On November 18, 2019, Hendrik, the Head of Department of Informatics UII, together with Teduh Dirgahayu, the Head of Undergraduate Program in Informatics, visited Youngsan University (YSU) in Busan, South Korea. The purpose of this visit was to discuss the continuation of the Dual Degree (DD) program that has been running since 2015. Ibrahim Surya Putra and Muhammad Rizky Al-Faraizy, both class of 2013, were the first two alumni of this program, while two other students from class of 2015, Fairuz Shofi and Ivan Seto Adicahya, are the next in line.

Hendrik and Teduh with Prof. Jihyun Park, Director of International Center, YSU, and Ayla

Hendrik and Teduh with Prof. Jihyun Park, Director of International Center, YSU, and Ayla

During discussions with the Department of Computer Engineering YSU, Hendrik and Teduh had the opportunity to meet with Mr. Young-Gi Kim, the CEO of Wegochain, a South Korean company focusing on Blockchain-based applications and services development. At the time, Mr. Kim and his staff were about to interview Ivan Seto Adicahya, who was applying for a job at Wegochain. Alhamdulillah, Ivan is most likely joining Wegochain after completing his study at YSU next year.

During discussions, Wegochain interested in working with UII and they planned to open a branch office in Indonesia, especially in Yogyakarta. At present, the Department of Informatics UII is still in correspondence with Wegochain, to realize this collaboration. Hopefully, it will be realized soon next year.

Hendrik and Teduh with Staffs of International Office, Hanyang University

Hendrik and Teduh with Staffs of International Office, Hanyang University

In addition to visiting YSU, Hendrik and Teduh also visited Hanyang University (HU) in Seoul as a reciprocal visit to HU’s visit to UII a few weeks earlier. Here, the discussion is more focused in the collaboration on the short-term program, such as summer and winter programs. Every year, the HU summer and winter programs are attended by approximately 2000 students from many countries.

On that occasion, HU also offered Department of Informatics UII to send its lecturers to come as visiting lecturers in the said short-term programs.

So, which one are you interested in joining? The Dual Degree program between UII and YSU? Or the short-term program at HU? All the while having the opportunity to explore further the world’s most innovative country.


[Bahasa Indonesia] Read more

Friday, October 25, 2019, the lecturers and staffs of the Department of Informatics UII visited Taylor’s University in Kuala Lumpur, Malaysia for some joint activities. The group was welcomed by Professor Dr. David A / L Asirvatham, the Executive Dean of Faculty of Innovation & Technology, Taylor’s University, Dr. Dini Oktarina Dwi Handayani and Ms. Norhidayah Binti Hamzah. There were three activities:

Double Degree & Student Exchange Program Discussion

Double Degree & Student Exchange Program Discussion

The first activity was the discussion on Double Degree and Student Exchange plan between UII’s Department of Informatics and Taylor’s University’s School of Computing & IT, which was attended by Mr. Hendrik as the Head of Department of Informatics UII and Mr. Dhomas Hatta Fudholi as the Secretary of the Undergraduate Study Program in Informatics.

Ridho gave a presentation about From Machine (and Deep) Learning to Causal Model

Ridho gave a presentation about From Machine (and Deep) Learning to Causal Model

The second activity was a research sharing session. Mr. Ridho shared insights about “From Machine (and Deep) Learning to Causal Model”, while Mr. Andri talked about “Eliciting Tacit Knowledge from WiFi Access Logs”. Aside from UII lecturers, Dr. Hamwira Yaacob from International Islamic University Malaysia also participated in this research sharing session by sharing about Neuro-Affective Computing. Sir Capt Sudhir A K Kumaren from Kambyan Network also gave a presentation about AI and drone technology.

Discussion on Managing International Students in Taylor's University

Discussion on Managing International Students in Taylor’s University

The last activity was a discussion on managing international student administration with the Office of International Affairs, Taylor’s University. In addition, the staffs and lecturers also had a chitchat with one of the Ph.D. students Taylor’s University School of Computing & IT from Yogyakarta

Hopefully, this collaboration will be a good start for the two institutions.


[Bahasa Indonesia] Read more

Bulan Oktober lalu diakhiri dengan agenda dari jurusan kita, yaitu Forum Program Studi Informatika dan Serumpun pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia (FORKOM). Kegiatan ini bekerja sama dengan Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) dan melibatkan Informatika dari Perguruan Swasta lainnya di Indonesia. Sejumlah 20 perwakilan Prodi Informatika dan Serumpun Perguruan Tinggi Islam dari berbagai kota turut hadir dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan dari tanggal 30 Oktober hingga 1 November tersebut.

Dalam kegiatan FORKOM di tahun ini dilaksanakan dengan harapan para pengelola program studi serumpun pada Perguruan Tinggi Islam dapat bersama-sama berdiri, bergandeng tangan mewujudkan kontribusi nyata kepada umat melalui bidang keilmuan Informatika, Ilmu Komputer, dan Serumpun dalam wujud Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium FTI UII dan di Desa Wisata Jambean Selatan Rambeanak, Mungkid, Magelang ini juga diharapkan antara satu Prodi Informatika dengan yang lainnya dapat menjalin tali silaturahmi dan menginisiasi kerjasama lain di bidang Informatika.

Berita datang dari konsentrasi Informatika Medis, yaitu pada hari Kamis lalu (12/9), Ibu Izzati Muhimmah, Bapak Rahadian Kurniawan, Ibu Arrie Kurniawardhani, bersama dengan mahasiswa tesis S2, Mbak Fatmawati dan mahasiswa skripsi S1 Mas Ridho Imam Pratama melaksanakan kunjungan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung.

Pusat Studi Informatika Medis berdiskusi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung

Pusat Studi Informatika Medis berdiskusi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung

Kunjungan ini memiliki agenda untuk berdiskusi dengan jajaran pejabat Dinas Kesehatan Temanggung, P2P Dinkes Temanggung, serta analis-analis penyakit Tuberculosis di fasilitas kesehatan yang berada di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Temanggung. Kegiatan diskusi ini sebagai dasar pengetahuan dalam pelaksanaan penelitian DIKTI mengenai Sistem Deteksi penyakit Tuberculosis Berdasarkan Citra Dahak dan membuka jalan kerjasama penelitian.

Pusat Studi Informatika Medis berpose dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung

Berita datang dari Bapak M. Andri Setiawan, atau biasa disapa Pak Andri, setelah pulang dari IC3K (International Joint Conference on Knowledge Discovery, Knowledge Engineering, and a Knowledge Management) di Vienna University of Technology (TU Wien), Austria pada tanggal 17-19 September lalu.

Beliau mempresentasikan paper penelitian yang berjudul “How 802.1x Enhances Knowledge Extraction from Large Scale Campus WiFi Deployment”. Penelitian ini memanfaatkan data WiFi yang di-deploy di lingkungan UII, baik UIIConnect maupun eduroam, sebagai alat bantu pengambilan beragam keputusan organisasi dalam lingkungan UII, seperti mobilisasi orang, fasilitas kampus, otomasi, dan lain sebagainya. Selain bertugas mempresentasikan hasil penelitian, Pak Andri juga menjadi salah satu session chair konferensi dan bertugas menjadi moderator dalam salah satu sesi.

 

Dr. Andri dengan Prof. A Mien Tjoa dari TU Wien

Dr. Andri dengan Prof. A Mien Tjoa dari TU Wien

Di samping kegiatannya mengikuti konferensi, beliau juga membangun relasi dengan profesor senior TU Wien, Prof.  A Min Tjoa, dan mendiskusikan berbagai kemungkinan kerjasama antara UII dan TU Wien. Selain itu juga beliau melakukan inisiasi diskusi untuk membangun kerjasama dengan UNIDO (United Nations Industrial Development Organization) mengenai peluang bagaimana UII dapat berkontribusi dalam riset antara Indonesia dan UNIDO dengan berdiskusi dengan Dr. Dindin Wahyudin, warga Indonesia yang saat ini bekerja di UNIDO, Wina.

Dr. Andri dengan Dr. Dindin Wahyudin, UNIDO

Dr. Andri dengan Dr. Dindin Wahyudin, UNIDO

The relationship between the Department of Informatics UII and the Computer Science Division of RMUTT is getting stronger. Last Wednesday, September 11, the Memorandum of Agreement (MoA) was signed by the Dean of the Faculty of Science and Technology of the RMUTT Thailand, and was later also signed by the Dean of FTI UII in Yogyakarta. This MoA provides an opportunity for both parties to exchange student programs, visiting lecturers, joint research, or joint conferences.

RMUTT-UII exchange students with their instructors

The visit to Thailand was also to escort Ms. Dwitiya and Ms. Fira as exchange students at RMUTT. Both of them are the students of Department Informatics (Year 2016) who are currently taking the Research Track as their last year study track. Last semester, they have compiled a thesis proposal about face detection (Dwitiya) and a decision support system (Fira). They will complete their final project in RMUTT for the next 3 months.

Fayruz gave a lecture about IoT Security

Fayruz gave a lecture about IoT Security

Ms. Fayruz  was given the opportunity to deliver a Guest Lecture on IoT Security to third-year students of Computer Science in RMUTT. The participants were enthusiastic in attending this short lecture, as seen from several students who were eager to try to answer the miniquiz at the end of the presentation.


Read more

Sebanyak 46 guru perwakilan tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA yang terbagi dalam 10 kelompok di DIY diberikan pendampingan untuk mengembangan kurikulum mata pelajaran informatika atau dikenal dengan kurikulum K12 informatika. Guru-guru tersebut memasuki tahap melaporkan perkembangan penerapan kurikulum melalui seminar yang digelar di Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) pada hari Kamis (8/8), sebagai akhir dari pelaksanaan hibah yang telah berjalan 2 bulan dan telah diberikan beragam pelatihan kurikulum K12 dan sudah dipraktikkan di sekolah masing-masing. Selain guru, Dinas Pendidikan se-DIY, Google, Instruktur Kurikulum Informatika Nasional, Guru-guru Informatika se DIY yang belum ikut hibah juga menjadi peserta seminar ini.

Pertemuan ini untuk mendiseminasikan persiapan kurikulum informatika K12 harapannya bisa menjadi referensi sekolah yang lain dalam menerapkan pelajaran informatika yang lebih disenangi siswa. Mengingat dalam pertemuan itu juga diwakili sekolah lain yang belum tersasar program hibah penerapan kurikulum K12.

Bapak Hanson Prihantoro, Dosen Prodi Teknik Informatika UII menilai kendala yang masih sering dihadapi adalah terkait pengetahuan guru yang sebelumnya masih berbasis pelajaran TIK, tetapi saat ini diubah menjadi informatika yang lebih banyak pada tataran praktik. “Kalau sebelumnya TIK kan hanya menggunakan software saja, tetapi sekarang informatika ini tetapi juga bisa memanfaatkan software itu untuk menyelesaikan berbagai persoalan, temuan terkait informatika,” ucap beliau.

Rektor UII Fathul Wahid menyatakan, UII menjadi salah satu dari total empat perguruan tinggi di Jogja yang dipercaya menjalankan program Grant Implementasi Kurikulum Informatika K12 melalui Bebras Indonesia. Ia memastikan, program itu sepenuhnya didukung oleh Google Indonesia dengan memberikan pelatihan informatika agar bisa mengembangkan kemampuan berpikir komputasional. Melalui cara berfikir itu, diharapkan bisa membekali siswa agar lebih siap dalam menghadapi persaingan global ke depannya.

“Dengan berpikir komputasional ini adik-adik SD, SMP, SMA dilatih untuk berpikir secara berbeda dan sangat membantu ketika terjun ke teknologi informasi yang membutuhkan coding, pemrograman, banyak manfaatnya. Ini bisa mendorong orang tidak hanya sebagai pemakai tetapi juga creator atau produsen,” ujar beliau.

Mengingat selama ini, kata Fathul, mata pelajaran TIK hanya lebih diarahkan pada pengenalan perangkat menggunakan aplikasi. Tetapi melalui kurikulum ini mengajak siswa berpikir komputasional atau memecahkan masalah dengan langkah tertentu dan mengenali pola masalah dan mendapatkan solusinya. “Selama ini belum ada, ini [kurikulum] memang baru diujicobakan, program ini didukung google Indonesia,” katanya.

Seminar berjalan dengan setiap kelompok menyiapkan dokumen rancangan pembelajaran informatika yang telah disusun beserta poster untuk ditampilkan/dipamerkan. Kemudian mereka juga mempresentasikan secara terbuka, termasuk menampilkan video hasil pembelajaran mereka di kelas, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. 

 

Sumber: harianjogja.com

Beberapa disunting oleh Teknik Informatika UII

Acara Mini Talk dan Diseminasi Magang telah terselenggara di ruang Audiovisual 1.10 pada hari Senin lalu (22/07). Sesi pertama dilaksanakan mini talk yang menghadirkan dua perusahaan ternama. Ada Bapak Wisnu Manupraba selaku CEO dari PT. Javan Cipta Solusi dan Mas Arif Ditia Faltah dai perwakilan PT. AVO Innovation Technology. Keduanya memberikan penjelasan mengenai perusahaan masing-masing dan memberikan motivasi mengenai manfaat magang. Selain itu, kedua perusahaan tersebut juga menawarkan lowongan magang bagi mahasiswa yang tertarik.

Bapak Wisnu dari Javan memberikan mini talk

Bapak Wisnu dari Javan memberikan mini talk

Sesi kedua dilanjutkan dengan diseminasi atau presentasi dari mahasiswa yang mengambil jalur magang. Diseminasi berjalan lancar dan santai. Para mahasiswa yang memberikan presentasi juga memberikan gambaran mengenai aktivitas magang mereka di kantor dan menjelaskan keuntungan yang mereka dapatkan.

Mas Arif Ditia Faltah dari PT. AVO Innovation Technology

Mas Arif Ditia Faltah dari PT. AVO Innovation Technology

Tepat pada tanggal 24 Februari – 3 Maret 2019, Jurusan Informatika mengirimkan 2 mahasiswa terpilih untuk mengikuti exchange program “Sakura Science Plan 2019” di Jepang dengan Hokkaido Information University (HIU) sebagai host university-nya. Program ini merupakan bentuk kerja sama kedua kalinya antara UII dan HIU yang disponsori penuh oleh Japan Science & Technology (JST) setelah yang pertama dilaksanakan pada tahun 2017

Program Sakura Science dibuat dengan tujuan agar para peserta dapat mengenal bagaimana kemajuan sains dan teknologi di negara jepang melalui kegiatan-kegiatan bersama para pelaku akademisi di Host University Jepang dan institusi-institusi penelitian, dengan harapan partisipan pada program ini dapat menjadi “Future Science Leaders” di Asia dengan koneksi yang semakin meluas.

Di tahun 2019 ini, Teknik Informatika mengirimkan 2 perwakilan mahasiswanya yaitu Niky Ayu Lestari (2016) dan Yudhistira Adinugraha Hutabarat (2017) yang terpilih setelah melalui proses seleksi berkas maupun wawancara. Pada tanggal 24 Februari mereka berangkat bersama Ketua Jurusan Informatika, Hendrik, S.T., M.Eng., dan juga Ketua Program Studi S1 Jurusan Informatika, Dr. Raden Teduh Dirgahayu, S.T., M.Sc.

Program yang berlangsung selama 1 minggu ini, mengangkat tema “Space Utilization & It’s Communication Technology II”. Sesuai Tema tersebut, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukanpun berhubungan dengan Space Science dari sisi Teknologi Komunikasi yang digunakan. Di Informatika UII sendiri tema mengenai hal tersebut masih sangat jarang disinggung, bahkan di Indonesia sekalipun. Di sisi lain,  HIU sebagai tuan rumah sudah lama mendalami teknologi Informasi dan Komunikasi juga Teknologi mengenai Satelit.

Selama Program berlangsung bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya dari negara lain, yaitu Rajamangala University of Technology Thanyaburi (Thailand), University College Sedaya International (Malaysia), dan Nanjing University (China), Seluruh delegasi menjalani rangkaian acara ditemani oleh Mr. Keita Odajima dari International Exchange and International Students Support Division HIU, bersama dengan staff dan mahasiswa HIU lainnya.


“Pengalaman yang kami dapatkan di Sakura Science Plan ini benar-benar seru dan berharga. Selain kami bisa merasakan lembutnya salju dan bertemu teman-teman dari negara lain, kami juga mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan langsung dari pakarnya, bahkan banyak pengetahuan-pengetahuan baru dan terkini yang tengah dikembangkan disana. Kami tidak hanya belajar di kelas, kami diajak berpindah dari satu kota ke kota lain di Jepang, mengunjungi pusat riset luar angkasa JAXA, NICT, dan melihat bintang di malam hari dengan teropong raksasa yang menjadi salah satu teropong terbesar di Asia. Kami juga dikenalkan permainan curling yang berseluncur di atas es dan tentu saja mencicipi berbagai makanan Jepang, semuanya gratis. Semoga semakin banyak yang sadar keren dan luar biasanya program ini. Persiapkan diri mulai sekarang, siapa tahu tahun depan giliran kamu.” (Niky)

Di Hari pertama program, acara dilaksanakan di JAXA Tsukuba Space Center dengan kegiatan facility tour untuk melihat bagaimana isi dari agensi jepang yang berfokus pada pengembangan serta penggunaan Aerospace. Juga melakukan Space Dorm Tour, tur yang dipandu oleh staff dari Space Engineering Development co.,Ltd untuk mengenalkan hal-hal yang sudah diciptakan oleh JAXA seperti macam-macam satelit, Mesin dalam roket, hingga model baju astronot.

Di hari Kedua, seluruh delegasi mengikuti rangkaian kegiatan di NICT HQ (National Institute of Information and Communication Technology) berupa kelas mengenai pengenalan teknologi yang menggunakan satelit ciptaan jepang, Himawari, untuk mengetahui pergerakan Taifun. Selain itu dilakukan juga tur hasil-hasil riset NICT HQ seperti teknologi penentu waktu standar jepang (JST), pengolahan citra untuk mengolah peta suatu lokasi, aplikasi teknologi dari satelit Himawari, dan masih banyak lagi.

Lalu acara di hari-hari berikutnya dilanjutkan di Hokkaido Information University untuk menjalani berbagai kelas dan workshop mengenai teknologi space science. Seluruh kegiatan tersebut diisi oleh berbagai pengajar yang ahli dibidangnya mulai dari kelas mengenai perkembangan Space Science di Jepang, hingga penggunaan data-data yang telah diambil oleh satelit himawari. Seluruh rangkaian kegiatan di kelas berlangsung selama 2 hari dan dipandu oleh Prof. Watanabe sebagai promotor dari seluruh kegiatan Sakura Science pada waktu itu.

Di akhir kegiatan pembelajaran pada program ini, seluruh delegasi diajak mengunjungi Nayoro Observatory untuk melakukan berbagai aktivitas pembelajaran dengan fasilitas yang ada disana, seperti melihat berbagai macam teleskop dengan berbagai ukuran, screening film mengenai berbagai planet, hingga melakukan pengamatan bintang di malam hari.

“Banyak ilmu serta wawasan baru yang didapat selama menjalani program Sakura Science Plan ini, entah itu dari kegiatan-kegiatan yang dirancang seperti melihat betapa bagusnya institusi-institusi riset mereka hingga teknologi yang telah diciptakan, lalu mengenal bagaimana perbedaan kultur dari teman-teman delegasi negara–negara lainnya, hingga melihat kondisi bagaimana negara jepang itu sendiri, seperti sistem transportasinya, fasilitas publik, hingga sikap-sikap yang dimiliki oleh orang-orang jepang disana. Namun secara keseluruhan program ini berhasil menumbuhkan dorongan semangat belajar sebagai upaya untuk membuat kemajuan di Indonesia seperti halnya kemajuan sains dan teknologi yang ada di jepang” (Yudhis)

Pendaftaran Program Joint Degree UII & NXU China yang akan dimulai September 2019 telah dibuka. Tahun 2018 lalu, Informatika UII telah mengirimkan 4 mahasiswa untuk mengikuti Program Joint Degree ini. Keempatnya adalah mahasiswa S1 Angkatan 2016, yaitu: Agung Ramadhan Putra, Rizal Hamdan, Nabhan Faisal Bariz, dan Sabika Amalina.

Berikut adalah cuplikan wawancara dengan keempat mahasiswa tersebut:

1. Bisa tolong dijelaskan Mas/Mbak, program ini seperti apa?

Agung

Program Double Degree atau Program Gelar Ganda ini merupakan kerjasama antara kampus Universitas Islam Indonesia (UII) dan Nanjing Xiaozhuang University (NXU).
Program Double Degree ini 2+2 yang dimaksud adalah jika dalam pendidikan sarjana kita menempuh 4 tahun kuliah, dalam program ini kita melaksanakan pendidikan 2 tahun pertama di kampus Universitas Islam Indonesia dan 2 tahun berikutnya di kampus Nanjing Xiaozhuang University.

Rizal

Jadi double degree ini kan programnya atas dasar kerja sama Informatika UII sama NXU China, program ini istilahnya aku bakalan dapat gelar ganda dari UII satu dari NXU satu. Bentuk programnya sendiri aku diberi kesempatan 2 tahun kuliah di NXU dari semester 5 sampai semester 8 nanti.. Jadi semester 1-4-nya aku kuliah di UII, kurang lebih seperti itu.

Nabhan

Sebenernya double degree ini adalah kegiatan antar perguruan tinggi baik dalam negeri ataupun melalui kerjasama antara perguruan tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri. Sedangkan untuk program double degree di UII sendiri penyelenggaraannya melalui kampus dalam dan luar negeri yaitu NXU China. Jadi, 2 kampus tersebut secara bersama saling mengakui lulusannya.

2. Suka & duka yang dirasakan dalam menjalani program ini?

Agung

Suka dan duka, mungkin ada beberapa orang yang punya impian untuk belajar di luar negeri, apalagi dengan beasiswa dan belajarnya di negara-negara maju yang sangat kita butuhkan sebagai mahasiswa IT. Jadi saya pribadi sangat senang atas kesempatan yang diberikan untuk melanjutkan studi di luar negeri, di China. Bisa mendapat pengetahuan tentang teknologi-teknologi di sini dan belajar budaya dari negara lain, bisa merasakan secara langsung perbedaan negara Indonesia dengan negara China, selain itu bisa merasakan 4 musim yang tidak ada di Indonesia.
Untuk duka, karena kita muslim, di China itu muslim menjadi minoritas, kesulitan untuk beribadah dan makan makanan halal sedikit menjadi kendala, kadang khawatir kalau beli makanan/bahan makanan di supermarket, perlu dilihat dulu ada kandungan tidak halalnya atau tidak. Duka yang lain juga karena di sini tidak ada siapa-siapa selain teman-teman yang dari Indonesia, jadi kita harus berani keluar dari zona nyaman dan mencari teman baru.

Kalau pembelajarannya sejauh ini tidak ada masalah, jadi tidak ada duka. Suka-nya karena bisa melatih bahasa Inggris, hehe.
Dukanya juga aku ga bisa selalu open sosmed. Butuh akses pakai VPN, jadi ribet. Karena kita masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan Google, di China Google itu di-block. Jadi repot harus (pakai) VPN untuk akses. Sama halnya dengan sosial media seperti Facebook, Whatsapp, dan lain-lain. Harus akses produk dalam negeri, yaitu Baidu.

Rizal

Kalau suka-nya sih mungkin lebih ke feeling gimana rasanya kuliah di luar negeri aja sih… Terus kagum melihat bagaimana China memanfaatkan IT di kehidupan masyarakat mereka dan hampir semua golongan masyarakat menerima itu, baik tua nenek-nenek maupun yang muda.. Jadi kadang juga mikir, gimana ya bisa membuat Indonesia bisa gini dalam pemanfaatan IT-nya itu.

Rizal Hamdan

Kalau duka sih… Ya mungkin karena orang China-nya ga banyak pandai English jadi agak susah berkomunikasi sama orang lokal yaa… Jadi memang mau ga mau push diri sendiri untuk bisa Mandarin. Jadi kalau misalnya mau masuk klub (UKM) apa gitu.. Ya harus pandai-pandai dikit lah bahasa Mandarin.
Juga, di sana itu jarang banget ada discussion group di kelas jadi memang hampir setiap saat mendengarkan penjelasan dosen.. Kemudian terkait project semester juga mengerjakannya individu dan ga enaknya lagi suka dikabarinnya di ujung2 semester… ini bagian ga enaknya.
Ga tertekan sih, tapi ngerasa kurang seru aja kalau kurang group discussion. Jadi ujung-ujungnya diskusinya ya di dorm sama teman-teman sekamar aja. Untungnya juga teman sekamar suka diskusi juga orang-orangnya.
Kalau masalah project yang mepet-mepet banget itu ya satu-satunya mengatasinya ya dikerjain toh.. Pandai-pandai bagi waktu walau akhirnya akunya juga kewalahan siih..

Bika

Sukanya banyak pengalaman baru, belajar bahasa baru dan lingkungan baru, bisa lihat suatu sistem pendidikan yang baru juga. Belajar etos kerja dari warga Tiongkok. Dan ditambah lagi bisa sekaligus traveling dan melihat dunia Allah dari sisi yang berbeda.

Dukanya keterbatasan dalam berbahasa karena warga Tiongkok begitu menghargai bahasa ibunya jadi kita diwajibkan untuk bisa Mandarin, sedikit yang dapat berbahasa Inggris. Banyak situs yang diblokir termasuk Google dan harus pakai VPN. Semua insyaAllah bisa dilalui dan anggap sebagai challenges.

Nabhan

Di sana itu kita mungkin bakal kaget dengan sistemnya. Bukan dari segi budaya aja, tapi menyeluruh ke semua aspek mulai dari pengajaran, pendidikan, teknologi dan lain-lain… Pertama kali datang ke sana itu senang banget karena kita dapat pengalaman baru berinteraksi dengan masyarakat global. Terus banyak banget peluang bisnis yang bisa diterapkan di Indonesia. Melihat masyarakat dengan teknologi yang berkembang pesat itu mendorong kita untuk terus berkreasi. Untuk dukanya, secara pribadi itu mungkin karena pengaruh sistem belajar dan lingkungan tidak beragama, jadi efeknya kita lebih sering jenuh dan gampang stress.
Merasa tertekan sih pasti dan kadang kita ngerasa mengeluh juga. Untuk mengatasinya sebenernya mudah, tapi kadang kita tuh sulit menjalankan. Sebenarnya cukup bersyukur aja karena di luar sana masih banyak orang yang ingin di posisi kita saat ini, sedangkan kita yang sudah di posisi tersebut malah ga bersyukur. Terus kembali mengingat apa tujuan utama dalam hidup, karena bagi saya menuntut ilmu itu bukan untuk menjadi orang yang pintar, tetapi untuk bisa mengamalkan ilmu yang didapatkan. Semua orang itu pasti ingin sukses dengan segala idealismenya, tapi kita juga ga boleh lupa idealisme Qur’an dan Hadits. Jadi intinya kalau jenuh ya kembali ke Allah terus zikir biar dimudahkan dalam segala urusan menuntut ilmu.

Untuk perkuliahannya sendiri kalau di sana itu kita lebih belajar core pemrograman… Contoh untuk bahasa Java, kita di sana lebih banyak pengaplikasian library bahasanya. Jadi kodingan kita akan lebih pendek dan efektif… Di sana juga kita belajar bagaimana kodingan itu dibaca, disimpan, dan dijalankan di hardware, seperti heap, stack dan lain-lain yang mengolah kodingan kita… Dengan pembelajaran seperti itu, kita tau gimana aplikasi besar bisa berjalan di spesifikasi komputer yang paling rendah

3. Ada cerita pengalaman menarik/berkesan selama di China?

Agung

Pengalaman unik/menarik yang tidak terlupakan itu merasakan musim gugur dan musim dingin, merasakan salju, hahaha

Agung merasakan salju di NXU China

Rizal

Oh iyaaa…. aku pernah ikut klub IoT kan.. nah itu anak-anaknya pada masih ngumpul mengerjakan project sampai malam.. dan kampus memfasilitasi.. Dikasih ruang khusus juga untuk masing-masing klub gitu.. dan dosen pembimbingnya juga ada nemenin sampai malam.. Bahkan waktu itu aku udah pamit dari klubnya jam 10 malam itu anak-anaknya sama dosennya belum ada niatan balik… Kalau di UII sih aku belum pernah ngerasain ikut UKM apa gitu seperti PSC atau Gapoera yang kegiatannya sampai malam banget di lab dan ga tau juga dikasih atau tidak sama UII memakai lab gitu.

Bika

Banyak kegiatan kampus yang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara mahasiswa dan dosen. Mengikuti organisasi eksternal kampus seperti PPI Tiongkok untuk memperluas relasi dan memperbanyak pengalaman.

Nabhan

Kalau pengalaman paling seru sih bareng komunitas photography di sana. Karena kebetulan hobi saya photography jadi suka upload foto di media sosial kampus tentang photography… Nah, kebetulan dari situ dapat kenalan terus diajak kerja bareng jadi photographer di acara-acara.

Nabhan (paling kiri)

4. Pesan untuk mahasiswa mengenai program ini?

Agung

Saya mau memberikan pesan untuk anak-anak Informatika mengenai program ini, yaitu kalau kalian ingin melihat negara lain itu seperti apa, ikut program ini. Kalian bisa mengasah kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi, banyak yang didapat dengan belajar di luar negeri. Jangan takut, jangan menyerah sebelum mencoba, pasti bisa, pasti ada jalan, pasti dimudahkan Allah jika itu ikhlas karena Allah

Rizal

Pesannya sih intinya untuk teman-teman jangan memandang program double degree ini cuma sekedar keren deh kuliah di luar negeri. Tapi harus memandang kalau ikut program ini terbuka kesempatan kita untuk mencari inspirasi-inspirasi baru yang didapat dengan melihat kehidupan orang di luar negeri dan bisa jadi juga inspirasi-inspirasi itu bisa kita kembangkan dan terapkan di Indonesia. Kesempatan kita tambah relasi juga semakin besar, lalu kesempatan untuk eksplorasi ilmu juga makin bsar.. Banyak deh intinya.. Bukan hanya sekedar keren kuliah di luar negeri.

Bika

“fall seven times stand up eight”

Nabhan

Buat teman-teman Informatika, cobalah aktif dalam membuat perubahan dan jadilah bagian dari perubahan tersebut… Belajar di luar negeri itu bukan gengsi yang menjadi tinggi karena bisa kuliah di luar negeri, tapi membuka wawasan untuk mengetahui bagaimana negara seperti China itu bisa berkembang. Dengan begitu, kita bisa mengetahui apa yang kurang dari Indonesia dan bagaimana cara menanggulangi kekurangan tersebut.


Tertarik untuk ikut Program Joint Degree yang dimulai tengah tahun 2019 ini? Silakan baca panduannya di artikel ini.

[Dhis/FR]