, di antaranya: memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang AI kepada seluruh tenaga pendidikan dan mahasiswa/pelajar mengenai berbagai macam cara menggunakan AI berserta dengan fungsi-fungsi AI yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pendidikan.

Motivasi kepada pelajar atau mahasiswa juga diperlukan untuk mendorong mereka agar lebih tekun belajar dalam mengejar kompetensi yang mereka inginkan di tengah godaan AI yang dapat mengaburkan fokus mereka untuk tekun belajar. Pemahaman tentang pentingnya kompetensi yang unggul sebelum memasuki dunia kerja sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar sehingga harus ditanamkan kepada pelajar dan mahasiswa. Tiadanya dukungan kompetensi yang mumpuni akan membawa mereka menuju masa depan yang suram. Dampaknya tidak hanya merugikan mereka sendiri, tetapi juga akan merugikan keluarga besar mereka. Penting juga untuk diketahui bahwa masa depan suram akan merugikan orang tua dan saudara kandung secara langsung karena pelajar/mahasiswa akan menjadi beban kehidupan bagi mereka di kemudian hari. 

Jadi, Bagaimana Pengaruh AI Secara Umum Bagi Pendidikan?

Pengaruh yang dirasakan pelajar/mahasiswa dengan kehadiran AI sangat signifikan. AI telah membawa dampak yang cukup besar terutama dalam bidang pendidikan, khususnya performa akademis pelajar/mahasiswa. Walaupun sampai saat ini terkadang AI masih disalahgunakan, dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang AI secara terus menerus, bukan tidak mungkin di masa depan nanti para pengguna AI akan memanfaatkannya dengan baik dan benar. Salah satu pengaruh AI yang paling umum adalah dapat mengubah cara berpikir mahasiswa/pelajar yaitu dengan membantu mahasiswa menemukan informasi secara mudah dan cepat. Kemampuan ini dapat membantu pelajar/mahasiswa dalam menyusun dan mencari materi pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran menjadi lebih efisien.

Referensi

[1] https://www.britannica.com/technology/artificial-intelligence
[2] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8633405/
[3]https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/07/20/perbanyak-riset-penggunaan-kecerdasan-buatan-di-pendidikan
[4] Mengenal Peranan Penting Artificial Intelligence bagi Dunia Pendidikan – Tekno Tempo.co
[5] AI dalam Pendidikan: Antara Kecerdasan atau Kemalasan Mahasiswa? (republika.co.id)

Penulis (Mahasiswa S-1 Informatika UII):

  • Jagad Budi Prasetyo
  • Muhammad Zaki Robbi Akhsin
  • Ziyad Muhammad Zain Soti
  • Athaillah Nurcahyo Arya Gunawan

\[FA]