Program Studi Informatika Program Sarjana Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan seminar bertajuk “Lulusan Informatika: Tetap Berarti di Era AI” pada Selasa, 23 Juni 2026, pukul 13.00–14.30 WIB. Bertempat di Auditorium FTI Lantai 3 sekaligus digelar secara hybrid melalui Zoom, seminar ini menghadirkan Prof. Fathul Wahid, Profesor di Jurusan Informatika sekaligus Rektor UII periode 2018–2022 dan 2022–2026, sebagai pembicara utama. Acara dipandu oleh Ahsani Taufiq Khawarizmi, mahasiswa International Program Informatika angkatan 2023, yang bertindak sebagai moderator.
Dalam paparannya, Prof. Fathul membuka diskusi dengan sejumlah “pertanyaan yang menghantui” mahasiswa Informatika saat ini: kecerdasan buatan (AI) kini sudah mampu membuat program, menjawab pertanyaan, membangun website, hingga membantu proses debugging. Menanggapi keresahan apakah kuliah Informatika masih relevan, ia menegaskan bahwa jawabannya adalah ya—bahkan lebih penting dari sebelumnya. Menurutnya, yang berubah bukanlah kebutuhan terhadap lulusan Informatika, melainkan definisi keahliannya. Ia mengingatkan bahwa sejarah teknologi menunjukkan pola serupa: spreadsheet tidak menghilangkan akuntan, mesin pencari tidak menggantikan peneliti, dan kalkulator tidak meniadakan matematikawan. Teknologi mengubah pekerjaan, bukan sekadar menghapusnya.
Seminar kemudian membahas peta karier komputasi di era AI. Prof. Fathul memaparkan bahwa karier di bidang ini tidak hilang, tetapi bergeser bentuknya. Literasi AI menjadi kompetensi dasar bagi seluruh profesional teknologi informasi, sementara aspek etika, privasi, dan keamanan justru semakin krusial. Ia juga menyoroti kekhawatiran bahwa “programmer pemula akan hilang”, dengan menjelaskan bahwa tugas pemrograman rutin memang semakin terotomasi, namun kemampuan pemecahan masalah, integrasi sistem, dan pengujian menjadi kian bernilai. Dengan kata lain, AI menggantikan sebagian tugas pemrograman, bukan peran programmer itu sendiri.
Lebih jauh, Prof. Fathul membedakan pekerjaan yang mudah diotomasi AI—seperti pemrosesan data repetitif, pengujian kualitas dasar, dan pembuatan kode rutin—dengan pekerjaan yang sulit digantikan, seperti arsitek sistem, spesialis keamanan siber, pakar etika AI, hingga manajer proyek TI. Ia menekankan bahwa pekerjaan yang membutuhkan strategi, kreativitas, etika, dan kepemimpinan manusia akan tetap sangat dibutuhkan. Masa depan profesi komputasi, menurutnya, ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan AI, beradaptasi, dan mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan manusia serta organisasi.
Sesi diskusi berlangsung hangat, salah satunya ketika seorang mahasiswa bertanya, “Seandainya Bapak dapat mengulang waktu menjadi mahasiswa, apa yang ingin Bapak lakukan?” Prof. Fathul menutup dengan refleksi yang membekas: “Saya tidak ingin kembali menjadi mahasiswa, karena hidup kita ini adalah hasil dari keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan kita di masa lalu.”






Pengumpulan makalah untuk diterbitkan ke Jurnal Sains, Nalar, dan Aplikasi Teknologi Informasi Volume 3 No.1 2023 dibuka. Berikut informasi-informasi penting yang perlu diketahui.